Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Salah Sangka


__ADS_3

Angga terlihat memarkirkan mobilnya, kemudian dia langsung merogoh saku celananya, mengambil kunci dan membuka pintu Cafe.


Setelah pintu terbuka, Angga langsung masuk ke dalam Cafe tersebut disusul para karyawan yang memang sudah menunggu kedatangan Angga.


Begitu pun dengan Michele dan juga bi Narti, mereka nampak masuk untuk mulai melakukan tugas masing-masing.


Angga langsung masuk ke dapur karena tadi malam dia sudah melihat-lihat resep kue kekinian di internet, Angga ingin segera membuatnya.


Dia berharap, menu kue baru yang dia buat akan menjadi menu favorit di Cafe tersebut.


Bi Narti nampk membantu Angga dengan mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan, Michele pun tak mau ketinggalan, dia langsung memakai celemek dan menghampiri bi Narti.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Michele.


"Ambillah beberapa tempat untuk menyiapkan bahan," kata Bi Narti.


Setelah menanyakan di mana letak tempat yang diperlukan untuk menempati bahan, Michele nampak mengambilnya dan meletakkannya di atas meja dekat Angga.


"Terima kasih," jawab Angga.


Mendengar Angga mengucapkan terima kasih kepadanya, Michele nampak tersipu. Tangannya bahkan terlihat memilin ujung celemek yang dia pakai.


"Duduklah, aku akan mencoba membuat kue dengan resep baru," kata Angga.


"Eh? Memangnya kamu ingin membuat kue apa?" tanya Michele.


Angga mengambil ponselnya dan memperlihatkan gambar foto kue kekinian yang sedang laku di kalangan anak muda.


"Ish, kalau ini aku bisa bikin. Aku selalu membuat kue ini bersama Nany," ucap Michele.


Michele nampak mengambil alih bahan-bahan yang sudah disiapkan oleh bi Narti, dia menakar dan mulai memasukannya ke dalam wadah.


Angga tersenyum melihat wanita cerewet dan membuatnya darah tinggi itu, kemudian dia duduk dan membiarkan Michele mengerjakan apa yang dia inginkan.


Angga nampak memangku wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia memperhatikan wajah Michele yang nampk serius saat menggunakan mesin mixer.


'Dia manis juga kalau sedang serius seperti itu, sayangnya bar-bar dan cerewet. Kupingku sampai sakit mendengar ocehannya,' kata Angga dalam hati.


"Mas! Kakak! Hey! Kenapa melamun terus?" tanya Michele yang ternyata sudah duduk tepat di depan Angga.


Angga yang sedang asik melamun langsung tertarik ke dalam dunia nyata.


"Ah, tidak apa-apa. Apa kuenya sudah jadi?" tanya Angga.


Michele tersenyum lalu menunjuk oven dengan dagunya.


"Lima belas menit lagi," kata Michele.

__ADS_1


Dia mengangkat tangannya dan menunjukkan lima jarinya.


"Baiklah, selama menunggu kuenya matang. Aku akan merapikan bekas--"


Angga terlihat menatap meja yang terlihat berantakan akibat ulah Michele, dia terlihat menghela napas panjang dan segera merapihkan semuanya.


Beberapa karyawan yang ada di sana hanya saling tatap lalu mereka tersenyum, mereka tak berani berkomentar apa pun.


Apa lagi Angga merupakan orang kepercayaan Larasati, dia tegas, berwibawa namun baik hati. Banyak karyawan yang segan terhadap Angga.


🌹🌹🌹


Di lain tempat.


Jonathan terlihat sedang mengendarai mobilnya, Larasati duduk anteng sambil memangku Satria di samping Jonathan.


Jonathan sengaja mengendarai mobilnya dengan perlahan, agar dia bisa memperhatikan jalanan sekitar.


Siapa tahu dia menemukan Mini, keponakan cantiknya yang kabur karena tak mau dijodohkan.


Saat sedang asyik menyetir, tiba-tiba saja ponsel milik Jonathan berdering.


"Yang, tolong ambilkan ponselku," ucap Jonathan seraya melirik saku celananya dengan ekor matanya.


Melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Jonathan, Larasati terlihat bergidig.


"Ish! Engga mau ah," ucap Larasati.


"Susah, Yang. Aku lagi nyetir ini, tolonglah," ucap Jonathan memelas.


