Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Sakit


__ADS_3

Selepas shalat subuh, Yudha terlihat duduk di tepian ranjang. Dia menatap wajah Putri yang terlihat begitu cantik dan begitu damai dalam tidurnya.


Rasa bersalah selalu saja menyeruak di dalam dadanya setiap kali dia menatap wajah kedua buah hatinya.


Andai saja Yudha tidak melakukan kesalahan lagi setelah mengkhianati Larasati, mungkin dia masih bisa hidup rukun bersama dengan Jesicca dan juga Putri.


Namun, semuanya sudah terlambat. Karena Yudha sendiri yang menghianati Jesicca, mencampakkannya. Bahkan meninggalkan Jesicca dan Putri dengan beban hutang.


"Maafkan Papa, Sayang. Karena Papa terlalu egois dan hanya mementingkan diri sendiri," kata Yudha lirih.


Tak lama kemudian, Putri terlihat menggeliatkan tubuhnya. Tangannya meraba-raba ke arah samping seolah mencari sesuatu, bibirnya terlihat mengecap seolah dia sedang mencari sumber makanannya.


Yudha yang mengerti jika putrinya sedang haus, langsung bangun dan membuatkan susu formula untuk Putri.


Setelah selesai, dia terlihat merebahkan tubuhnya di samping Putri. Lalu dia memberikan susu formula yang sudah dia buat.


Putri terlihat menghisap susu yang Yudha buat dengan sangat cepat, sepertinya dia benar-benar kehausan. Yudha tersenyum, dia mengelus puncak kepala Putri lalu dia berkata.


"Bobo lagi, Nak. Papa mau bikin bubur buat kamu," ucap Yudha.


Tak lama kemudian, Putri terlihat terlelap kembali dalam tidurnya. Yudha tersenyum, kemudian dia mengambil bantal dan menyimpannya di setiap sisi tubuh Putri.


Hal itu dia lakukan agar Putri tidak terjatuh dari tempat tidur, karena Yudha harus segera ke dapur untuk membuat sarapan untuk Putri.


"Papa ke dapur dulu," ucap Yudha pelan.


Yudha melangkahkan kakinya menuju dapur, dia langsung membuat bubur untuk Putri.


Satu jam kemudian, bubur buatan Yudha terlihat matang. Dia tuang bubur tersebut ke atas mangkuk, lalu dia segera pergi dari sana untuk kembali menemui Putri.


Saat Yudha tiba di depan kamarnya, ternyata Putri sedang asik bermain dengan Imelda. Bahkan Putri terlihat sudah cantik dan juga telah berganti baju yang baru.


Wajah Putri juga terlihat putih dengan bedak, aroma minyak telon menguar dan langsung tersendus di indera penciuman Yudha.


"Loh, kok Putri--"


"Maaf, Kak. Tadi Putri bangun, maaf kalau aku lancang. Aku memandikannya, maaf." Imelda tertunduk lesu.


Sebenarnya, Yudha merasa kesal karena Imelda begitu berani masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Namun, dia juga sadar jika dia meninggalkan Putri di kamarnya sendirian. Dia seharusnya merasa beruntung, karena Imelda mau mengurus Putri saat dia sedang di dapur.


Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, jika tidak ada Imelda yang masuk ke dalam kamarnya untuk menemani Putri.


"Tidak apa, maaf merepotkan," kata Yudha.


Yudha menghampiri Putri, dia ingin menggendong Putri dan menyuapinya dengan bubur yang sudah dia buat.


Namun, baru saja dia hendak menggendong Putri, tiba-tiba saja Fadil salah satu anak Panti masuk ke kamar Yudha dengan napas tersenggal.


"Om, Ibu Panti, Om. Dia jatuh pingsan," adu Fadil.


"Inalillahi, Om akan segera ke sana. Imelda, tolong jaga Putri sebentar. Aku akan melihat keadaan Ibu Panti terlebih dahulu," pinta Yudha.


Imelda terlihat menganggukkan kepalanya, sedangkan Yudha langsung berlari keluar dari kamarnya untuk melihat keadaan ibu Panti.


Benar saja, saat Yudha tiba di kamar bu Panti dia terlihat tak sadarkan diri. Tubuhnya terlihat lemas di atas lantai, banyak anak-anak Panti yang mengerumuni. Wajahnya juga terlihat pucat, entah apa yang terjadi.


