Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Hidup Itu Dinikmati, Bukan Untuk Diratapi


__ADS_3

Yudha terlihat turun dari taksi online sambil menggendong Satria, dia terlihat begitu senang karena akhirnya malam ini dia bisa tidur bersama dengan putranya, buah hatinya bersama dengan Larasati.


Saat dia hendak masuk kedalam kamarnya, tiba-tiba saja Satria menepuk-nepuk pundak Yudha. Yudha terlihat memberhentikan langkahnya, kemudian dia bertanya.


"Ada apa? Apa Satria menginginkan sesuatu?" tanya Yudha.


Dia takut anaknya meminta untuk pulang, padahal mereka baru saja sampai.


"Tidak! Aku tidak menginginkan apa pun, aku hanya ingin beltanya. Apakah Papa mendengal syesyuatu?" tanya Satria.


Yudha terlihat menggelengkan kepalanya, karena dia tidak mendengarkan apa pun.


"Isyh! Coba Papa dengalkan baik-baik," kata Satria seraya mengusap kedu telinga Yudha.


Yudha terdiam, lalu dia berusaha untuk menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar apa yang sudah Satria dengar.


Tak lama kemudian, Yudha mendengar ada suara tangisan dari seorang wanita dari balik pohon tak jauh dari kamar yang biasa dia tempati.


"Apakah Papa dengal? Ada syuala olang menangis, kan?" tanya Satria lagi.


Yudha tersenyum, kemudian dia berkata.


"Ya, Papa dengar," jawab Yudha.


Yudha sangat tahu jika yang menangis pasti Imelda, pikirnya. Tidak mungkin ada lagi yang suka menangis selain dirinya, karena Yudha memang sering mendengar isak tangis dari perempuan muda tersebut.


"Papa, bolehkah aku beltanya?" tanya Satria.


Satria menatap Yudha dengan tatapan penuh tanda tanya dan terlihat sangat penasaran.


"Katakanlah! Apa yang ingin kamu tanyakan?" kata Yudha.


Satria terlihat celingukan, lalu dia memeluk leher Yudha dengan erat.


"Apakah itu suala kunci anak?" tanya Satria.


Yudha terlihat mengernyitkan dahinya saat mendengar pertanyaan dari putranya.


"Makhluk apa itu?" tanya Yudha yang tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Satria, putranya.


"Itu loh, Papa. Wanita syelem yang syuka ada di tv-tv itu, wajahnya tellihat pucat, kukunya panjang-panjang. Bajunya putih dan lambutnya panjang syekali," kata Satria.


Yudha langsung terkekeh mendengar penuturan dari putranya, sepertinya Satria pernah menonton film horor, pikirnya.


"Oh, maksudnya kamu, kuntilanak?" tanya Yudha.

__ADS_1


Wajah Satria nampak berbinar, karena Papanya bisa menebak apa yang dia tanyakan.


"Ah, iya itu! Papa benal syekali," jawab Satria.


Mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, Yudha nampak tertawa tertahan.


"Bukan, Sayang. Bukan kuntilanak, itu adalah suara tangisan kakak Imelda," jawab Yudha.


Mendengar jawaban dari Yudha, Satria terlihat mengangguk-anggukan kepalanya seraya mengelus dagunya.


"Oh, kata buna kalau ada olang yang menangis halus kita hibul. Kalena dia syedang belsyedih, ayo Pa, kita hibul kakak Imelda," ajak Satria.


Yudha merasa tidak perlu menghibur Imelda, karena menurutnya wanita muda itu memang sering menangis dan itu merupakan kebiasaannya.


"No, Sayang. Kita harus tidur karena ini sudah malam," jawab Yudha.


Satria terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa tidak puas dengan jawaban dari Papanya.


"No, Papa! Kata buna halus dihibul, ayo." Satria terlihat meminta untuk turun dari gendongan Yudha.


Akhirnya Yudha menurut, Satria terlihat berjalan dengan perlahan menghampiri Imelda yang terlihat sedang terisak.


Satria langsung duduk di bangku tepat di samping Imelda, lalu dia menepuk pundak Imelda.


Imelda sempat terjingkat kaget saat mendapatkan tepukan dari Satria, namun saat melihat jika yang menepuk pundaknya adalah balita tampan, Imelda nampak tersenyum.


