Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Tak Percaya


__ADS_3

Melihat tatapan dari Larasati, membuat nyali Yudha menciut. Dia terlihat menunduk sambil mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin.


"Sebenarnya Mas kesini mau apa sih? Kenapa dari tadi terlihat seperti orang bingung begitu?"


Larasati bertanya dengan raut wajah tegas, namun dalam hatinya dia menertawakan Yudha. Dia sangat tahu jika lelaki yang berada di hadapannya itu adalah lelaki yang sangat plin-plan.


Larasati terlihat menatap lelaki yang ada di hadapannya dengan tatapan tajam, datar dan tanpa ekspresi.


Hal itu membuat Yudha salah tingkah, padahal seharusnya Yudha yang marah kepada Larasati.


Karena dia telah ditipu oleh wanita yang kini berada tepat di hadapannya, dia datang dengan nama yang sama namun menjelma seperti wanita lain di hadapannya.


Bahkan dengan mudahnya dia menjerat Yudha dan mengeruk harta Yudha yang memang dia dapatkan dari Larasati dengan cara yang curang.


"Buna, aku mau kue yang tadi," kata Satria memecah keheningan diantara Yudha dan Larasati.


Larasati mengalihkan pandangannya ke arah putranya yang kini duduk di atas pangkuannya.


Tatapan matanya kini berubah menjadi penuh cinta, bahkan Larasati berbicara dengan Satria dengan nada yang sangat lembut.


"Bunda ambilkan dulu kuenya ke dapur, kamu tunggu di sini sebentar. Bisa?" tanya Larasati dengan sangat lembut.


Satria terlihat tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.


"Boleh, Buna. Tolong ambil kuenya yang banyak, kasihan Om'nya dari tadi bengong, tapi nggak makan apa-apa," ucap Satria.


Mendengar ucapan putranya, Larasati terlihat tersenyum kecut. Ternyata Satria adalah anak yang sangat peduli terhadap orang lain, pikirnya.


Berbeda dengan Yudha, saat mendengar ucapan dari Satria, hatinya terasa menghangat.


Karena ternyata, walaupun anak itu tidak mengenal dirinya. Tapi dia terlihat sangat manis, menggemaskan, bahkan terlihat sangat peduli terhadap orang lain. Persis seperti Larasati.


Larasati terlihat mendudukan Satria di sofa, lalu dia mengecup kening Satria dan melangkahkan kakinya menuju dapur.


Setelah kepergian Larasati, Yudha nampak menghampiri Satria dan duduk tepat di sampingnya.


"Hai tampan, boleh kenalan?" tanya Yudha.


"Boleh, Om siapa?" tanya Satria.


"Nama Om, Yudha." Yudha terlihat mengacak pelan rambut Satria karena gemas.

__ADS_1


"Oh, aku, Satlia," ucapnya cadel.


"Satria?" tanya Yudha sambil tersenyum.


Mendengar pertanyaan dari Yudha, Satria langsung menganggukkan kepalanya. Yudha pun langsung mencubit gemas pipi Satria, lalu mengecup keningnya.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Yudha, Satria terlihat mengusap keningnya dengan punggung tangannya.


"Kenapa diusap?" tanya Yudha.


"Basah, aku ngga suka," kata Satria.


Yuda terkekeh mendengar jawaban dari Satria, dia jadi mengingat kala dirinya masih berumah tangga dengan Larasati.


Larasati sangat tidak suka jika Yudha mengecup keningnya sampai basah, rasa sesal seakan menyeruak dalam hatinya.


Apa lagi melihat putra mereka yang terlihat sangat tampan dan menggemaskan, rasanya dia ingin kembali rujuk dengan Larasati.


"Ini kuenya, Sayang." Larasati terlihat menyimpan kue di atas meja beserta dengan tiga gelas minuman yang sudah dia siapkan.


Setelah itu, Larasati pun nampak duduk di sebelah Satria. Kemudian, Larasati pun menatap Yudha dengan tatapan tajamnya.


Yudha seolah mengerti, dia pun langsung bangun dan kembali ke tempat dia duduk. Entah kenapa, melihat Larasati yang sekarang membuat Yudha seakan susah untuk bernapas.


Satria terlihat mengambil sepotong kue dan memakannya sambil memperhatikan ekspresi wajah Yudha dan juga Larasati.


"Buna, sebenalnya Om itu siapa? tanya Satria dengan nada bicara yang sangat menggemaskan.


