Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Menyambung Hidup


__ADS_3

Yudha kini sedang berada di rumah kontrakannya, dia masih setia duduk dengan tatapan mata menerawang jauh.


Yudha masih asik dengan lamunannya, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan saat ini. Padahal dia sudah sangat senang karena mendapatkan tempat usaha yang bagus dengan harga yang murah.


Namun kini harapannya pupus, karena uang miliknya sudah habis digondol wanita yang selama ini menjadi pemuas naffsunya.


Dia merasa tak habis pikir jika Leana akan melakukan hal tersebut terhadap dirinya, padahal Yudha sudah berniat akan menikahinya.


Karena dia benar-benar menyukai Leana, dari mulai wajahnya, cara Leana berpenampilan, bahkan dia menyukai Leana saat mereka melakukan hubungan panas di atas ranjang.


Leana selalu pandai membuat dia puas di atas ranjang, Leana selalu mau menjadi pengendalinya di atas tubuhnya. Sayanganya Leana dengan teganya meninggalkan Yudha.


"Dasar permpuan kampret!" teriak Yudha.


Yudha terlihat mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dia menyugar rambutnya beberapa kali. Setelah lebih tenang, kembali dia melamunkan nasibnya.


Yudha terlihat mengetuk-ngetukkan jari tangannya ke atas meja, dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk dia bertahan hidup saat ini.


Uang sudah tidak ada, rumah pun tak punya. Lalu, apa yang harus dia andalkan lagi?


Pekerjaan pun dia sudah tidak punya, jika dia melanjutkankan untuk menyewa tempat untuk dia berusaha, dia bingung uangnya dari mana.


Setelah lama berpikir, akhirnya terbersit sebuah ide di dalam benaknya.


"Sepertinya aku harus menjual mobilku saja, uangnya bisa untuk membeli alat lukis. Membayar sewa rumah dan makan sehari-hari," kata Yudha.


Yudha pun berpikir untuk kembali menjadi pelukis jalanan, karena hanya itu pekerjaan yang murah dan tak memerlukan banyak biaya.


"Sepertinya besok aku harus menjual mobilnya, untuk sekarang lebih baik aku tidur saja," ucap Yudha.


*/*


Pagi pun menjelang, Yudha sudah terlihat rapih. Dia sudah berniat untuk pergi ke showroom mobil, dia ingin menjual mobil miliknya. Dia berharap, dia akan mendapatkan harga jual yang tinggi.


"Sepertinya aku harus sarapan terlebih dahulu," ucap Yudha lirih.


Setelah mengatakan hal itu, Yudha pun keluar dari rumah kontrakannya. Kemudian, dia pun melangkahkan kakinya menuju tempat biasa dia membeli nasi uduk.


Tiba di sana, dia bertemu dengan Daus yang juga sedang membeli nasi uduk. Yudha nampak berdehem, kemudian berdiri tepat di samping Daus.

__ADS_1


Daus sempat terlihat kikuk saat matanya bersitatap dengan Yudha, namun dia berusaha tenang agar orang di sekitaran dia tidak curiga.


Padahal, semua tetangga sudah tahu jika Daus dan Leana memanglah mempunyai hubungan khusus.


"Saya duluan, Bang." Daus langsung kabur setelah mendapatkan nasi uduknya.


Yudha nampak menganggukan kepalanya, setelah kepergian Daus Yudha nampak memesan nasi uduk kesukaannya.


"Nasi uduknya satu porsi, lengkap dengan semur jengkolnya," pesan Yudha.


"Iya, tunggu sebentar." Mpok Erna langasung membuatkan pesanan nasi uduk untuk Yudha.


Ibu-ibu yang berada di sana nampak berbisik-bisik. Mereka mulai membicarakan Yudha dan juga Daus.


"Korban si remang-remang, udah abis diporotin langsung kabur." Kata Ibu A.


"Udah seminggu aku lihat keluar dari rumah si Duda terus, diupahin berapa tuh ama dia?" kata Ibu B.


"***Kayaknya bawa uang banyak deh, saya lihat kopernya gede banget." Kata Ibu C.


"Hebat ya dia, kecil-kecil sudah bisa nyari duit sekoper***," kata Ibu D.


