Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Berkilah


__ADS_3

"Usir saja, Jesicca dari kampung kita Pak RT. Nanti dia bisa menggoda lelaki lain lagi selain Kang Maman," ucap Ibu A.


"Hooh, Pak RT. Sudah diterima si Kampung kita malah kaya gitu, pikaseubeleun (menyebalkan)!" kata Ibu B


"Tampangnya Cantik, sayangnya wanita haus belaian. Jangan-jangan ngga punya suami, ya? Anak yang kamu bawa anak haram, ya?" ucap Ibu B memojokkan.


"Cukup! HARAP TENANG DAN DIAM, SAYA MAU BICARA!" tegas Pak RT.


Semua warga nampak terdiam setelah mendengar teriakan pak RT yang memekikkan telinga.


"Biar lebih jelas, saya ingin memdengarkan versi kalian cerita dari kalian berdua. Biar saya bisa mengetahui siapa yang jujur, biar saya bisa mengetahui keputusan apa yang akan saya ambil," jelas Pak RT.


"Langsung usir Neng Jesicca aja Pak RT, Kang Maman sudah pasti Ngga salah," jawab Ibu C.


"Saya bilang DIAM, hargai saya sebagai RT. Silahkan Maman!" tagas Pak RT.


"Jadi begini Pak RT, saya akan baru selesai membantu Neng Jesicca merapikan semua barang belanjaannya. Tanpa saya duga Jesicca malah menarik saya kedalam kamarnya, dia memaksa saya untuk melakukan hubungan badan dengan dirinya. Saya menolak, namun dia terus saja memaksa saya. Bahkan saya didorong sampai terjengkang ke lantai, lalu dia naik ke atas tubuh saya dan mencoba untuk memperkosa saya," jelas Maman.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Maman, semua warga yang ada di sana langsung ricuh. Mereka terlihat mencemooh Jesicca, pak RT memperhatikan raut wajah Maman yang dirasa janggal.


Lalu dia memperhatikan wajah Jesicca yang terlihat benar-benar sendu, bahkan pelipis Jesicca terlihat membiru.


Bibir Jesicca pun terlihat sobek dan masih ada luka bekas darah yang mengering di sana, pak RT terlihat mengernyitkan dahinya, dia benar-benar merasa jika apa yang dikatakan oleh Maman terasa janggal.


"DIAM! Sekarang, kita dengarkan cerita versi Neng Jesicca kata Pak RT," kata Pak RT.


Jesicca yang sedari tadi menunduk, langsung mendongakan kepalanya. Dia memberanikan diri menatap Pak RT, lalu dia pun mulai menceritakan kejadian yang menimpanya.


"Jadi begini Pak RT, saat saya sedang duduk di tepian ranjang. Tiba-tiba ada Kang Maman yang datang mengelus pundak saya, dia mengajak saya untuk melakukan hubungan badan. Namun, saya menolak. Saya langsung dipukuli oleh Kang Maman hingga bibir saya sobek, berulang kali saya menolak namun tenaga Kang Maman sangatlah kuat. Saya--"


"Jangan dengarkan dia Pak RT, mana ada maling mau ngaku. Malah mencoba membalikkan keadaan, hebat sekali!" kata Maman seraya mencibir ke arah Jesicca namun hati nampak ketar-ketir.

__ADS_1


"Stop, Maman. Saya sedang berbicara dengan Neng Jesicca, jangan menyelak!" kata Pak RT.


Pak RT terlihat menatap tajam kearah Maman, dia semakin curiga jika Maman' lah yang memang bersalah. Namun, para warga terlihat sudah dibutakan oleh asumsi sendiri.


"Lanjutkan Neng Jesicca!" ucap Pak RT dengan nada penuh perintah.


Jesicca menganggukkan kepalanya, lalu dia mulai menceritakan kembali kejadiannya tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Setelah menceritakan kejadian yang menimpanya, Jesicca nampak berdiri. Kemudian, dia menatap wajah ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sana.


"Sepertinya kalian ini adalah orang-orang yang pandai dan juga bijak, coba kalian pikir. Kalau memang saya yang memaksa Kang Maman, kenapa Kang Maman terlihat baik-baik saja? Sedangkan wajah saya terlihat babak belur seperti ini?" tanya Jesicca dengan bibir yang bergetar dan air mata yang terlihat berurai.


Ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sana mulai goyah dengan keyakinannya, mereka mulai berbisik-bisik sembari memperhatikan wajah Jesicca dan bergantian melihat wajah Maman.


Maman nampak serba salah setelah melihat tatapan maut dari para warga, dia mulai khawatir jika kebusukkannya akan terbongkar.


"Maman!" teriak Pak RT.


"Saya tidak bersalah Pak RT, saya berani sumpah kalau Neng Jesicca yang mengajak saya melakukan hubungan badan, bukan saya!" seru Maman seraya mengibas-ngibaskan tangannya, namun wajahnya tetap saja terlihat tegang.


"Jesicca benar Pak RT, dia tidak bersalah! Jesicca memang hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf. Tapi saya sangat tahu jika dia sudah berubah," kata Bi Minah.


Bi Minah nampak datang dengan menggendong Amira, anak itu terlihat ketakutan. Dia memeluk bi Minah dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher neneknya tersebut.


Mendengar apa yang diucapkan oleh bi Minah, semua orang nampak mencibir. Karena pada kejadian yang sedang berlangsung, bi Mina tidak ada di sana.


Maman bahkan yang lebih kencang meneriakkan kata penolakan untuk apa yang diucapkan oleh bi Minah, dengan lantang dia pun berkata.


"Sok tahu kamu, Bi. Kamu itu lagi pergi ngater barang, mana tahu kejadiannya kaya apa," seru Maman.


"Ya, saya sedang pergi. Makanya kamu bisa leluasa untuk berusaha menyalurkan hasrat terkutuk kamu itu!" seru Bi Minah.

__ADS_1


"Halah, palingan juga sengaja ngebela. Wong piaraannya," celetuk Maman lagi.


"Berhenti berbicara yang tidak-tidak, Maman!" bentak Bi Minah.


Bi Minah nampak melangkahkan kakinya kemudian dia menghampiri pak RT, lalu dia pun memberikan ponsel miliknya Amira kepada pak RT.


Pak RT sempat mengernyit heran dengan apa yang dilakukan oleh bi Minah, namun setelah mendapatkan tatapan yang mengisyaratkan jika pak RT harus melihat ponsel milik Amira, pak RT pun langsung menganggukkan kepalanya.


Dia mengambil ponsel milik Amira, lalu memutar video yang ada di ponsel tersebut. Mata pak RT langsung membulat dengan sempurna kala dia melihat rekaman dari ponsel milik Amira.


Di sana terlihat dengan jelas apa yang dilakukan Maman terhadap Jesicca, bahkan pak RT tak habis pikir jika Maman tega memukuli Jesicca seperti orang kesetanan.


Durasi rekaman penganiayaan yang Maman lakukan hanya sembilan belas detik, namun ponsel itu ternyata menyala sampai hampir tiga puluh menit lamanya.


Tentu saja hal itu bisa terjadi, karena setelah Amira melihat kejadian tersebut, dia hanya terdiam di pojokan ruang tamu sambil memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya.


Ponsel yang dia bawa bahkan tergeletak begitu saja, namun tetap dalam keadaan menyala. Tiga puluh menit kemudian, bi Minah datang.


Dia terlihat sangat kaget saat melihat keadaan cucunya, dia meraih tubuh mungil cucunya ke dalam gendongannya. Kemudian, dia pun mengambil ponsel yang masih menyala dan mematikannya.


"Saya tidak menyangka Pak RT dengan apa yang dilakukan oleh Maman, cucu saya bahkan terlihat ketakutan seperti ini," ucap Bi Minah seraya menunjukkan keadaan Amira.


Semua warga yang ada di sana nampak bertanya-tanya, sebenarnya rekaman video apa yang diserahkan oleh bi Minah kepada pak RT.


Bersambung....


*


*


Selamat pagi kesayangan, terima kasih sekali untuk kalian yang selalu membaca novel karya Othor ini.

__ADS_1


Terima kasih juga untuk kalian yang selalu meninggalkan jejak berupa like, comment, vote dan juga hadiahnya.


Tanpa kalian apalah aku, i love u all 😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2