
Larasati dan Jonathan terlihat sedang sibuk mencoba gaun pengantin yang akan mereka kenakan untuk acara pernikahan minggu depan.
Mereka memesan dua baju, satu setel baju untuk akad. Satu setel lagi untuk acara resepsi pernikahan.
Satria juga tak mau kalah, balita tampan berusia dua tahun itu sedang sibuk mencoba stelan kemeja putih dibalut jas berwarna hitam dan juga celana bahan berwarna hitam.
Satria memang berwajah mirip seperti Larasati, namun bentuk tubuhnya begitu mirip dengan Yudha.
"Kamu cantik banget, Sayang." Jonathan terlihat begitu pangling saat melihat Larasati mencoba gaun pengantinnya.
"Kamu juga tampan, Jo,'' puji Larasati.
"Sudah dari dulu aku tampan, hanya saja kamu baru menyadarinya." Jonathan terlihat mencebikkan bibirnya.
"Maaf," ucap Larasati seraya memeluk tubuh Jonathan.
Jonathan tersenyum, lalu dia mengecup kening Larasati dengan penuh kasih.
"Ehm, aku syedih ngga ada yang ajak peluk," kata Satria.
Larasati terlihat mengurai pelukannya, lalu dia merentangkan kedua tangannya. Satria pun dengan cepat langsung melompat kedalam pelukan bundanya.
"Syayang Buna syama Daddy Jo," kata Satria.
"Daddy juga sayang kalian," kata Jonathan.
Setelah tiga jam berada di butik ternama di pusat kota, akhirnya Jonathan memutuskan untuk mengantarkan Larasati dan juga Satria untuk pulang.
Jonathan anteng duduk di balik kemudi, sedangkan Larasati duduk di samping Jonathan seraya memangku putranya.
"Daddy, aku mau pelgi belmain di taman. Mau beli balon besal sama jajan es klim," celetuk Satria.
Jonathan langsung memalingkan wajahnya untuk melihat wajah Larasati, dia seakan meminta izin kepada calon istrinya tersebut.
Larasati tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu tidak keberatan, kita ke taman dulu. Tapi, mampir dulu ke masjid untuk shalat ashar," ucap Larasati.
"Siap, ratuku," jawab Jonathan.
Satria terlihat mendongakkan kepalanya, kemudian dia menatap wajah bundanya dengan lekat.
"Jadi, boleh Buna?" tanya Satria.
"Tentu saja, Sayang. Boleh," jawab Larasa.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Jonathan melihat sebuah masjid. Dia memarkirkan mobilnya tepat di depan masjid, lalu mereka pun turun untuk melakukan shalat ashar.
Dalam hati, Jonathan begitu sangat bangga terhadap calon istrinya tersebut. Karena calon istrinya tak melulu mementingkan urusan dunia, namun dia begitu ingat akan kewajibannya terhadap Sang Khalik.
Lima belas menit kemudian, Jonathan terlihat melanjutkan perjalanannya menuju taman. Karena mereka sudah selesai melaksanakan kewajiban terhadap sang Khalik.
Tiba di taman, Satria dengan tidak sabar langsung turun dari mobil Jonathan. Larasati bahkan harus sedikit berlari untuk mengajar putranya tersebut.
"Sayang, jangan lari-lari, Nak. Takut jatuh," ucap Larasati setengah berteriak.
Satria tertawa, kemudian dia berlari ke arah bundanya dan memeluk kaki Larasati dengan erat. Melihat wajah Satria yang begitu ceria, Jonathan tersenyum lalu menghampiri bocah tampan tersebut.
Dia langsung menunduk dan mengangkat tubuh mungil Satria lalu membawanya ke dalam gendongannya.
"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Jonathan lembut.
"Balon Daddy, lihat di sana. Ada balon spidelman yang besyal," tunjuk Satria.
Jonathan terkekeh melihat wajah Satria yang terlihat begitu menggemaskan.
"Baiklah, kita kesana untuk beli balonnya. Mau berapa?" tanya Jonathan.
"Cukup syatu syaja," jawab Satria.
Jonathan tersenyum, lalu dia mengajak Satria dan Larasati untuk membeli balon tersebut.
"Sama-sama, Sayang," jawab Jonathan.
Setelah mendapatkan balon yang Satria inginkan, dia pun meminta turun dari gendongan Jonathan. Karena dia ingin bermain bersama dengan balon tersebut.
