
"Aku dibantu sama Mbak Laras," jawab Jesicca.
"La--laras?"
"Ya," jawab Jesicca.
Yudha nampak terdiam setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Jesicca, dia tidak menyangka jika mantan istri pertamanya itu mau membantu Jesicca di saat kesusahan.
Bahkan kesusahan yang Jesicca rasakan adalah ulah dari dirinya, Yudha memang sangat tahu jika Larasati adalah orang yang penyayang dan juga tidak tegaan.
Namun, dia tidak menyangka jika Larasati mau membantu wanita yang pernah menjadi selingkuhannya.
Wanita yang pernah dia lihat saat bercinta dengan suaminya sendiri di depan matanya, bahkan Yudha sangat ingat jika Larasati mendengar apa yang di katakan oleh dirinya dan juga Jesicca.
"Bagaimana bisa?" tanya Yudha.
"Ceritanya panjang, Mas. Saat itu--"
Jesicca langsung menceritakan semua hal yang menimpa dirinya kala itu, tanpa ada satu hal yang ditutup-tutupi.
Bahkan saat dia pergi ke kampung dan berniat memulai hidup barunya bersama bi Minah pun dia ceritakan, apa yang menimpanya selama di kampung bi Minah juga dia bicarakan.
Yudha terdiam saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, karena ternyata Larasati benar-benar berhati malaikat.
"Maaf," kata Yudha pada akhirnya.
"Aku sudah mengatakan jika aku memaafkan kamu, Mas. Yang Lalu biarlah berlalu, sekarang kita harus membuka lembaran yang baru," kata Jesicca.
"Ya, aku setuju," jawab Yudha lemah.
Sebenarnya hatinya sangat kecewa karena ternyata Jesicca malah mengalami trauma terhadap lelaki, namun dia juga tidak bisa menyalahkan Jesicca.
Karena itu semua karena ulah dirinya, Jesicca tidak akan mungkin mengalami hal buruk jika bukan karena ulahnya.
Namun, dia berjanji dalam hati jika dia akan berusaha menjadi sosok pria yang lebih baik. Terutama, ayah yang baik untuk Putri.
"Ehm, Mas. Aku tidak enak hati dengan bu Sari, bisakah kamu mengatakan talak sekarang? Aku tidak ingin ada beban di hati," pinta Jesicca.
"Ya, Yentu." Yudha terlihat menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan.
Melihat akan hal itu, Jesicca tersenyum kecut. Karena sebentar lagi dia akan mendapatkan talak dari Yudha.
Bukannya tak rela menjadi janda, namun dia merasa lucu dengan takdir kehidupan yang dia terima saat ini.
"Jesicca Anastasaya, saya talak engkau. Mulai hari ini, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi, walaupun begitu, izinkan saya untuk bisa bertemu dengan Putri," kata Yudha.
"Iya, Mas. Terima kasih.
Jesicca akhirnya bisa bernapas dengan lega, karena dia sudah tidak terikat lagi dengan Yudha.
Ya, walaupun dia sangat tahu jika menurut hukum agama dia sudah bercerai dengan Yudha, namun dia tetap ingin mendengarkan kata talak dari mulut Yudha sendiri.
Setelah obrolan yang cukup panjang antara Yudha dan juga Jesicca selesai, akhirnya Jesicca memutuskan untuk segera pulang ke kediaman bu Sari.
Dia tak enak hati terhadap wanita paruh baya yang begitu baik terhadap dirinya tersebut, saat bu Sari hendak pulang, Yudha menyerahkan Putri kepada bu Sari.
Dengan senang hati Ibu Sari mendudukkan Putri di atas pangkuannya, sedangkan Jesicca tampak mendorong kursi roda yang diduduki oleh bu Sari.
Tiba di kediaman bu Sari, bu Sari minta diantarkan ke dalam kamarnya. Karena dia berkata jika dia merasa sangat lelah dan ingin merebahkan tubuhnya.
"Tolong bantu saya," kata Bu Sari.
Dengan sigap Jesicca langsung membantu bu Sari untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Setelah membantu bu Sari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Jesicca memutuskan untuk mengajak Putri bermain di ruang keluarga.