Dengan terpaksa akhirnya Larasati pun menuruti keinginan Jonathan. Dia mengambil ponsel milik Jonathan dari saku celananya dengan sangat hati-hati.


Jonathan bahkan sampai tertawa melihat tingkah Larasati.


"Om Hendry," ucap Larasati ketika melihat layar ponsel milik Jonathan.


Jonathan mengulas senyum, kemudian dia kembali berkata


"Tolong angkat, Yang," ucap Jonathan.


Larasati menurut, dia pun mengangkat panggilan dari Om Hendry. Lalu dia menekan tombol loudspeaker.


"Assalamualaikum, Jo. Kamu di mana?" tanya Om Hendry setelah panggilan tersambung.


"Walaikum salam. Di jalan, Om. Lagi nyari Mini," jawab Jonathan.


"Sepertinya kamu tidak usah mencari Mini lagi, karena anak buah Om sudah menemukan tempat di mana Mini berada. Sekarang Om akan langsung ke sana," kata Om Hendry.

__ADS_1


Mendengar ucapan om Hendry, dahi Jonathan terlihat berkerut dalam, lalu dia pun bertanya.


"Memangnya Om, di mana?" tanya Jonathan.


"Setengah jam yang lalu Om baru saja tiba di bandara dan sekarang Om sedang menuju tempat yang sudah dikirimkan oleh anak buah Om. Nanti kamu menyusul, ya? Om akan serlok tempatnya," kata Om Hendry.


"Siap, Om," jawab Jonathan.


Percakapan antara Om Hendry dan Jonathan pun berakhir, lalu Larasati terlihat mengakhiri panggilan tersebut.


"Karena Mini sudah ketemu, bagaimana kalau kita duduk dulu di sana?" ucap Jonathan.


Larasati melihat arah yang ditunjuk oleh Jonathan, ternyata dia menunjukkan kedai es kelapa yang berada di pinggir jalan.


"Boleh, Jo. Kebetulan aku sangat haus," ucap Larasati.


"Aku juga mau,'' cap Satria menimpali.


Jonathan tertawa, lalu dia mengacak pelan rambut Satria.


"Baiklah, kita turun dan melepas rasa lelah dan haus," kata Jonathan.


Jonathan lalu menepikan mobilnya, kemudian mereka bertiga turun dari mobil dan memesan es kelapa tersebut.


Saat sedang asyik menikmati es kelapa, ponsel milik Jonathan terdengar berdenting. Jonathan dengan cepat mengambil ponselnya, ternyata ada satu pesan chat dari om Hendry.


Saat Jonathan membuka pesan chat tersebut, ternyata om Hendry mengirimkan sherlock tempat Mini berada.


Dahi Jonathan nampak berkerut, kala melihat lokasi yang dikirimkan oleh om Hendry.


"Kenapa, Jo?" tanya Larasati.


"Lihat deh, Yang." Jonathan memberikan ponselnya.


"Aduh, kenapa firasatku jadi tidak enak. Ayo, Jo," kata Larasati.


Jonathan menurut, dia membayar es kelapa muda yang telah dia minum bersama dengan Larasati dan juga Satria.


Kemudian, dia pun langsung pergi menuju lokasi di mana tempat om Hendry berada. Lima belas menit kemudian, Jonathan nampak memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam tempat tersebut.


Alangkah kagetnya Jonathan dan juga Larasati saat melihat om Hendry sedang memukul Angga, bahkan wajahnya nampak bengkak dengan bibir yang sudah sobek dan berdarah.


Larasati dan juga Jonathan melihat Mini yang tengah memberontak, karena tangannya dicekal oleh dua bodyguard om Hendry.


"Daddy! Jangan, Dad. Dia tidak bersalah, dia justru yang nolongin aku. Huhuhu, Daddy jahat!" Mini nampak berteriak dengan air mata yang telah berurai.


"Dasar lelaki tak tahu diri, berani-beraninya membawa kabur anak gadis orang!" teriak Om Hendry.

__ADS_1


Kembali dia memukul Angga dengan beringas, bi Narti nampak menangis. Dia meronta ingin membantu putranya, sayangnya tangannya dicekal oleh bodyguard om Hendry.


"Hentikan Om!" Teriak Jonathan.


__ADS_2