Larasati mengalihkan pandangannya kepada Satria, dia tersenyum hangat sambil mengelus lembut pipi putranya.


Lalu, dia mengarahkan tatapannya kepada Yudha. Dia seakan meminta Yudha untuk berbicara sendiri kepada Satria.


Mendapatkan tatapan yang mematikan dari Larasati, Yudha terlihat kikuk. Beberapa kali dia mengusap lengannya, lalu dia pun berkata.


"Om adalah Ayah kamu," ucap Yudha.


Mendengar ucapan Yudha, dahi balita tampan itu terlihat mengernyit dalam. Lalu dengan polosnya dia pun berbicara.


"Om bukan, Ayahku. Ayahku cuma satu, namanya Ayah Angga," ucap Satria dengan polosnya.


Mendengar ucapan balita tampan tersebut, Yudha terlihat kaget sekali. Bahkan dia langsung menatap Larasati seolah bertanya tentang siapa Angga.

__ADS_1


Mendapatkan tatapan penuh pertanyaan dari Yudha, Larasati hanya tersenyum tipis. Dia tak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan dari Yudha.


Pada akhirnya Yudha dan Larasati pun saling diam, berbeda dengan Satria yang terlihat menikmati kue buatan Larasati.


Tak lama kemudian, Satria terlihat mengantuk dia mengusakkan wajahnya ke dada bundanya.


Larasati pun langsung mendekap tubuh mungil Satria dan mengelus lembut puncak kepalanya.


"Diminum, Mas, jus buahnya," ucap Larasati.


Setelah lama saling diam, akhirnya Larasati pun mengajak Yudha untuk berbicara.


"Ah, iya," jawa Yudha.


Yudha pun langsung menenggak jus buah yang disiapkan oleh Larasati sampai tandas, Larasati hanya tersenyum melihat tingkah Yudha tersebut.


"Maaf, Mas. Sepertinya Satria sangatlah mengantuk, bisakah Mas pulang terlebih dahulu? Nanti kalau ada waktu kita bicara lagi," kata Larasati.


"Tapi, Ras. Bolehkan kalau besok aku menemui putraku?" tanya Yudha.


Larasati terlihat menatap Yudha sebentar, dia tahu jika Yudha bukan ingin bertemu dengan Satria, namun ingin mencari perhatian darinya.


"Kalau Mas mau bertemu dengan Satria, aku tidak akan melarangnya. Karena Satria memang anakmu, dia bahkan tanggung jawabmu. Satria berhak mendapatkan kasih sayang dan juga nafkah dari kamu," ucap Larasati mengingatkan.


Mendengar ucapan Larasati, Yudha terlihat tersenyum lalu dia pun kembali berkata.


"Kamu juga masih tanggung jawabku, Laras, Sayang. Aku memang pernah mengucapkan talak, tapi aku tak pernah mengurus surat cerai kita ke pengadilan agama." Yudha terlihat tersenyum penuh arti.


Larasati nampak tersenyum sinis mendengar ucapan dari Yudha, memang benar jika Yudha tak pernah mengurus surat cerai mereka.


Namun, Larasati' lah yang mengurus sendiri surat perceraian tersebut. Tentunya dia melakukannya dengan bantuan dari Rendy, orang kepercayaan dulu saat dia mengelola Restoran.


Kini Rendy pun masih menjadi orang kepercayaannya, namun dia bekerja untuk Yudha.


"Kamu salah, Mas. Aku tidak lagi menjadi tanggung jawabmu, karena kita sudah bercerai," ucap Larasati.


Mendengar ucapan Larasati, mata Yudha langsung membulat dengan sempurna. Dia sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Larasati, karena dia tak pernah mengurus surat cerai ke pengadilan agama.


"Bagaimana bisa kita sudah bercerai? Bahkan aku pun belum pernah mengurusnya dan belum pernah menandatangani surat cerai tersebut," ucap Yudha.


"Kamu sudah menandatangani surat gugatan cerai dariku, Mas. Kalau tidak percaya Mas bisa bertanya kepada Rendy," kata Larasati.

__ADS_1


Mendengar nama Rendy diucapkan, Yudha terlihat emosi. Apakah asisten kepercayaannya itu sudah menghianatinya? Atau dia yang lupa jika Rendy adalah asisten kepercayaan Larasati ketika dia mengurus Resto tersebut?


__ADS_2