
Dari sebelum menikah memang Ridwan berkata jika dirinya dan juga Rachel tidak boleh memiliki keturunan terlebih dahulu, karena Rachel masih kuliah.
Usia Rachel baru sembilan belas tahun, Ridwan merasa kasihan jika putrinya harus mengandung dan melahirkan di usianya yang masih sangat muda.
Namun, tepat di malam pertama mereka melakukan hubungan suami isteri saja, Satria sudah lupa untuk mengeluarkan cairan cintanya.
Awalnya Satria merasa sangat bersalah, tapi setelah Rachel berkata jika istrinya itu tidak keberatan jika dia harus memiliki keturunan dengan cepat, Satria malah merasa sangat senang.
Lalu, kini Ridwan bertanya dengan tidak senang kepada dirinya. Satria tersinggung, tapi dia berusaha untuk meredam kekesalannya.
Walau bagaimanapun juga kini yang berada di hadapannya itu adalah mertuanya, dia harus berbicara dengan sebaik-baiknya.
"Satria minta maaf sebelumnya, Yah. Tapi aku dan Rachel sudah sepakat akan memiliki anak tanpa ditunda. Maaf jika Satria tidak menuruti keinginan Ayah," ucap Satria dengan tenang.
Ridwan terlihat menghela napas berat, lalu dia mulai bersuara kembali.
"Bukan seperti itu, hanya saja Rachel masih sangat kecil. Ayah hanya---''
Ridwan yang belum menyelesaikan ucapannya langsung terdiam kala Rachel meneriaki namanya.
"Ayah!"
Rachel yang sudah selesai membuat minuman langsung menghampiri Ridwan dan langsung duduk di samping ayahnya itu, dia langsung memeluk Ridwan.
"Maaf, jika aku mengecewakan. Aku malah tidak ingin menunda kehamilan," kata Rachel seraya menepuk-nepuk lengan ayahnya.
Ridwan merasa serba salah, ingin marah tapi dia begitu menyayangi anak dan menantunya itu. Lagi pula Ridwan kini merasa sudah tidak berhak lagi atas putrinya, karena dia sudah bersuami.
"Kamu masih kecil, Sayang." Ridwan mengingatkan.
Rachel sangat sadar jika usianya baru sembilan belas tahun, tapi dia sudah menikah. Rasanya dia juga berhak memutuskan apa yang ingin dia lakukan.
__ADS_1
"Tapi aku sudah menikah, bukankah menunda momongan itu tidak baik,'' kata Rachel.
Ridwan terlihat kebingungan harus menjawab apa ucapan dari putrinya seperti apalagi, dia terlihat berpikir lalu berkata.
"Tapi, Sayang. Ayah hanya---''
Rachel terlihat menatap wajah ayahnya, dia tersenyum lalu berkata
"Aku paham, Ayah sayang padaku. Ayah begitu mengkhawatirkan aku, tapi aku dan suamiku juga mempunyai rencana. Ayah pasti paham," ucap Rachel.
Kembali Ridwan menghela napas berat, tentu saja Ridwan sangat paham. Hanya saja dia khawatir, wajar bukan.
"Hem, Ayah paham. Ayah hanya terlalu khawatir," jawab Ridwan.
Rachel begitu paham jika ayahnya itu pasti begitu mengkhawatirkan, karena walaupun dia sudah mempunyai suami, tetap saja kasih sayang seorang ayah tidak akan tertandingi.
Hanya saja menurut Rachel memang Ridwan terlalu mengatur tentang kehidupan dirinya dan juga Satria, terlalu ikut campur.
Ridwan menatap manik mata putrinya, dia tersenyum kala melihat sebuah keyakinan di sana. Walaupun tetap rasa khawatir begitu mendominasi.
''Baiklah, Ayah mendukung," kata Ridwan dengan khawatir.
Rachel dan Satria akhirnya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ridwan, bu Airin yang sejak tadi menyimak obrolan suami bersama anak menantunya langsung menghampiri suaminya.
Dia tidak ingin memperpanjang masalah tersebut, justru dia ingin menyudahi obrolan tersebut. Bukannya tidak sopan terhadap suaminya, hanya saja putrinya juga sudah berkeluarga dan mempunyai privasi sendiri.
"Ayo kita makan, Sayang," ajak Bu Airin.
Ridwan terlihat menolehkan wajahnya ke arah sang istri, dia tersenyum lalu menjawab ajakan dari istrinya tersebut.
"Aku tidak lapar, aku di sini saja," kata Ridwan.
__ADS_1
Bu Airin tersenyum, dia tahu jika suaminya itu sedang merasa kecewa sekaligus senang karena putrinya sudah dewasa dan sudah memiliki penentuan sendiri.
"Ya sudah, kalau begitu kita tunggu mereka makan. Habis itu kita ke Rumah Sakit," ajak Bu Airin.
Ridwan nampak kaget mendengar bu Airin mengajak dirinya untuk pergi ke Rumah Sakit, siapa yang sakit pikirnya. Karena seingatnya tidak ada yang sakit di antara mereka.
Ridwan jadi berpikir, mungkinkah istrinya itu sakit tapi tidak berani berkata apa pun kepada dirinya.
"Mau apa ke Rumah Sakit?'' tanya Ridwan.
Bu Airin mencoba bersikap senang mungkin, dia tersenyum kepada suaminya lalu berkata.
"Kamu curiga jika Rachel sedang hamil bukan? Kita akan memeriksakan kondisi kandungannya Rachel," jawab Bu Airin.
Ridwan tersenyum karena ternyata tidak ada yang sakit, istrinya juga sangat sehat. Bu Airin mengajak dirinya untuk pergi ke Rumah Sakit hanya untuk memeriksakan kondisi kandungan Rachel.
"Hem, itu ide yang bagus," jawab Ridwan dengan tersenyum yang dipaksakan.
Berbeda dengan Satri dan juga Rachel, mereka terlihat tersenyum penuh arti mendengar obrolan antara kedua orang tua dari Rachel tersebut.
Mereka sungguh berharap, apa pun nanti hasilnya. Semoga itu adalah hal yang terbaik yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka berdua.
Tentunya, jika Rachel benar-benar mengandung benih dari Satria. Maka Rachel akan sangat bahagia, karena dia bisa mengandung benih dari pria yang sejak kecil dia cintai itu.
"Ayo kita makan, Sayang. Ayah dan Bunda tidak mau diganggu," celetuk Satria.
"Baiklah, suamiku." Rachel tertawa seraya mengerling nakal ke arah suaminya.
Bu Airin dan juga Ridwan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari anak dan menantunya tersebut.
Namun, dalam hati mereka yang paling dalam. Mereka benar-benar bahagia melihat keharmonisan di antara Satria dan juga Rachel.
__ADS_1