Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 42


__ADS_3

Tiba di ruang tamu, Putri dan juga Reon langsung duduk saling berhadapan. Reon terlihat sangat gugup, berbeda dengan Putri yang nampak terlihat tenang.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Reon.


"Ehm, begini, Pak. Saya mau tanya, sebenarnya bagaimana perasaan Bapak terhadap saya? Lalu, apa niat dan tujuan Bapak mendekati saya?" tanya Putri.


Mendengar pertanyaan seperti itu dari Putri, Reon nampak gugup. Dia terlihat menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.


Posisi ini benar-benar sangat terbalik dari keadaan biasanya, karena biasanya perempuan' lah yang akan gugup jika ditanya hal seperti itu


Namun, berbeda dengan Reon. Dia yang malah terlihat sangat gugup sekali, bahkan keringat dingin mulai bercucuran.


"Pak, tolong jawab pertanyaan dari saya," pinta Putri.


Putri hanya ingin memastikan, jika memang Reon sungguh-sungguh kepada dirinya, apa salahnya untuk Putri mencoba membuka hati untuk seorang pria.


Karena sedari dulu Putri tidak pernah mencoba membuka hati untuk pria manapun juga, karena menurut Putri, pacaran itu tidak terlalu penting.


Reon terlihat memberanikan diri untuk menatap netra Putri dengan lekat, kemudian Reon mulai berkata.


"Sebenarnya aku sudah lama menyukaimu, saat kuliah dulu aku sempat melihat kamu memakai seragam SMP. Di saat teman-teman kamu pergi bermain, kamu tidak melakukan hal itu. Kamu malah pulang dan membantu ibumu untuk mengurus kedua adikmu, aku merasa sangat kagum akan hal itu," jawab Reon.


Putri tersenyum Kenapa yang dikatakan oleh Reon, kemudian dia berkata


"Jika seperti itu, Bapak tidak mencintai saya. Namun, Bapak hanya mengagumi saya," kata Putri.


Reo nampak menggelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Putri.


"Ya, dulu aku mengagumimu. Namun, lama-kelamaan tumbuh cinta di hatiku. Makanya saat kamu kuliah dan mengatakan berniat untuk bekerja kepada om Juki, aku meminta om Juki untuk menyuruh kamu melamar di perusahaanku," jawab Reon Jujur.


"Oh ya ampun, pantas saja," jawab Putri.


Saat itu Putri sebenarnya ingin melamar ke perusahaan lain. Namun, Juki merekomendasikan dirinya untuk melamar ke perusahaan milik Reon.


Hal itu dia lakukan karena Reon begitu bersungguh-sungguh meminta tolong kepada Juki saat itu.


Pada akhirnya Juki setuju untuk membantu Reon. Namun, sebelum itu dia berkata.


'Aku hanya membantumu agar Putri mau melamar di perusahaanmu, jika kamu memang menyukai putriku, maka dekati dia dengan cara yang baik-baik. Karena anakku adalah putri yang sangat baik,' kata Juki saat itu.


Reon sangat senang, karena walau bagaimanapun juga itu artinya dia akan selalu berdekatan dengan Putri.


Dia berpikir, yang terpenting Putri bisa masuk ke perusahaannya. Maka dengan seperti itu dia bisa mendekati Putri dengan mudah.

__ADS_1


Selama enam bulan ini dia berusaha mendekati Putri, sayangnya Putri tidak pernah merespon sama sekali.


Awalnya dia merasa santai, karena lagi pula menurut Reon Putri masih kuliah. Dia masih harus menjalankan kuliahnya di semester akhir.


Namun, saat melihat Satria dekat dengan Putri, dia takut jika Putri malah akan dekat dengan lelaki lain, walaupun itu bukan Satria.


Dia merasa lebih baik mengungkapkan perasaannya dengan segera, agar dia bisa menikahi Putri dengan cepat.


"Putri, saya mohon. Terima cinta saya, kalau perlu kita langsung nikah aja. Ngga usah pacaran dulu," pinta Reon.


"Oh, ya ampun. Saya belum kenal sama Bapak, mana mungkin asal nikah begitu aja," keluh Putri.