Karena memang kamar bu Sari tepat di dekat ruang keluarga, hal itu sengaja dilakukan agar bisa memantau pergerakan bu Sari.
"Istirahatlah, Bu. Saya ada di ruang kelurga, kalau ada perlu apa-apa, panggil nama saya.
"Ya," jawan Bu Sari.
Setelah melihat bu Sari nyaman dalam posisi rebahannya, Jesicca memutuskan keluar dari kamar tersebut.
Kemudian, dia menurunkan Putri agar bebas bermain di atas karpet yang ada di ruang keluarga tersebut.
Baru saja Jessica bermain dengan putrinya, tiba-tiba saja bel rumah bu Sari terdengar sangat nyaring.
Jesicca langsung menggendong Putri dan segera berjalan menuju halaman rumah.
Tiba di depan gerbang, dia melihat seorang kurir yang membawa boneka Hello Kitty berukuran sangat besar. Bahkan boneka Hello Kitty tersebut terlihat lebih besar dari tubuhnya sendiri.
"Maaf, Pak. Bapak siapa ya?" tanya Jesicca.
"Oh, saya kurir, Nyonya. Saya mau mengantarkan boneka Hello Kitty pesanan dari Tuan Julian Uzi Kiandra," jawab kurir tersebut.
__ADS_1
Untuk sesaat Jesicca tampak terdiam, karena dia tidak mengenal nama tersebut.
"Untuk siapa bonekanya?" tanya Jesicca.
"Untuk Nona Putri," jawab kurir tersebut.
Jesicca kembali terdiam, mungkin ada salah satu penghuni kost yang bernama Putri pikirnya.
"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya tanyain dulu sama orang yang ada di sini, karena saya tidak mengenal nama dari yang Bapak sebutkan tadi," kata Jesicca.
"Ya, Saya akan menunggu," kata kurir tersebut.
Jesicca terlihat menghampiri kost-kostan yang berada tepat di sebelah rumah bu Sari, ternyata suasana kostan sangat sepi.
Karena memang semuanya sedang bekerja, karena rata-rata yang ngekost di tempat bu Sari adalah wanita lajang yang bekerja di kantor atau anak kuliahan.
Jesicca pun bingung, karena tidak ada satupun penghuni kosan di sana. Akhirnya dia pun memutuskan untuk menghampiri kurir tersebut.
"Maaf, Pak. Tapi semua penghuni kostan sedang bekerja," jawabnya.
"Tapi ini bener kok, Nyonya. Tuan Julian sendiri yang memesannya, katanya tolong diberikan kepada Nona Putri," kata kurir tersebut.
Untuk sesaat Jesicca terdiam, mungkin dia harus bertanya kepada bu Sari, pikirnya.
"Sebentar ya, Pak. Kalau begitu saya tanya ibu dulu," kata Jesicca.
Akhirnya Jesicca memutuskan untuk menemui Ibu Sari, Jesicca terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar bu Sari. Tiba di depan kamar bu Sari, Jesicca langsung mengetuk pintu tersebut.
"Masuk!" teriak Bu Sari.
Setelah mendapatkan sahutan, Jessica mendorong pelan pintu kamar bu Sari.
"Ada apa, Jesicca?" tanya Bu Sari.
"Itu, Bu. Anu ada kurir yang mengantarkan boneka besar, katanya buat buat Non Putri. Tapi saya tidak mengenal orang itu, Bu. Apa Ibu mengenalnya?" tanya Jesicca.
"Setahu saya yang ngekost di sini tidak ada yang bernama Putri," jawab Bu Sari.
"Tapi kata kurirnya, pemesannya meminta untuk diantar ke sini Bu," jawab Jesicca.
"Memangnya siapa nama pemesan bonekanya?" tanya Bu Sari.
"Namanya kalau tidak salah Julian Uzi Kianadra," jawab Jesicca.
"Sayang, bonekanya kamu yang beli?"
"---------"
"Oh, kapan kamu membelinya?"
"-----------"
"Ya, nanti ibu berikan. Hati-hati," kata Bu Sari seraya mematikan ponselnya.
Jesicca masih terdiam, dia sedang menunggu apa yang akan dikatakan oleh bu Sari terhadap dirinya.
