Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Siapa Pria Itu?


__ADS_3

Angga terlihat begitu asyik mengobrol dengan Yudha, mereka terlihat begitu akrab berbicara tentang Satria dan juga karya lukisan yang Yudha buat.


Sebenarnya Angga ingin segera pulang, namun melihat wajah Yudha yang begitu pucat dan tubuhnya yang kini terlihat kurus kering, dia merasa Iba. Menurutnya, menemani Yudha mengobrol sebentar tidak ada salahnya.


Melihat keakraban antara Yudha dan Angga, membuat Mini merasa tidak nyaman. Dia merasa tidak bisa mengimbangi obrolan antara kedua lelaki tersebut.


Pada akhirnya Mini memutuskan untuk berkeliling di taman tersebut, sembari menunggu Angga yang tengah mengobrol dengan Yudha.


"Mas, aku ke sana, ya?" pamit Mini pada Angga.


Angga terlihat memalingkan wajahnya untuk menatap Mini, lalu dia menganggukkan kepalanya.


"Iya, jangan terlalu jauh," kata Angga.


Mini tersipu malu mendengar apa yang dikatakan oleh Angga, dia merasa jika Angga sangat perhatian terhadap dirinya.


"So sweet," kata Mini seraya menangkup kedua pipinya dengan telapak tangannya.


Dia menganggap jika Angga begitu peduli kepadanya, makanya dia melarang Mini untuk pergi jauh.


Angga terkekeh melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh


"Jangan geer, aku hanya malas mencari kamu," jawab Angga.


Mendengar ucapan Angga, Mini yang awalnya merasa terbang ke awang-awang terasa dihempaskan jatuh ke atas tanah.


"Mas Angga nyebelin!" kata Mini seraya berlalu.


Melihat perdebatan antara Angga dan juga Mini, Yudha langsung tertawa. Kemudian, dia menepuk pundak Angga.


"Jangan pernah menyia-nyiakan wanita seperti dia, karena biasanya wanita seperti itu akan sangat setia dan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk kita para pria. Jangan pernah menyakiti wanita yang mencintai kita, seperti aku," ucap Yudha seraya tertunduk.


Yudha benar-benar merasa bersalah terhadap Larasati, Yudha juga benar-benar merasa bersalah terhadap Jesicca. Karena sudah menelantarkan dan menyakiti kedua wanita tersebut.


Angga terdiam menanggapi ucapan Yudha, Mini memang baik dan sangat perhatian. Bahkan Mini tak pernah mempermasalahkan dirinya yang hanya dari kalangan biasa.


Namun, hatinya masih terpatri pada satu nama, Larasati. Entahlah, Angga juga tidak tahu. Kedekatannya bersama dengan Larasati selama dua tahun membuat Angga jatuh cinta pada wanita dewasa itu.


Namun, dia sangat sadar jika perasaannya salah. Dia sangat sadar jika Larasati sudah menganggap dia sebagai adik.


Angga juga sangat sadar, ada sosok Jonathan yang selalu ada untuk Larasati. Bahkan pria itu rela berperan di balik layar untuk melindungi seorang Larasati. Wanita yang begitu Jonathan cintai.


"Ehm, akan aku coba," jawab Angga pada akhirnya.


Angga dan Yudha kembali asik berbincang, tak lama kemudian mata Angga menangkap pemandangan yang membuat matanya terasa sakit.


Mini terlihat begitu akrab dengan seorang pria tampan tak jauh dari dirinya, Mini bahkan terlihat tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Entah apa yang sedang mereka bicarakan, namun hal itu membuat Angga merasa tidak nyaman.


"Bang, aku harus pulang. Sudah sore soalnya," kata Angga berpamitan.


Lebih tepatnya, Angga ingin segera menghampiri Mini.


"Ya, kamu benar. Sebentar lagi maghrib, pulanglah. Jangan lupa titip salam buat Rara sama Satria," pesan Yudha.


Angga terlihat menganggukkan kepalanya lalu dia pun menjabat tangan Yudha seraya berpamitan.


"Iya, Bang. Pulang dulu ya," Angga terlihat berlalu dan langsung menghampiri Mini.


Tepat Angga datang menghampiri Mini, lelaki yang sedari tadi mengobrol dengan Mini pun nampak pergi.