"Nasi uduknya jadi Rp15.000," ucap Mpok Erna.


Yuda yang sedang asyik mendengarkan ibu-ibu ngerumpi pun, langsung memalingkan wajahnya ke rmarah Mpok Erna.


"Iya, Mpok." Yudha langsung merogoh saku celananya, kemudian dia pun mengambil dompetnya dan mengambil 1 lembar uang Rp100.000.


"Duitnya masih gede aja, kirain udah jatuh miskin gegara duitnya dibawa sama si Leana," kata Mpok Erna.


Yudha terlihat mendelik sebal mendengar apa yang dikatakan oleh Mpok Erna, namun dia tak bisa berkata apa-apa, karena pada kenyataannya memang uangnya sudah raib dibawa oleh Leana.


"Ini kembaliannya," kata Mpok Erna.


Yudha tersenyum, lalu dia terlihat mengambil uang kembaliannya. Setelah itu, Yudha pun langsung melangkahkan kakinya menuju rumah kontrakannya.


Tentu saja Yudha langsung sarapan dengan nasi uduk yang sudah dia beli, setelah selesai Yudha pun langsung pergi ke showroom mobil yang letaknya tak jauh dari rumah kontrakannya tersebut.


Tiba di showroom mobil, Yudha pun langsung menghampiri salah satu pegawai yang ada di sana.

__ADS_1


"Permisi, Nona. Saya ingin menjual mobil milik saya," ucap Yudha.


"Boleh, Tuan. Boleh saya lihat mobilnya," ucap wanita itu.


"Boleh-boleh," kata Yudha.


Yudha pun langsung menunjukkan mobil sejuta umat yang selalu dia pakai kepada wanita tersebut, dengan telaten wanita tersebut mengecek kondisi mesin mobil Yudha.


"Sepertinya mobil ini masih baru ya?" ucap perempuan tersebut.


"Ya, belum lama," kata Yudha membenarkan. "Jadi, kira-kira berapa harga jualnya?" tanya Yudha.


"Walaupun ini mobil belum lama anda pakai, namun tetap saja jatuhnya mobil second. Kami hanya bisa membayar anda dengan harga seratus tiga pulu juta," ucap wanita itu.


Yudha nampak kaget mendengar apa yang diucapkan oleh wanita tersebut, Jesicca berkata jika dia membeli mobil tersebut dengan harga dua ratus enam juta, lalu dia harus kehilangan uang sekitar tujuh puluh enam juta, luar biasa sekali, pikirnya.


"Tapi, Nona. Apa itu tidak terlalu murah?" tanya Yudha.


"Kalau anda merasa penawaran saya sangatlah murah, anda bisa mencobanya ke showroom mobil yang lain," ucap wanita tersebut.


Karena penasaran, akhirnya Yudha pun berpamitan kepada wanita tersebut dan mencoba peruntungannya untuk pergi ke showroom mobil yang lain.


Dia berharap, ada showroom mobil yang lain yang mau membayar mobilnya dengan harga tinggi.


Yudha pun berkeliling dengan mobil sejuta umat berwarna merah miliknya, sudah lima showroom mobil yang dia datangi.


Namun, tetap saja tak ada yang mau membeli mobilnya dengan harga tinggi. Yudha pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di depan Mart, sekalian menghilangkan rasa hausnya.


Yudha nampak duduk sambil meminum air putih yang dia beli di Mart, sesekali dia terlihat mengusap wajahnya dengan kasar.


Dia bingung apakah harus menjual mobilnya tau tidak, namun... dia tak punya uang lagi untuk biaya hidupnya.


"Sepertinya harus dijual ini mobil, terus gue beli motor aja buat sehari-hari," kata Yudha lirih.


Yudha pun segera pergi ke salah satu showroom mobil yang menawarkan harga jual mobil paling tertinggi, seratus enam puluh juta.


"Lumayanlah, dari pada gue ngga bisa ngelanjutin hidup," kata Yudha seraya berlalu.


Setelah dia mendapatkan uangnya, Yudha pun langsung pergi ke dealer motor. Dia ingin membeli motor matic untuk dia pakai sehari-hari.

__ADS_1


__ADS_2