"Tolong bawa bonekanya kemari," kata Bu Sari.
"Iya, Bu," jawab Jesicca.
*
*
**Bersambung....
Bocoran yang baru, tapi upnya ngga di sini ya kesayangan**.
Bab1 -> Janda Itu Mengalihkan Duniaku
Seorang wanita berparas cantik sedang duduk di atas kursi roda, dia terlihat menggenggam tespek dengan garis dua berwarna merah di tangannya.
Binar bahagia begitu terlihat di matanya, bibirnya bahkan tidak berhenti mengembangkan senyuman.
Hatinya senang bukan main, karena setelah dua tahun menikah akhirnya dia bisa hamil juga. Dia kini sedang mengandung buah cintanya dengan suaminya tercinta, Imam.
Sore ini dia sengaja menunggu suaminya di ruang tamu , dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia tersebut kepada suaminya.
"Terima kasih, Tuhan. Karena kini di dalam rahimku ada nyawa yang sedang berkembang. Semoga mas Imam senang mendapatkan kabar kehamilanku ini," ucap Liana seraya tersenyum dengan tangan yang tiada henti mengelus lembut perutnya.
Tak lama kemudian, Liana melihat suaminya masuk ke dalam ruang tamu dengan raut wajah yang kusut. Di tangannya terselip map berwarna coklat, entah apa itu, Liana tak tahu.
Dalam hati Liana bertanya-tanya, bukankah empat bulan yang lalu suaminya baru saja diangkat sebagai manajer di sebuah perusahaan ternama? Lalu, kenapa raut wajah suaminya terlihat begitu kusut?
"Mas, kamu kenapa? Kenapa wajah kamu kusut begitu?" tanya Liana dengan nada kahawatir.
__ADS_1
Imam menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, dia seolah tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya.
"Aku lelah, aku cape." Imam nampak duduk di salah satu sofa yang berada di ruang tamu.
Dia terlihat menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, matanya terlihat menatap langit-langit ruang tamu tersebut.
"Beristirahatlah dulu, Mas. Kalau memang kamu capek, aku akan membuatkan teh hangat untukmu," ucap Liana.
Niat hati ingin memberitahukan kehamilannya dia tunda, tespek yang sudah dia pegang sedari tadi dia masukkan ke dalam saku celananya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya, Imam nampak menegakkan tubuhnya. Kemudian, dia pun menatap Liana dengan tatapan tajamnya.
"Aku lelah dan capek berumah tangga denganmu, Liana! Bukan karena pekerjaanku, kamu tahu sekarang aku sudah menjadi manajer. Aku malu mempunyai istri lumpuh sepertimu," kata Imam.
Imam terlihat menghela napas berat, kemudian dia pun melanjutkan ucapannya.
"Kamu tahu? Saat kamu mengalami kecelakaan, awalnya aku masih bisa bersabar menghadapimu. Namun, lama-kelamaan aku bosan. Aku capek, aku lelah. Aku ingin mempunyai istri yang normal, kamu memang bisa memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri. Namun, kamu tidak bisa bergerak. Kamu hanya diam saja, aku bosan kepadamu," tutur Imam.
Bak disambar petir di siang bolong, hati Liana sakit bukan main. Namun, dia berusaha untuk tegar. Dia berusaha mengatur napasnya, dia tidak mau jika baby yang berada di dalam kandungannya akan terkena imbasnya.
"Maksud, Mas, apa? Apa kamu malu mempunyai istri sepertiku? Kamu bosan terhadapku?" tanya Liana.
Imam bangun dan menghampiri Liana, dia melemparkan map berwarna coklat yang sedari tadi dia pegang ke atas pangkuan Liana.
"Bukalah!" Imam berucap dengan nada penuh perintah.
Liana tersentak dengan perkataan Imam, dia tidak menyangka jika Imam akan bersikap dan berkata kasar terhadap dirinya.
Walapun hatinya teramat sakit Leana menurut, dengan tangan gemetar dia membuka map berwarna coklat tersebut. Dia buka lembar kertas yang ada di dalam map tersebut, tak lama kemudian, air mata Liana nampak luruh.
"Cerai? Kamu ingin kita bercerai, Mas?" tanya Liana lirih.