Satria nampak tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Aku anak tampannya Papa Yudha," kata Satria seraya menunjuk ke arah Yudha.


Imelda memalingkan wajahnya ke arah Yudha, lalu dia tersenyum.


"Oh, kamu bobo sana! Anak kecil tidak boleh begadang," kata Imelda.


Dia merasa malu karena Yudha terlihat sedang memperhatikan wajahnya.


"Kakak juga bobo syana, anak gede ngga boleh cengeng. Kata buna kita tidak boleh menangis, tidak baik untuk kesehatan. Nanti sakit!" kata Satria.


"Kakak tidak menangis, hanya kelilipan saja," elak Imelda.


Imelda terlihat berusaha mengelak di depan Satria, dia tidak mau dianggap lemah oleh bocah tampan itu.


Sayangnya Satria terlalu pandai untuk dibohongi, dia sudah paham yang mana orang yang sedang kelilipan dan yang mana orang yang sedang menangis.


"Kata ayah Angga tidak boleh belbohong, dosya. Kalau Kakak syedih boleh menangis, tapi tidak boleh melatapi, itu tidak bagus!" kata Satria.

__ADS_1


Imelda terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yudha tersenyum lalu menghampiri Satria dan juga Imelda.


"Maaf kalau putra saya sudah lancang, tapi apa yang dikatakan oleh putra saya benar adanya. Hidup itu untuk dinikmati, bukan diratapi. Kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu dari orang-orang yang ada di sekeliling kamu, tidak melulu harus menunggu orang yang tidak pasti," kata Yudha.


Imelda merasa tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Yudha, karena menurutnya janji ibunya sangat pasti dan pasti akan ditepati.


Namun, sayangnya ibunya tidak pernah datang untuk menjemputnya. Rasanya itu terlalu menyakitkan untuk dirinya.


"Tapi, Kak. Dia sudah berjanji, kalau dia akan menjemput aku." Imelda tertunduk lesu.


Yudha tersenyum, lalu dia menepuk pundak Imelda.


"Kalau dia sehat dan masih ada, kalau dia sakit dan tidak ada umur bagaimana? Bisa saja Ibu kamu tidak datang bukan karena tidak sayang, namun karena dia sudah tidur tenang dalam pusara terakhirnya," kata Yudha lagi.


Imelda semakin tertunduk lesu, dia jadi dilema. Haruskah dia memulai mencari kebahagiaan dengan berbaur dengan orang-orang Panti, atau tetap menunggu ibunya menjemput agar dia bisa bahagia?


"Lalu, apa yang seharusnya aku lakukan?" tanya Imelda.


"Berusaha ikhlas, do'akan yang terbaik untuk ibu kamu. Jika dia masih ada, semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan untuknya. Jika dia sudah tiada, semoga dia bisa diterima di surganya Tuhan," jelas Yudha.


Imelda hanya bisa menghela napas panjang.


"Saya tinggal dulu," kata Yudha seraya menggendong putranya dan membawanya menuju kamarnya.


"Satria mau langsung bobo apa mau ngemil dulu?" tanya Yudha.


"Mau ngoblol dulu syama Papa," jawab Satri.


"No, kamu harus bobo. Besok siang kita harus ke hotel A, ayah Angga akan menikah dengan Aunty Mini. Kalau kamu begadang, kita bisa bangun telat. Terlambat deh," kata Yudha.


"Ya ampun! Aku lupa," kata Satria seraya menepuk jidatnya.


Yudha merasa sangat gemas sekali dengan kelakuan dari putranya tersebut, dia langsung mengangkat tubuh Satria dan menggelitiki perutnya.


Satria nampak tertawa riang sambil menjambak rambut papanya, dia merasa geli dan juga bahagia secara bersamaan.


"Kita cuci muka, gosok gigi, terus bobo." Yudha menurunkan Satria dan mengajaknya ke kamar mandi.


"Yes, Papa," jawab Satria.


Malam ini Yudha terlihat sangat senang sekali, karena dia bisa bermalam dengan putra tampannya.


Sepertinya malam ini dia akan tidur dengan sangat lelap seraya memeluk putranya tersebut.


Sungguh dia berharap jika Satria akan tumbuh menjadi pribadi yang baik, jangan seperti dirinya yang hanya mementingkan ego dan keinginannya saja.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Selamat sore kesayangan, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, jangan lupa tinggalkan jejak yes.


__ADS_2