"Hati-hati di jalan, Kak." Teriak Mini seraya melambaikan tangannya.


Angga yang sudah berada di samping Mini langsung mengajaknya untuk pulang.


"Ayo kita pulang," ajak Angga seraya menautkan jari tangannya ke tangan Mini.


"Astagfirullah, Mas! Kamu ngagetin aku," kata Mini seraya mengerucutkan bibirnya.


Mini memang mengatakan ketidaksukaannya kala Angga mengagetkan dirinya, namun matanya terlihat mengerjap tak percaya dengan tangannya yang kini digenggam erat oleh Angga.


"Kamunya saja yang terlalu fokus saka lelaki itu, makanya kamu sampai ngga sadar kalau aku sudah ada di samping kamu." Angga terlihat menarik lembut tangan Mini.


Tidak pernah sekalipun Angga bersikap seperti itu kepada Mini, kali ini Angga terlihat seperti orang yang sedang cemburu menurut Mini.


Angga langsung menuntun Mini untuk berjalan menuju parkiran, tiba di parkiran Angga langsung membukakan pintu untuk Mini.


Mini tersenyum kecut lalu dia duduk di samping kemudi, setelah memastikan Mini duduk dengan nyaman, Angga memutari mobil lalu masuk dan duduk di balik kemudi.


Tak lama kemudian Angga terlihat melajukan mobilnya, dalam hatinya dia ingin sekali bertanya tentang lelaki yang berbicara dengan Mini saat di taman.


Namun, dia merasa tidak berhak untuk menanyakan tersebut. Akan tetapi, jika tidak ditanyakan dia merasa penasaran. Pada akhirnya dia pun bertanya.


"Siapa lelaki tadi?" tanya Angga.


Mini yang terlihat sedang fokus melihat jalanan langsung memalingkan wajahnya ke arah Angga, dia sempat mengernyitkan dahinya. Namun, kemudian dia berkata.


"Yang tadi di taman bicara sama aku?" tanya Mini seraya menunjuk wajahnya.


Mini merasa heran, karena tiba-tiba saja Angga bertanya tentang hal yang menurutnya tidak penting.


"Iya, siapa dia? Siapa lelaki yang tadi bicara sama kamu di taman?" tanya Angga tanpa menoleh ke arah Mini.


Mini tersenyum, dia menatap wajah Angga dengan lekat.

__ADS_1


"Oh, dia Kak Frans. Kakak kelasku saat aku kuliah dulu," kata Mini.


Mendengar ucapan Mini Angga terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.


"Sepertinya kalian sangat akrab?" tanya Angga menebak-nebak.


"Tidak juga," jawab Mini cepat.


"Tapi kalian tadi terlihat begitu serius saat berbicara," ucap Angga.


"Ya, ternyata Kak Frans membuka Restoran di pusat kota. Dia mengajak aku untuk kerjasama, sepertinya menarik. Karena aku memang suka memasak dan membuat kue, tapi--"


"Tapi apa?" tanya Angga.


"Bukan apa-apa," jawab Mini cepat.


Sebenarnya Angga masih ingin bertanya-tanya tentang lelaki tersebut, namun dia takut disangka cemburu kalau terus saja bertanya.


"Emm, kamu mau langsung pulang atau mau aku antar kemana dulu?" tanya Angga.


"Sepertinya aku langsung pulang aja, Mas. Ini sudah sore, sudah mau shalat magrib juga," jawab Mini.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarkan kamu pulang," kata Angga.


Setelah mengatakan hal itu tidak ada lagi obrolan antara mereka berdua, mereka berdua hanya saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tak lama kemudian Angga nampak memberhentikan mobilnya tepat di depan kediaman om Hendry.


"Sudah sampai," kata Angga.


"Ah, iya. Terima kasih," kata Mini.


"Sama-sama," jawab Angga.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada Angga, Mini nampak turun dari mobil Angga. Angga menekan klakson mobilnya sebelum dia pulang, Mini nampak melambaikan tangannya ke arah mobil Angga sampai tak terlihat dari pandangan matanya.


"Dia manis sekali, berlaga tidak peduli tapi terlihat sangat penasaran," gumam Mini.


Bersambung....


*


*


*


Selamat pagi, selamat beraktifitas.

__ADS_1


__ADS_2