Yudha langsung menghampiri dan menggendong tubuh ibu Panti, lalu dia merebahkannya di atas tempat tidur.


"Jaka, tolong minta pak Irfan untuk memanggil dokter. Laila, tolong ambilkan minyak hangat di kotak P3K!" kata Yudha.


Tanpa menjawab Jaka langsung berlari ke kebun yang berada di belakang Panti, dia ingin meminta tolong kepada tukang kebun itu untuk memanggilkan dokter.


Yudha terlihat menerima minyak hangat yang diberikan oleh Laila, kemudian dia mengoleskan minyak hangat tersebut ke tangan dan juga kaki Ibu Panti.


Anak-anak Panti terlihat begitu khawatir saat melihat keadaan Ibu Panti, namun dengan cepat Yudha berkata.


"Berdo'alah yang terbaik untuk Ibu Panti, sekarang kalian keluarlah. Biarkan Om Yudha dan juga Fadil yang berada di sini untuk menjaga Ibu Panti," kata Yudha.


Anak-anak menurut, mereka keluar dari kamar milik Ibu Panti dengan raut wajah sedih. Yudha sengaja menyuruh mereka keluar, agar hawa di kamar tersebut tidak pengap.


Dua puluh menit kemudian, Ibu panti nampak mangerjap-ngerjapkan matanya. Tepat di saat itu, pak Irfan datang dengan seorang dokter di sampingnya.


"Masuk, Dok. Tolong periksa ibu kami," pinta Yudha.


Dokter wanita yang datang bersama dengan pak Irfan langsung menghampiri Ibu Panti, lalu dia duduk di tepian ranjang dan mulai memeriksa keadaan Ibu Panti.


"Bagaimana, Dok?" tanya Yudha.

__ADS_1


"Ibu Panti mengalami serangan jantung, dia membutuhkan perawatan intensif. Kondisinya sangat lemah," jawab Dokter.


Mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tersebut, Yudha langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Ibu Airin.


Dia menceritakan kejadian yang menimpa bu Panti, lalu bu Airin berkata jika dia akan segera datang ke Panti bersama dengan Ridwan, suaminya.


Tiga puluh menit kemudian.


Yudha mendengar deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan Panti, dia yakin jika itu pasti Ibu Airin.


Yudha dan pak Irfan langsung ke depan untuk menyambut kedatangan bu Airin, sedangkan Jaka terlihat menjaga bu Panti.


Tiba di halaman Panti, banyak anak-anak yang sedang menanti bu Airin untuk segera turun dari mobilnya.


Saat pintu mobil terbuka, bu Airin nampak turun dengan sangat hati-hati. Dia bahkan melangkahkan kakinya dengan perlahan, dia seperti sedang menahan sakit.


"Ibu sakit? Kaki ibu keseleo?" tanya Melly peansaran.


Mendapatkan pertanyaan dari Melly, wajah bu Airin nampak memerah. Dia langsung memelototkan matanya ke arah Ridwan.


Ridwan tersenyum canggung lalu segera menggendong istrinya agar terhindar dari banyak pertanyaan.


Bu Airin nampak menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya, lalu dia berbisik di telinga suaminya.


"Ini semua gara-gara kamu, jadinya itu aku sakit banget," keluh Bu Airin.


"Ish! Terus aja aku yang disalahin, padahal kamu semalam menikmatinya. Bahkan minta nambah, giliran sakit aku yang salah," jawab Ridwan tak mau kalah.


Bu Airin langsung mencubit gemas perut suaminya, Ridwan nampak meringis. Namun sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.


Yudha hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua insan tersebut, dia paham dengan apa yang sebenarnya telah terjadi, pasti karena jebolnya benteng takesi, pikirnya.


"Om, kok Ibu ngga jawab? Dia kenapa?" tanya Melly.


"Ibunya sedang tidak enak badan, kalian tunggu di sini. Biar Om menyusul ibu dulu," kata Yudha.


BERSAMBUNG....


Selamat siang kesayangan....

__ADS_1


Acara gelutnya nanti disambung malem, takutnya Othor kena amuk masa. 😘😘😘😘


Terima kasih buat kalian yang sudah memberikan Like, memberikan koment yang selalu membuat Othor merasa lebih semangat dan juga vote serta hadiahnya. Kalian memang luar biasa, tanpa kalian apalah artinya aku.


__ADS_2