
Pagi ini Jesicca bangun dengan hati riang, karena dia akan menjaga bu Sari. Itu artinya dia akan mendapatkan gaji, bekerja sambil mengurusi Putri.
Selepas subuh Jesicca nampak memakan kue yang diberikan oleh Juki, dia juga meminum segelas susu agar perutnya bisa kenyang.
Tak lupa Jesicca juga menyiapkan sarapan untuk Putri, dia menyeduh bubur kemasan dengan air panas lalu menunggunya matang.
"Semoga saja Putri anteng, agar aku bisa mengurusi bu Sari dengan baik," monolog Jesicca.
*/*
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Jesicca nampak menggendong Putri lalu membawanya menuju rumah bu Sari.
"Assalamualaikum," sapa Jesicca di depan pintu bu Sari yang nampak terbuka.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya seorang pria anak dari pemilik kostan tersebut nampak berjalan menghampiri Jesicca.
"Waalaikum salam," terdengar jawaban dari bibir Juki.
Juki terlihat sudah sangat rapi dan juga tampan. Dia terlihat memakai setelan kerjanya, karena harus segera pergi ke luar kota.
"Eh, Mbak--"
"Jesicca, Mas." Dia memotong ucapan Juki dengan cepat.
Juki nampak tersenyum, lalu dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ehm, Mbak Jesicca. Ibu ada di ruang makan, sedang sarapan. Kalau Mbak mau sarapan bisa brengan sama ibu," kata Juki.
Mengingat Jesicca yang tidak mempunyai stok makanan, Juki pun menawarkan Jesicca untuk sarapan bersama dengan bu Sari.
"Tidak usah, Mas. Saya sudah sarapan," jawab Jesicca cepat.
Rasanya Jesicca sangat malu jika harus menumpang sarapan di rumah bu Sari, karena kue yang dia makan pun adalah kue pemberian dari Juki.
"Ya sudah, tidak apa kalau tidak mau," kata Juki.
Pandangan Juki beralih kepada Putri yang berada di gendongan Jesicca, baby cantik itu nampak sedang tersenyum ke arahnya sambil berceloteh.
"Babababa," ucapnya seraya menggoyang-goyangkan kedua tangan dan kakinya.
Bibir Juki nampak tersenyum, namun tatapan matanya berubah menjadi sendu. Dia mengingat akan putrinya yang belum lama meninggal dunia.
Baru saja terlahir ke dunia, namun tidak bisa bertahan lama. Hal itu membuat dirinya sangat sedih, karena di hari yang sama dia kehilangan dua wanita yang sangat dia sayangi dan dia cintai.
"Ya ampun, Sayang. Kamu lucu sekali, siapa nama kamu?" tanya Juki.
__ADS_1
Melihat raut sendu di wajah Juki, Jesicca berniat untuk menghibur lelaki yang kini berada di hadapannya tersebut.
"Putri, Om. Namaku Putri, anaknya Ibu Jesicca yang cantik," jawab Jesicca seraya menirukan suara anak kecil.
Mendengar jawaban dari Jesicca, Juki nampak terkekeh. Kemudian, dia mencubit gemas pipi gembil Putri. Lalu dia berkata.
"Titip Nenek Sari ya, Cantik. Om mau keluar kota dulu," pamit Juki.
Mendengar perkataan dari Juki, Putri nampak tertawa dengan sangat riang. Dia seakan berkata, jika dia bersedia menemani bu Sari.
"Iya, Om," jawab Jesicca.
Kembali Juki tertawa saat Jesicca menirukan suara anak kecil saat menjawab pertanyaannya.
Entah kenapa, hal itu begitu menyenangkan untuk Juki. Apa lagi saat melihat Putri yang sangat lucu dan menggemaskan sekali di matanya.
Juki terlihat mengajak Jesicca untuk masuk ke dalam rumahnya, tiba di ruang makan, dia langsung menghampiri bu Sari.
Wanita itu terlihat sedang duduk di atas kursi roda sambil menikmati sarapannya, iya... semenjak jatuh kemarin sore, bu Sari tidak dapat berjalan karena kakinya keseleo dan juga memar sampai ke paha.
Tanpa aba-aba, Juki langsung memeluknya dengan erat dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Juki pergi dulu, Ibu tidak usah khawatir. Karena ada Mbak Jesicca dan juga Putri yang akan menemani Ibu," kata Juki.