Dia benar-benar tidak menyangka jika suaminya akan menggugat cerai dirinya, dia terlihat menengadahkan wajahnya. Dia berharap jika air matanya akan berhenti turun.
Sayangnya usahanya sia-sia, karena air matanya tetap saja mengalir dengan deras. Bahkan setelah dia menyeka air matanya berulang kali, tetap saja dengan tidak tahu dirinya buliran bening itu terus saja merembes.
"Ya, aku ingin kita bercerai. Sudah ada wanita yang pantas untuk aku nikahi, dia lebih sempurna dari kamu. Dia bisa melayani aku dengan baik, lebih baik dari dirimu." Setelah mengatakan hal itu, Imam nampak berlalu dari hadapan Liana.
Dia seolah tidak ingin mendengarkan apa pun lagi dari bibir wanita yang sudah dia nikahi selama dua tahun itu.
Imam segera masuk ke dalam kamar utama, kamar yang selama ini ditempati oleh Liana dan juga Imam. Dia ingin segera melakukan ritual mandinya, karena dia sudah sangat lelah dan juga letih setelah seharian bekerja.
Tentunya dia juga sudah lelah, karena telah melakukan hubungan terlarangnya dengan wanita yang sudah tiga bulan ini menjadi selingkuhannya.
Sepeninggal Imam, Liana terlihat mengusap air matanya. Dia mencoba tersenyum dan berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Siapa wanita itu, Mas?" tanya Liana lirih.
Setelah merasa lebih tenang, dia segera masuk kedalam kamar utama dengan cara mendorong kursi rodanya.
Liana ingin mencoba membicarakannya lagi dengan Imam, dia masih berharap jika Imam masih bisa merubah keputusannya
Saat dia masuk kedalam kamar utama, dia melihat Imam yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia terlihat lebih segar dan lebih tampan dengan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
"Mas, kamu tidak benar-benar mau menceraikan aku, kan?" tanya Liana.
Netra Liana menatap wajah suaminya dengan lekat, sayanganya lelaki yang begitu dia cintai itu seolah tidak ingin menatapnya.
"Maaf, tapi itu sudah keputusan final. Aku ingin kita bercerai, aku sudah mempunyai wanita lain yang bisa membuat aku bahagia dan membuat aku tidak merasa malu jika diajak berkumpul dan pergi nanti," ucap Imam seraya memandang remeh Liana.
Liana terlihat menghela napas dalam, lalu dia mengeluarkannya dengan perlahan. Dia mencoba mengatur emosinya, dia berusaha agar bisa tenang di hadapan suaminya.
"Baiklah, Mas. Jika itu yang kamu inginkan, aku harap kamu tidak akan menyesal." Liana mengusap air matanya.
Mendengar ucapan Liana, Imam tersenyum lebar. Lalu, dengan cepat dia menyahuti ucapan istrinya.
"Tidak akan pernah! Sekarang tanda tangani saja surat gugatan cerainya, untuk sementara waktu kamu boleh tinggal di rumahku. Aku akan tinggal di apartemen milik kekasihku, jika nanti surat cerainya sudah turun, pergilah yang jauh," kata Imam.
"Iya, Mas," jawab Liana berusaha untuk tegar.
Imam tersenyum mendengar jawaban dari Liana dia lalu mengambil baju dari dalam lemari dan memakainya.
"Ehm, Mas. Aku minta bolpoinnya," pinta Liana.
"Merepotkan!" keluh Imam seraya berjalan untuk mengambil bolpoin, lalu setelahnya dia memberikan bolpoin itu kepada Liana.
Liana nampak menerima bolpoin dari tangan suaminya dan langsung menandatangani surat gugatan cerai tersebut.
"Bagus!" kata Imam seraya mengambil surat gugatan cerai yang ada di pangkuan Liana.
Setelah itu, Imam nampak melangkahkan kakinya keluar dari kamar utama. Saat dia hendak menutup pintu kamar, Liana kembali memanggil Imam.
"Mas, kamu belum mengatakan talak," ucap Liana.
Imam tersenyum menyeringai kemudian dia menghampiri Liana, wanita cantik yang kini masih setia duduk di atas kursi rodanya.
__ADS_1