
Rachel terlihat mengerjap-gerjakan matanya beberapa kali, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Satria terhadap dirinya.
Rasanya, usapan tangan Satria begitu hangat di telinganya. Tangan Satria yang terlihat besar terasa sangat lembut sekali.
Ingin dia bicara, tapi bibirnya seakan kelu. Ingin dia menahan tangan itu agar tetap mengusap telinganya, tapi seakan tidak mampu.
Rachel jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah benar pria yang kini berada di hadapannya adalah Satria atau bukan?
Sejak dulu Satria tidak pernah menggubris dirinya, bahkan terkesan cuek dan juga dingin. Seringkali Rahel mengucapkan rasa sukanya.
Namun, Satria hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi. Lalu, ada apa ini? Kenapa Satria terlihat bersikap begitu manis sekali?
Rachel kebingungan, dia merasa tidak mengenali lelaki yang kini berada di hadapannya itu.
"Hey, kenapa diam saja? Bukankah kamu pernah berkata kepada Kinar, jika kamu ingin dibelikan coklat? Ini sudah aku belikan, kenapa kamu diam saja? Ngga mau, ya?" tanya Satria beruntun.
Dengan cepat Rachel menggeleng-gelengkan kepalanya, tentu saja dia mau. Mana mungkin dia menolak pemberian dari Satria.
Apalagi Ini pertama kalinya Satria begitu perhatian terhadap dirinya, dia tidak ingin melewatkan momen yang sangat langka ini.
"Mau, Bang. Tentu saja Rachel mau, terima kasih," kata Rachel seraya tersenyum canggung.
Rachel mengambil sekotak coklat dari tangan Satria dengan rasa gugup yang luar biasa, Satria malah terkekeh melihat kelakuan dari Rachel tersebut.
"Kenapa gugup seperti itu?" tanya Satria.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Satria, Rachel terlihat salah tingkah. Dia terlihat memalingkan wajahnya seraya mengatupkan mulutnya, dia bingung harus berkata apa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bang. Ehm, itu. Anu, aku mau pulang," kata Rachel tanpa melihat ke arah Satria.
Ingin sekali Rachel memukul mulutnya sendiri, karena dia tidak bisa berkata dengan tegas dan jelas.
"Yakin mau pulang? Ngga mau main dulu ke mana gitu? Atau jajan dulu gitu," kata Satria.
Selamat tinggal di negara A, Satria selalu diberikan upah dalam setiap bulannya oleh Angga.
Tentu saja hal itu pantas dia dapatkan, karena setelah pulang kuliah dia akan langsung belajar sekaligus terjun langsung dalam mengurus perusahaan milik om Hendry yang kini beralih kepemilikan atas nama Angga.
Maka dari itu, Satria pun dengan pedenya menawari Rachel untuk sekedar jajan atau mungkin Rachel menginginkan sesuatu darinya.
"Tidak usah, Bang. Aku mau pulang saja," kata Rachel.
Sebenarnya dia ingin sekali pergi dengan Satria, apalagi dia sudah sangat lama tidak bertemu dengan lelaki yang sangat dia puja itu.
Namun, entah kenapa setelah mendapatkan sikap manis seperti ini dari Satria, hanya ada rasa canggung yang kini dia rasakan.
"Hey! Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu?" tanya Satria.
Rachel terlihat memejamkan matanya dengan rapat, dia sedang mencari jawaban yang pas agar Satria tidak curiga terhadap dirinya yang kini sedang merasa serba salah.
"Tidak apa-apa, Bang. Rachel hanya ingin pulang saja," kata Rachel seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.
Satria tersenyum, kemudian dia meraih tangan Rachel dan mengelusnya dengan sangat lembut.
Rachel langsung menolehkan wajahnya ke arah Satria, dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Satria terhadap dirinya.
__ADS_1
Ada desiran aneh yang menyergap seluruh relung kalbunya, ada dentuman keras yang seakan memicu jantungnya untuk melompat.
"A--Abang, a--aku. Itu, tangan Abang." Rachel bingung harus berbicara apa.
Rasanya Rachel ingin pingsan saja melihat tangan Satria yang terus saja mengelus lembut punggung tangannya.
"Kenapa?" tanya Satria.
Rachel bertambah bingung harus berkata apa, jangankan untuk berbicara dengan lancar, untuk menelan salivanya saja terasa sangat susah.
"Ta--tangan Abang, itu." Rachel menatap lengan Satria dengan lekat.
Satria tahu jika Rachel sedang gugup, Satria melepaskan tangannya dari tangan Rachel. Kemudian, dia mengelus lembut puncak kepala Rahel.
Degup jantung Rachel semakin tidak karuan, seperti ada segerombolan orang mabuk yang berjoget tanpa terkendali di bawah dentuman musik disco.
"A--Abang, to--tolong kondisikan tangannya. Aku bisa pingsan ini," kata Rachel terbata.
Rachel sudah benar-benar merasa tidak tahan dengan sikap Satria, saat ini dia merasa jika lelaki yang berada di hadapannya kini bukanlah Satria.
Pria yang ada di hadapannya itu terlihat seperti pria lain, dari dulu Satria selalu saja diam dan bersikap kalem.
"Benarkah?" tanya Satria seraya mendekatkan wajahnya.
Rachel terlihat panik, dia terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya seraya memegang erat sabuk pengaman yang dia pakai.
"A--Abang mau apa?" tanya Rachel ketar-ketir.
__ADS_1
***
Selamat sore kesayangan, selamat beristirahat. Selamat menikmati hari Minggu, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Hayo, kira-kira Satria mau apa?