Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Berkah Atau Musibah


__ADS_3

Awalnya Larasati dan juga Jonathan saling menautkan bibir mereka dengan lembut dan penuh kasih, lama-kelamaan tautan bibir itu berubah menjadi liar dan panas.


Bahkan Larasati tidak sadar jika kini dia sudah duduk di atas pangkuan Jonathan, suaminya. Dia menunduk sambil mencengkram kuat pundak suaminya.


Tangan kanan Jonathan bahkan terlihat meremat bokong istrinya, sedangkan tangan kirinya terlihat mengelus paha Larasati.


"Ehm!"


Sebuah deheman cukup keras membuat Larasati dan Jonathan kaget, mereka dengan cepat melepaskan tautan bibir yang sedang mereka nikmati.


Larasati bahkan segera bangun dari pangkuan Jonathan dan duduk tepat di samping suami tersebut.


Larasati dan Jonathan terlihat melirik ke arah pintu, ternyata di sana ada tuan Elias yang sedang berdiri sambil menatap Larasati dan Jonathan secara bergantian.


Merasa malu karena tertangkap basah sedang bermesraan, Larasati dan Jonathan hanya menunduk seraya meremat kedua tangan mereka secara bergantian.


Melihat akan hal itu, tuan Elias tampak tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dia sangat tahu jika anak dan menantunya tersebut belum lama menikah, wajar jika mereka sedang ingin merasakan nikmatnya memadu kasih mau di manapun dan kapanpun.


Tuan Elias terlihat melangkahkan kakinya menuju meja makan, kemudian dia duduk tepat di samping Larasati.


Lalu, dia mengelus lembut puncak kepala putrinya tersebut dan memberikan kecupan hangat di kening Larasati.


Tatapan mata tuan Elias menangkap sepiring nasi lengkap dengan telur ceplok di atasnya, dia jadi bertanya-tanya. Siapa yang sedang lapar menjelang waktu subuh seperti ini?


"Kamu lapar, Sayang?" tanya Tuan Elias.


"Yes, Dad. Perutku terasa sangat kosong, padahal sebelum tidur sudah makan," adu Larasati.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Larasati, tuan Elias nampak tersenyum. Dia jadi berpikir, mungkin akan lebih baik jika dirinya yang menyuapi putrinya tersebut.


"Ya sudah, kalau kamu lapar biar Dad yang suapin. Kasihan Jo masih mengantuk," kata Tuan Elias.


"Tidak apa-apa, Dad. Biar Jo saja yang menyuapi," kata Jonathan.


"Tidak perlu, Jo. Kamu tidurlah sebentar, lumayan masih ada 1 jam menuju waktu subuh. Nanti Dad bangunkan jika adzan sudah berkumandang," kata Tuan Elias.


Mendengar perkataan dari mertuanya, Jonathan langsung tersenyum. Karena mertuanya itu benar-benar perhatian, pikirnya.


"Baiklah, kalau begitu Jo pamit. Mau ke kamar, mau tidur," kata Jonathan.


"Ya, pergilah!" kata Tuan Elias.


Jonathan terlihat mengecup kening istrinya, setelah itu dia pergi meninggalkan Larasati untuk tidur kembali.


Selepas kepergian Jonathan, tuan Elias langsung menyuapi Larasati dengan telaten. Awalnya Larasati tidak mau memakan nasi, dia hanya ingin makan telornya saja.


Namun, tuan Elias bersikukuh agar Larasati mau memakan telur tersebut bersama dengan nasinya.

__ADS_1


Karena tuan Elias sudah bisa menebak jika putrinya pasti akan tidur lagi setelah salat subuh nanti.


Tuan Elias bahkan berani bertaruh, jika putrinya pasti akan bangun siang karena dia bisa melihat jika Larasati terlihat begitu kelelahan.


Sudah dapat dipastikan apa itu penyebabnya, karena tuan Elias juga pernah merasakan muda dan menjadi pengantin baru seperti putri semata wayangnya itu.


Tuan Elias tersenyum saat melihat lingkar hitam di bawah mata putrinya, kemudian dia berkata di dalam hatinya.


'Pasti putri dan menantuku telah berjuang keras untuk memberikan cucu untukku, semoga cepat jadi.'


"Habiskan, Sayang." Tuan Elias kembali menyodorkan sendok berisi nasi dan juga telor ceplok buatan Jonathan.


"Yes, Dad," kata Larasati.


Selepas makan, Larasati dan juga tuan Elias nampak bercengkrama. Tak lama kemudian adzan subuh tampak berkumandang, mereka semua memutuskan untuk shalat berjamaah di mushola keluarga.


Tak lupa, Larasati juga membangunkan Jonathan sebelum dia melaksanakan ritual mandinya.


Benar saja sesuai dengan apa yang diperkirakan oleh tuan Elias, selepas salat subuh Larasati dan Jonathan terlihat tidur kembali.


