Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 68


__ADS_3

qRasa lapar yang Putri rasakan menguap entah kemana, kini hanya ada rasa sedih yang dia rasakan. Bahkan dadanya terasa sesak, dia hanya duduk dengan air mata yang masih menetes di pipinya.


Dia merasa tidak menyangka jika Juki akan membangun tanah yang sudah dia minta, padahal Juki sangat tahu jika dirinya ingin selalu berdekatan dengannya.


Saat asik mendalami kesedihannya, dia mendengar adzan maghrib berkumandang. Putri langsung menegakkan tubuhnya, lalu dia mengusap air matanya.


"Astagfirullah, maafkan aku karena terlalu bersedih," kata Putri.


Setelah mengatakan hal itu, Putri terlihat melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Dia segera melucuti pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Hal itu sengaja dia lakukan agar tubuhnya bisa terasa lebih segar, dia bahkan sengaja berdiri cukup lama di bawah guyuran air shower. Agar pikirannya terasa lebih jernih.


Dia juga berusaha menenangkan dirinya, dia berusaha untuk berpikir positif. Dia berusaha untuk mensugesti dirinya untuk tidak bersedih dan tidak menduga-duga.


Lima belas menit kemudian Putri terlihat keluar dari dalam kamar mandi, dia terlihat lebih segar dan juga lebih tenang. Apalagi setelah melaksanakan shalat maghrib, wajah Putri terlihat lebih ceria.


Tok! Tok! Tok!


Saat Putri sedang duduk mematut dirinya di depan cermin, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Dia segera mengikat rambut panjangnya secara asal, lalu dia poles bibirnya dengan gincu berwarna merah muda.


Setalah itu, Putri langsung bangun dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Dengan malas dia membukakan pintu kamarnya.


Saat pintu kamarnya terbuka dengan sempurna, ternyata di sana ada Juki yang sedang tersenyum hangat kepadanya.


Putri terlihat memaksakan diri untuk tersenyum, walaupun di dalam hatinya masih ada rasa yang entah apa itu, Putri tidak tahu.


"Hai putri kesayangan Baba, cantik banget sih. Pasti baru selesai bedakan, boleh Baba masuk?" tanya Juki.

__ADS_1


Putri tersenyum, dia sangat suka kala Juki berkata seperti itu. Putri seakan masih dianggap seperti anak kecil yang selalu diperhatikan.


"Boleh, Ba. Masuk saja," kata Putri seraya melebarkan pintu kamarnya.


Juki terlihat tersenyum, dia lalu merangkul pundak Putri dan mengajaknya untuk duduk di atas sofa. Putri menurut.


"Ada apa, Ba?" tanya Putri. Putri terlihat menatap wajah Juki dengan lekatm


"Ada yang mau Baba bicarakan, ini penting," kata Juki.


Putri terlihat menghela napas berat, dia sudah menduga jika Juki pasti akan membicarakan masalah tanah yang berada di samping rumahnya.


Putri hanya bisa berharap dalam hati, semoga kabar yang dia dengar adalah kabar yang menyenangkan. Bukan kabar buruk sesuai dengan praduganya.


"Boleh, banget, Ba. Bicara saja," kata Putri dengan senyum terpaksa.


"Kemarin setelah mengantarkan kamu ke kampus, Reon datang ke kantor Baba. Dia membeli tanah yang berada di samping rumah kita," kata Juki.


Putri terlihat kebingungan, dia bahkan terlihat memandang Juki dengan penuh tanda tanda tanya di dalam hatinya.


Maksudnya apa? Reon membeli tanah yang dia inginkan? Untuk apa? Apa Reon sedang merencanakan sesuatu? Segudang tanda tanya muncul di dalam hatinya.


"Reon bilang ingin membuatkan kamu rumah yang sangat kamu inginkan, padahal Baba sudah berkata agar tidak membayar tanah itu. Karena Baba memang akan memberikan tanah itu untuk kamu, tapi--"


Juki terlihat menjeda ucapannya, hal itu membuat Putri semakin penasaran dan ingin segera tahu apa yang sebenarnya Reon rencanakan untuk dirinya.


"Tapi apa?" tanya Putri.


Juki terkekeh mendengar pertanyaan dari Putri, Juki sangat paham jika Putri sudah sangat tidak sabar ingin mendapatkan keterangan yang lebih jelas dari dirinya.

__ADS_1


"Reon berkata jika dia ingin menjadi lelaki yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kamu, kamu tahu? Bahkan Reon membeli tanah Baba dengan harga yang mahal," jawab Juki gamblang.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, Putri merasa tidak percaya dengan apa yang Reon lakukan.


Karena menurutnya itu terlalu berlebihan, atau mungkin itu adalah sesuatu hal yang benar-benar membuat dirinya merasa sangat bahagia.


Karena itu artinya, sebentar lagi Putri akan mendapatkan rumah impiannya. Putri akan mendapatkan rumah masa depannya dengan Reon dan anak-anaknya kelak.


"Masa sih, Ba?" tanya Putri tidak percaya.


"Ya, dia ingin mengawali semuanya dengan tanggung jawab dari Reon sendiri, tanpa campur tangan dari orang lain termasuk Baba dan kedua orang tuanya," kata Juki.


Hati Putri langsung terenyuh mendengar apayang dikatakan oleh Juki, itu artinya Reon benar-benar serius ingin menikahinya dan berumah tangga dengannya.


"Oohh, dia baik sekali," kata Putri.


"Baba setuju, dia memang lelaki yang baik. Setidaknya Baba akan merasa tenang kalau memang kalian berjodoh," kata Juki.


Putri merasa terharu dengan apa yang dia dengar dari babanya, dia tidak menyangka jika Reon yang mempersiapkan semuanya untuk dirinya. Persiapan yang sangat baik menurutnya.


Sebenarnya alasan Reon membeli tanah milik Juki bukan karena itu, Reon sangat paham jika Putri adalah anak bawaan dari Jesicca.


Itu tandanya jika Putri tidak berhak mendapatkan warisan dari Juki, kecuali dia mendapatkan hibah dari bapak sambungnya tersebut.


Maka dari itu, untuk menjaga kedepannya tidak ada perdebatan antara Putri dan juga Ansel dan juga Alex, Reon sengaja membeli tanah tersebut.


****


Selamat siang Bestie, jangan lupa tinggalkan koment dan juga likenya sebelum baca bab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2