
Jesicca terlihat mengekori langkah Larasati, dia benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menatap Larasati yang sedang memperhatikan setiap sudut rumahnya.
Sesekali Jesicca terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian, saat ini dia benar-benar sedang cemas dan juga takut.
Dia pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya, apakah mungkin Yudha berubah sikapnya karena kedatangan Larasati kembali di dalam hidupnya?
Apakah ini yang membuat Yudha selalu terlihat dingin kepada dirinya? Bahkan Yudha yang tak pernah sekalipun membentaknya, kini malah begitu sering memancing pertengkaran.
Larasati tersenyum, karena ternyata rumahnya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sama sekali, bahkan letak susunan perabotan rumah tangga yang pernah dia beli dulu masih tetap sama.
Hanya saja banyak foto Yudha dan juga Jesicca yang terpajang di dinding setiap ruangan, ada juga beberapa lukisan yang terpajang di dinding.
Larasati tidak menyangka jika Yudha dan juga Jesicca hanya ingin menempati rumah tersebut, tanpa adanya niatan untuk mempercantik dan mendekorasi rumah tersebut.
"Eh, ada tamu ya, Nya?" tanya Bi Minah yang baru saja datang dari pasar.
"Iya, Bi," jawab Jesicca pelan.
Mendengar suara Bi Minah, Larasati pun menghentikan langkahnya. Lalu, dia pun menatap Bi Minah yang terlihat sedang membawa keranjang sayur berisikan perlengkapan dapur.
"Nyonya Laras!" teriak Bi Minah.
Bi Minah benar-benar tidak menyangka, jika Larasati kini sedang berada di hadapannya. Di rumah yang dulu pernah menjadi tempat terindahnya bersama dengan Yudha.
"Iya, Bi. Ini saya, Bibi dari mana?" tanya Larasati basa-basi.
"Dari pasar, Nyonya. Membeli perlengkapan dapur yang menipis," jawab Bi Minah.
Larasati terlihat tersenyum dengan manis, lalu dia menghampiri Bi Minah dan mengelus lembut tangannya.
"Saya mau dibuatkan nasi goreng ikan teri sama Bibi, boleh? Kangen banget sama masakan Bibi yang satu itu," pinta Larasati.
"Bisa banget, Nyonya. Tunggu sebentar," kata Bi Minah.
Tanpa mengucap permisi kepada Jesicca, Bi Minah langsung berlari ke dapur. Dia ingin segera membuatkan nasi goreng ikan teri pesanan Larasati.
Melihat bagaimana cara Bi Minah memperlakukan Larasati, Jesicca pun jadi menyadari jika Larasati begitu baik terhadap semua orang.
Bahkan terhadap pembantu rumah tangga saja, dia bersikap seolah-olah Bi Minah adalah keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa malah bengong?" tanya Larasati.
"Ti--tidak apa-apa," jawab Jesicca terbata.
"Apakah suami kamu sudah memberitahu kamu, jika saya cuma memberikan waktu seminggu kepada kamu untuk mencari tempat tinggal baru?" tanya Larasati.
Jesicca terlihat kaget sekali mendengar apa yang diucapkan oleh Larasati, dia pun kini menjadi bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya.
Apakah Yudha mempunyai uang untuk membeli rumah baru?
Satu hal lagi yang benar-benar Jesicca pertanyakan dalam hatinya, apakah Yudha akan tetap mempertahankan dirinya dan juga putrinya?
Apa lagi saat melihat penampilan Larasati yang sekarang, begitu cantik, seksi dan juga terlihat begitu menarik.
Berbeda dengan dirinya yang baru saja melahirkan, tentu saja terdapat lemak di beberapa bagian tubuhnya.
"Sudah aku katakan, kalau Mas Yudha tidak mengatakan apa pun kepadaku. Tadi malam setelah dia pulang, dia langsung mandi dan tertidur," kata Jesicca.
"Baiklah, karena sekarang kamu sudah tahu, aku harap kamu segera bersiap dan aku harap minggu depan kamu, suami kamu dan juga anak kamu sudah meninggalkan rumah saya," ucap Larasati.
"Ta--tapi a--"
"Untuk memperjelas semuanya, kamu bisa bicarakan dengan suami kamu," pungkas Larasati.