Bahkan sampai jam 11 siang, mereka belum juga terbangun dari tidurnya. Padahal matahari sudah sangat terik sekali, namun berkat bantuan alat pendingin ruangan membuat kedua makhluk ciptaan tuhan itu masih terlelap dalam tidurnya.


Mereka terlihat saling memeluk dan menyalurkan kasih sayang, mereka benar-benar terlihat bahagia.


Satria bahkan ingin sekali bermain dengan daddy Jo dan juga bundanya tersebut, namun saat dia masuk ke dalam kamar Larasati, Satria merasa tidak tega untuk membangunkan bundanya tersebut.


Karena bundanya terlihat sangat pulas sekali dalam tidurnya, akhirnya Satria mengalah. Dia kembali menemui tuan Elias dan meminta tuan Elias untuk menemani dirinya bermain di ruang khusus yang tuan Elias ciptakan untuk Satria.


Di lain tempat.


Juki terlihat sedang memijat kaki sang Ibu, hal itu dia lakukan karena dia sedang santai di hari liburnya.


Jesicca sengaja dia suruh libur, karena ada dirinya yang menjaga ibunya di hari libur. Namun, tetap saja dia merasa rindu dengan Putri.


Padahal tadi pagi selepas subuh dia sudah bertemu dengan baby lucu itu, tetap saja dia rindu.


Bahkan Juki belum lama menyambangi kamar kostnya Jesicca, sayangnya Putri nampak terlelap dalam tidurnya.


Dia sepertinya sangat kelelahan karena subuh sudah terbangun dan bermain dengan boneka Hello kitty yang dia berikan.


"Juki, kenapa dari tadi malah melamun?" tanya Bu sari.


"Pengen ketemu Putri, Bu," jawab Juki.


"Ketemu Putri apa Ibunya?" tanya Bu Sari.


"Bu! Aku ingin ketemu Putri, tiap kali melihat wajahnya. Aku jadi teringat akan putriku," kata Juki dengan wajah sendunya.


"Ya sudah, sekarang bersiaplah untuk shalat dzuhur. Setelah itu, kamu temui Putri. Siapa tahu dia sudah bangun dari tidurnya," kata Bu Sari.

__ADS_1


"Beneran boleh, Bu?" tanya Juki.


"Boleh, Sayang. Mau nikahin Ibunya Putri sekarang juga ibu jabanin," kata Bu Sari.


"Ibu!" keluh Juki.


"Iya, iya," kata Bu Sari seraya tertawa.


*/*


Selepas shalat dzuhur, Juki langsung melangkahkan kakinya menuju kamar kostan Jesicca.


Tiba di depan kamar Jesicca, samar-samar Juki mendengar tangisan Putri. Juki yang panik langsung membuka pintu kamar kostan Jesicca.


Saat pintu terbuka, dia melihat Putri yang terbangun dari tidurnya. Dia nampak mengucek matanya sambil mencari Ibunya.


"Mamama, mamama." Putri merengek, air matanya nampak merembes.


Juki yang tak tega langsung menghampiri Putri dan membawanya ke dalam gendongannya. Dia elus punggung Putri dengan lembut dan dia kecup keningnya.


"Cup, cup, cup, Sayang. Jangan nangis ya, Sayang." Dia elus kembali punggung Putri.


Juki terlihat mengedarkan pandangannya, dia mencari sosok Ibu dari Putri, namun dia tak menemukannya.


"Ck! Dia kemana sih? Putri nangis kok, dia malah ngga ada!" kesal Juki.


Ceklek!


Pintu kamar mandi nampak terbuka, muncullah sosok wanita yang sedari tadi Juki cari. Jesicca nampak keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk sebatas dada.


Mata Juki langsung terbelalak, dia begitu kaget saat melihat tubuh Jesicca yang hanya dibalut handuk saja. Begitupun dengan Jesicca, dia terlihat begitu kaget kala melihat Juki yang berada di dalam kamar kostannya.


"Ma--Mas Juki ngapain di sini?" tanya Jesicca seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"I--itu, anu. Putri tadi nangis, jadinya saya masuk. Maaf," kata Juki dengan tataan mata yang tak lepas dari tubuh Jesicca.


"Ya sudah, Mas Juki keluar dulu. Saya mau pake baju," kata Jesicca.


Juki terlihat menganggukan kepalanya, dia hendak keluar dari kamar kostan milik Jesicca. Namun, baru saja dia melangkah, Putri terlihat menangis.


Dia langsung menggoyang-goyangkan tubuhnya seraya menangis saat melihat Jesicca. Putri seolah meminta Jesicca untuk menggendongnya.


Mau tidak mau Juki menghampiri Jesicca dan menyerahkan Putri kepadanya, jantungnya benar-benar terasa berdetak tidak karuan saat melihat benda padat yang terlihat separuhnya tertutup handuk itu.


BERSAMBUNG....


*


*

__ADS_1


Selamat malam, satu bab untuk menemani kaleyan sebelum tidur.


__ADS_2