Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Keputusan Berat


__ADS_3

Juki nampak terhenyak mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, dia tidak menyangka jika Jesicca adalah mantan pelakor.


Juki juga tidak menyangka jika Jesicca rela merendahkan dirinya demi mendapatkan kekayaan yang bukan haknya.


Bahkan Juki tidak menyangka jika Jesicca mampu berbuat licik untuk bisa mendapatkan kehidupan yang layak.


Namun, dia juga merasa bangga karena Jesicca mau berubah. Bahkan selama Juki mengenal Jesicca, dia tidak pernah melihat Jesicca yang nakal dan suka menggoda.


Justru, Juki bisa melihat Jesicca yang lebih baik. Jesicca yang mampu menjaga akhlaknya, Jesicca yang mampu menata kehidupannya yang baru.


"Heh!"


Terdengar helaan napas berat dari bibir Juki, Juki terlihat melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam kamarnya.


Tiba di dalam kamarnya, Juki terlihat merenung. Dia sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


*/*


Keesokan harinya, selepas subuh bi Minah memutuskan untuk segera pulang menuju kampung halamannya.


Hal itu sengaja dia lakukan agar dia tidak terkendala macet di dalam perjalanan, karena dia akan pulang dengan menggunakan bis umum.


"Hati-hati," pesan Jesicca sebelum Bi Minah naik ojek online menuju terminal bis.


Sebenarnya Jesicca ingin sekali mengantarkan bi Minah untuk pergi menuju terminal bis, namun bi Minah melarang, karena Putri masih tidur dengan pulas.


Bi Minah tidak ingin mengganggu waktu tidur dari bayi perempuan yang sudah dia anggap sebagai cucunya sendiri itu.


"Iya, Bibi akan hati-hati. Nanti kalau sudah sampai di kampung, Bibi akan sering video call. Jangan lupa hp-nya yang kemarin Bibi bawa dari kampung, langsung diaktifkan. Biar Bibi gampang menghubungi kamu," kata Bi Minah.


Ya, saat Jesicca pergi dari kampung bi Minah dia tidak membawa handphonenya. Hal itu sengaja dia lakukan agar Maman tidak bisa melacak keberadaannya, dia takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


"Iya, Bi," jawab Jesicca.


Setelah melepas kepergian bi Minah, Jesicca langsung masuk ke dalam kamar kostannya. Dia segera naik ke atas ranjang dan memeluk putri kecilnya yang masih terlelap dalam tidurnya.


Dia pandang wajah cantik Putri, dia elus pipi gembilnya. Tak lama kemudian air mata Jesicca nampak menetes di kedua sudut matanya.


"Maafkan Ibu, semoga saja jika kamu besar nanti kamu tidak pernah membenci Ibu. Karena masa lalu ibu yang kelam," kata Jesicca lirih.


*/*

__ADS_1


Di hari minggu yang cerah, Jesicca masih diberikan waktu untuk berlibur. Karena masih ada Juki yang akan merawat sang ibu yang masih sakit.


Setelah tadi malam mengobrol panjang lebar dengan bi Minah, ternyata Jesicca memutuskan untuk memulai kehidupannya yang baru.


Dia menerima uang sebagai pembayaran dari rumah miliknya di kampung bi Minah, bahkan bi Minah membayar semua dagangan milik Jesicca yang belum terjual.


Menantu dari bi Minah memutuskan untuk tidak bekerja di luar kota lagi, dia memutuskan untuk meneruskan warung kelontong milik Jesicca saja dengan uang tabungan miliknya selama bekerja di luar kota.


Di sinilah Jesicca sekarang, di ruang keluarga bersama dengan Juki dan juga bu Sari. Dia terlihat begitu gugup sambil memangku Putri.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu gugup?" tanya Bu Sari.


"Begini, Bu. Tiga hari lagi saya genap satu bulan tinggal di kostan ibu, tapi... saya tidak akan memperpanjang masa kostnya. Karena saya mau membeli rumah kecil saja untuk tempat tinggal saya dan Putri, tak apa kecil. Yang penting bisa untuk usaha, biar ada penghasilan untuk kehidupan saya dan Putri," kata Jesicca.


Ya, Jesicca memutuskan untuk mencari rumah kecil seukuran kamar kostan. Hal itu dia lakukan agar bisa hidup mandiri dan bisa memulai usahanya.