Bu Sari tersenyum, kemudian dia malerai pelukannya dan menatap wajah putranya dengan lekat.
Juki memang sering keluar kota, karena perusahaan yang dia naungi memang berada di luar kota. Dia akan pulang sesekali saja, itu pun jika ada perlu di kantor cabang yang ada di pusat kota.
"Hati-hati, Sayang. Jangan lupa sering-sering video call, ibu pasti rindu," kata Bu Sari.
"Iya, Bu." Kembali Juki melabuhkan kecupan di kening ibunya.
Setelah berpamitan kepada Ibunya, Juki langsung pergi ke luar kota. Selepas kepergian Juki, bu Sari nampak tersenyum, karena dia tidak akan kesepian. Ada Putri dan juga Jesicca yang akan menemaninya.
"Jesicca."
"Ya, Bu," jawab Jesicca.
"Tolong bantu dorong kursi rodanya, saya mau berjemur di taman. Sekalian saya mau ngajakin Putri berjemur," kata Bu Sari.
"Iya, Bu," jawab Jesicca.
"Putri dudukin di pangkuan saya saja," pinta Bu Sari.
Awalnya Jesicca merasa tidak enak hati ketika harus mendudukkan Putri di atas pangkuan bu Sari, dia takut bu Sari akan kesakitan.
__ADS_1
Karena putrinya memang sedang aktif dalam bergerak, namun setelah bu Sari meyakinkan jika dia sanggup memegangi Putri, akhirnya Jesicca pun menyetujuinya.
Jessica nampak mendorong kursi roda yang dipakai oleh bu Sari menuju taman, sedangkan Putri terlihat asyik berceloteh di pangkuan bu Sari.
Wajah bu Sari terlihat ceria sekali, sesekali dia mengajak Putri berbicara. Mereka tampak akrab, walaupun Putri berbicara dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh bu Sari.
Tiba di taman bu Sari memilih untuk duduk di dekat bunga-bunga yang sedang bermekaran, karena menurutnya di sana sangat segar udaranya.
"Di sini saja," pinta Bu Sari.
Jesicca menurut, karena dia memang ditugaskan untuk menjaga dan menemani bu sari. Tidak mungkin dia menolak keinginan dari pemilik kostannya tersebut.
Bu Sari terlihat asik berjemur seraya memangku Putri, sedangkan Jesicca terlihat mengedarkan pandangannya.
Dia melihat dan memerhatikan orang-orang yang sedang asik bermain di taman, ada anak kecil, remaja, dewasa sampai kakek-nenek yang bermain di taman.
Tak lama kemudian, tatapan Jesicca terpaku pada sosok pria yang tak jauh darinya, pria itu terlihat sedang menatap dan memerhatikannya dengan lekat.
"Siapa sih dia?" tanya Jesicca.
Sosok pria itu nampak tersenyum seraya menghampiri Jesicca, dahi Jesicca nampak mengernyit ketika pria itu semakin mendekat ke arahnya.
"Mas Yudha," celetuk Jesicca.
"Iya, ini aku. Aku--"
Yudha terlihat diam seraya memerhatikan wajah Jesicca dan juga Putri secara bergantian, senyum bahagia dia tampilkan kala melihat wajah cantik Putri yang terlihat begitu mirip dengannya.
"Apa itu Putri?" tanya Yudha.
Jesicca terdiam, dia bingung harus berkata apa kepada lelaki yang sudah menghianati dan meninggalkan dirinya itu.
"Jesicca, siapa lelaki itu?" tanya Bu Sari.
Bu Sari sebenarnya bisa menebak, siapa lelaki yang kini bersama dengan Jesicca. Karena wajah Yudha begitu mirip dengan bayi yang ada di pangkuannya.
Jesicca hanya bisa diam saat mendapatkan pertanyaan tersebut dari bu Sari, jika berkata Yudha adalah suaminya, Yudha sudah jelas pergi meninggalkan dirinya.
Namun, Yudha belum mengucapkan kata talak untuknya. Lalu, Jesicca harus memperkenalkan sebagai siapa Yudha kepada bu Sari?
*
*
Bersambung....
__ADS_1
Selamat malam kesayangan, satu bab buat nemenin kaleyan masak sahur. Semoga lancar puasanya ya, semoga diberi kelancaran sampai lebaran nanti.