Tentu saja Jonathan mengijinkan, dengan syarat Satria jangan berlari-lari. Satria menurut dengan menganggukkan kepalanya.
Namun, baru saja dia turun dari gendongan Jonathan, Satria terlihat berlari dengan sangat kencang.
Hal itu sontak membuat Jonathan dan juga Larasati terlihat kaget. Mereka Langsung menyusul kemana Satria melangkah.
Alangkah kagetnya Larasati dan juga Jonathan, ketika melihat Satria terlihat melompat ke dalam pangkuan seorang pria.
"Papa Yudha!" teriaknya lantang.
Yudha yang sedari siang tadi hanya melamun saja terlihat begitu kaget, karena tiba-tiba ada yang memeluknya dan meneriaki namanya.
Tak lama kemudian, matanya terlihat berkaca-kaca ketika melihat putra semata wayangnya bersama dengan Larasati yang kini tengah memeluknya.
"Sayangnya Papa, Papa kangen." Yudha terlihat memeluk Satria dengan erat, ciuman hangat pun dia labuhkan di setiap inci wajah putranya.
__ADS_1
"Papa kenapa melamun?" tanya Satria.
Yudha terlihat menyeka air matanya, kemudian dia melerai pelukannya dan mendudukkan Satria di pangkuannya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu kesini sama siapa?" tanya Yudha.
Satria terlihat memalingkan wajahnya ke arah Larasati dan juga Jonathan, kemudian dia menunjuk kedua orang yang dia sayangi seraya tersenyum manis.
"Syama Buna, syama Daddy Jo," ucapnya dengan suara yang menggemaskan.
Yudha melihat ke arah Larasati dan juga Jonathan, dia tersenyum kecut ketika melihat pasangan tersebut.
Dia bisa melihat binar bahagia di mata Larasati dan juga Jonathan. Berbeda dengan dirinya yang kini merasa sedang terpuruk saat menghadapi kenyataan pahit yang dia terima.
Larasati terlihat menatap Jonathan, Jonathan tersenyum kemudian menggenggam tangan Larasati dan mengajak Larasati untuk duduk bersama dengan Satria dan juga Yudha.
"Apa kabar, Ra?" tanya Yudha.
"Baik, Mas sendiri apa kabar?" tanya Larasati.
"Tidak baik," jawab Yudha.
Setelah mengatakan hal itu, Yudha terlihat panik. Dia langsung bangun dan menyerahkan Satria kepada Jonathan, Yudha seakan menjaga jarak dan sedikit menjauh dari ketiga orang tersebut.
Satria terlihat kecewa sekali, bahkan dia langsung memeluk Jonathan dan menyembunyikan wajah sedihnya di dada bidang calon ayah sambungnya tersebut.
"Mas kenapa?" tanya Larasati yang melihat gelagat aneh dari mantan suaminya tersebut.
"Mas kena HIV, Mas tidak mau menularkannya pada orang yang Mas sayang." Yudha terlihat tertunduk lesu, dia tidak berani menatap wajah Larasati, Satria dan juga Jonathan.
Larasati terlihat kaget dengan apa yang diucapkan oleh Yudha, dia tidak menyangka jika mantan suaminya itu bisa mengidap penyakit membahayakan tersebut.
Jonathan tersenyum, dia mengerti akan kegundahan hati Yudha. Untuk menghibur Yudha, Jonathan lalu berkata.
"Penyakit HIV memang sangat berbahaya, tetapi kamu tidak perlu khawatir. Karena hanya dengan sentuhan saja atau berpelukan tidak akan menularkan penyakit tersebut, penyakit tersebut hanya bisa menular lewat pertukaran darah atau hubungan intim," jelas Jonathan.
Mendengar penuturan dari Jonathan, wajah Yudha terlihat sedikit lebih lega. Dia memberanikan diri untuk menatap Jonathan, lalu dia pun bertanya.
"Jadi, aku masih boleh bermain dan bersentuhan dengan putraku?" tanya Yudha.
"Tentu saja boleh, apa lagi kamu Ayah biologisnya. Justru itu akan menambah rasa semangat kamu, agar kamu bersemangat untuk menjalani pengobatan agar bisa cepat sembuh. Berjuanglah untuk sembuh, setidaknya untuk anak kamu," ucap Jonathan menyemangati.
Bersambung....
🍎🍎🍎
__ADS_1
Satu bab dulu, di tunggu dua bab berikutnya.