Tak lama kemudian, Bi Minah datang. Dia memberitahukan jika nasi goreng pesanan Larasati sudah siap.
Larasati pun tersenyum, lalu dia mengikuti langkah Bi Minah menuju ruang makan. Tiba di ruang makan, Larasati langsung saja memakan nasi goreng buatan Bi Minah dengan sangat lahap.
"Enak, Bi. Rasanya tetap sama, selalu saja enak," puji Larasati.
Bi Minah tersenyum malu mendengar ucapan dari mantan majikannya tersebut.
Setelah menghabiskan satu porsi nasi goreng, Larasati pun berpamitan untuk pergi. Tak lupa sebelum pergi Larasati pun meminta kunci mobilnya kepada Jesicca.
Mau tak mau Jesicca pun menyerahkan kunci mobil tersebut. Walaupun hatinya begitu berat, namun dia tidak bisa menahan mobil tersebut.
Karena memang saat dia datang ke rumah tersebut, dia datang dengan tangan kosong. Tak ada satupun barang yang dia bawa.
Dia langsung menikmati fasilitas yang ada di rumah tersebut, setiap hari dia juga menikmati uang hasil dari Resto milik Larasati.
__ADS_1
"Terima kasih," ucapnya kepada Jesicca.
Setelah mengatakan hal itu, Larasati terlihat berpamitan kepada Bi Minah. Tak lupa dia pun memberikan pujian terhadap nasi goreng buatan Bi Minah, kemudian dia pun segera pergi dari sana.
Setelah kepergian Larasati, Jesicca langsung menutup pintunya. Tak lama kemudian, tubuh Jesicca langsung luruh ke lantai.
Dia menangis sambil memegangi kedua lututnya, dia benar-benar merasa sedih sekali. Dalam waktu kurang dari dua bulan, tiba-tiba saja hidupnya berubah.
Mulai dari Yudha yang tidak perhatian, sampai kini dia terancam akan jatuh miskin. Dia terancam akan kembali kepada kehidupannya yang dulu, hidup seadanya tanpa bergelimang harta.
Saat sedang asyik meratapi kesedihannya, terlihat Yudha yang keluar dari kamar utama sambil memanggil namanya.
Jesicca berusaha untuk bangun walaupun tubuhnya terasa lemah, dia seka air matanya. Kemudian, dia pun menghampiri Yudha.
Yudha terlihat rapi dan juga wangi, sepertinya Yudha baru saja selesai mandi.
"Ada apa, Mas?" tanya Jesicca.
"Putri nangis, sepertinya dia ingin minum susu," ucap Yudha
"Ah, Maaf Mas. Mungkin karena aku meninggalkannya terlalu lama, kalau begitu aku pamit. Aku mau nyusui putriku dulu," ucap Jesicca.
Jesicca pun langsung masuk kedalam kamarnya, dia segera mengangkat tubuh putri mungilnya yang terlihat begitu kehausan.
Lalu, Jesicca pun memberikan ASI kepada putrinya. Tak lama kemudian, Yudha nampak menyusul, lalu dia pun bertanya
"Kemana mobil? Kenapa di luar tidak ada mobil?" tanya Yudha.
Mendengar pertanyaan dari Yudha, Jesicca langsung mendongakkan kepalanya. Lalu, dia pun berkata.
"Mbak Laras tadi kesini, dia yang sudah membawa mobilnya," jawab Jesicca.
Mendengar jawaban dari istrinya, mata Yuda langsung membulat dengan sempurna. Dia tidak menyangka jika Larasati benar-benar akan mengambil mobilnya.
Lalu, dengan apa dia akan pergi bekerja jika mobil sudah diambil, pikirnya. Namun, Yudha tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa pasrah saat ini.
"Ja--jadi tadi Laras kesini?" tanya Yudha.
"Ya, tolong jelaskan semuanya padaku, Mas!" pinta Jesicca.
__ADS_1
"Laras sudah memgambil semuanya, dia--"
Yudha pun lalu menceritakan semuanya yang terjadi selama hampir 2 bulan ini, dia juga bahkan menceritakan kebodohannya karena tidak bisa mengenali Larasati dengan baik saat pertama mereka bertemu.