Walaupun hanya usaha kecil-kecilan seperti menjual mie ayam atau menjual minuman boba, itu akan dia lakukan. Yang terpenting dia bisa memulai kehidupan barunya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, baik bu Sari ataupun Juki terlihat begitu kaget. Mereka tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Jesicca saat ini.


"Apa maksud kamu? Kamu mau ninggalin ibu?" tanya Bu Sari.


Jesicca terlihat kebingungan untuk menjelaskannya kepada bu Sari, sebenarnya dia merasa tak enak hati harus keluar dari kostan milik bu Sari.


Namun, dia juga membutuhkan penghasilan untuk melanjutkan hidupnya. Dia butuh uang untuk dia tabung, agar masa depan Putri bisa terjamin.


"Julian!"


Bu Sari terlihat menatap Juki, dia seolah meminta pertolongan kepada Juki. Dia sudah terlanjur menyayangi Putri, rasanya dia tidak ingin ditinggalkan oleh kedua wanita cantik berbeda usia itu.


Juki seakan paham, dia langsung bangun dan menghampiri Jesicca. Dia duduk tepat di samping Jesicca, Jesicca yang merasa risih sempat menggeser letak duduknya.


Berbeda dengan Putri, dia berusaha untuk turun dari pangkuan Ibunya dan merangkak ke pangkuan Juki.


"Bababa, dududu," celoteh Putri.


Mendengar celotehan dari Putri, Juki langsung mengangkat tubuh mungilnya dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Maaf kalau saya lancang, sebenarnya apa tujuan utama yang membuat Mbak Jesicca ingin pergi dari sini?" tanya Juki.


Untuk sesaat Jesicca nampak terdiam, dia menatap wajah Juki dengan lekat.

__ADS_1


"Saya butuh uang untuk masa depan Putri, saya ingin membangun usaha kecil-kecilan. Agar saya bisa menafkahi putri saya," jawab Jesicca.


Juki tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, kemudian dia bertanya kembali.


"Jika ada lelaki yang mau menikahi Mbak Jesicca, jika ada lelaki yang mau menjadi ayah sambung untuk Putri, jika ada lelaki yang tulus ingin membina rumah tangga dengan Mbak Jesicca, apa Mbak mau?" tanya Juki.


Mendengar pertanyaan dari Juki, Jesicca nampak menggelengkan kepalanya. Dia bukannya tidak mau berumah tangga lagi, namun dia merasa tidak pantas untuk merasakan kebahagiaan kembali. Karena dia merasa jika dirinya sangat hina untuk itu.


Melihat reaksi dari Jesicca, Juki nampak kecewa. Begitupun dengan bu Sari, namun... Juki tak putus asa, Juki kembali bertanya.


"Apakah Mbak tidak ingin bahagia?" tanya Juki.


"Bukan, bukan tidak ingin bahagia. Sangat, saya sangat ingin sekali bahagia. Namun, rasanya saya tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut. Terlalu besar kesalahan yang saya lakukan di masa lalu, rasanya saya terlalu hina untuk mendapatkan kebahagiaan kembali," jawab Jesicca.


Juki tersenyum saat mendengar penuturan dari Jesicca, Juki terlihat mengangkat tubuh mungil Putri lalu dia mendudukkannya di atas pangkuan bu Sari. Kemudian, Juki terlihat berjongkok di depan Jesicca.


Juki meraih tangan Jesicca dan mengusap punggung tangan Jesicca dengan lembut.


"Jika aku bersedia menjadi lelakimu, apa kamu mau menerima duda yang mengharapkan belaian dari ibunya Putri ini?" tanya Juki.


Mendengar penuturan dari Juki, Jesicca nampak terkekeh. Dia merasa lucu dengan apa yang diucapkan oleh Juki.


"Jika ak--"


Brugh!


"Abang!" teriak Ridwan dari ambang pintu.


Ridwan terlihat menjatuhkan barang bawaannya, dia terlihat sangat kaget saat melihat adegan romantis yang dilakukan oleh Juki.


Dia tidak menyangka jika Juki akan menikungnya, padahal sudah jelas-jelas jika Ridwan menginginkan Jesicca untuk menjadi istrinya.


*


*


*


BERSAMBUNG....


Di sambung besok lagi, ya. Mohon bersabar, semoga tidak ada perkelahian antara Babang Juki dan Babang Ridwan.

__ADS_1


__ADS_2