"Kita bisa berkenalan setelah menikah, tidak dosa loh kau sudah menikah," kata Reon.


"Hem, saya tahu. Masalahnya, saya tidak mau seperti membeli kucing dalam karung. Saya tidak mau menyesal setelah kita menikah nanti, lagi pula Bapak belum tahu bagaimana sikap saya," kata Putri.


Reon nampak terdiam, dia merasa jika yang dikatakan oleh Putri ada benarnya. Namun, entah kenapa Reon merasa jika hatinya sudah terpaut dengan Putri.


Reon sangat yakin jika Putri adalah pilihan hatinya, Reon sangat yakin jika nanti mereka menikah Putri akan mampu menjadi istri yang baik untuknya. Putri juga akan mampu menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.


"Jadi, maunya kamu bagaimana?" tanya Reon.


"Lima bulan lagi saya akan wisuda, bagaimana jika selama lima bulan ini kita gunakan waktu untuk masa penjajakan. Kalau Bapak merasa cocok, kita akan menikah setelah saya wisuda," kata Putri.


Tidak masalah baginya jika dirinya harus menunggu selama lima bulan lagi. Toh menunggu selama bertahun-tahun saja dia sanggup.


"Aku setuju," kata Reon.


"Tapi, saya punya satu syarat untuk Bapak. Apakah Bapak mau mengabulkan syarat dari saya?" tanya Putri.


Awalnya Reon nampak mengernyitkan dahinya. Namun, tidak lama kemudian dia nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Apa pun syaratnya, selama dia mampu dia akan melakukannya.


"Apa?" tanya Reon.


"Bapak tidak boleh menyentuh saya selama kita belum menikah, setelah menikah nanti, Bapak boleh melakukan apa pun. Tanpa kekerasan," jelas Putri.


"Okeh, aku siap," jawab Reon pasti.


Putri tersenyum, walaupun dia belum menyukai Reon, tapi dia sangat bangga karena selama dia mengenal Reon.


Reon termasuk pria yang baik, dia tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Bahkan dalam dunia bisnis pun dia sangat berprestasi.


"Kalau begitu, sekarang Bapak pulang. Ini sudah sangat malam," kata Putri.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh Putri, Reon langsung tertunduk lesu. Dia merasa mendapatkan pengusiran dari wanita yang sangat dia cintai itu.


Putri tersenyum, dia seolah paham dengan apa yang dirasakan oleh Reon. Kemudian, dia berkata.


"Jangan lesu seperti itu, ingat! Nanti kalau kita sudah halal, Bapak boleh loh membawa saya langsung ke rumah Bapak. Siang malam pasti kita akan bertemu," kata Putri.


Wajah Reon nampak berubah menjadi binar bahagia, dia menatap Putri dengan lekat lalu kembali berkata.


"Jadi, kamu mau tinggal sama saya kalau sudah menikah nanti?" tanya Reon.


"Tentu saja, tapi ada syaratnya lagi," kata Putri.


"Apa?" tanya Reon cepat


"Nanti, kalau Bapak menikah dengan saya, Bapak harus membuatkan rumah di samping rumah Baba. Karena saya tidak mau berjauhan dengan Baba, saya juga mau Bapak tidak membatasi karir saya," kata Putri


Reon tersenyum mendengar penuturan dari Putri, tentu saja dia setuju membangunkan rumah untuk Putri walaupun di dekat rumah Juki.


Karena itu artinya, mereka akan tetap berduaan di dalam rumah mereka. Untuk karir Putri, tentu saja dia juga tidak akan melarangnya.


Karena Putri bekerja di perusahaan miliknya, apa yang harus dikhawatirkan, pikirnya.


"Aku setuju," jawab Reon.


"Oke, kalau begitu Bapak pulang gih," kata Putri.


"Hem," jawab Reon.


Pada akhirnya Reon berpamitan kepada Putri, Alex, Ansel, Juki dan juga Jesicca. Karena memang waktu sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh malam.


Beruntung dia tidak diusir dari sana, menurutnya Juki itu adalah ayah yang sangat pengertian.


Dia juga merasa tidak menyesal mencintai Putri, karena ternyata Putri bukanlah wanita yang gampangan.


Kata bangga juga dirasakan oleh Juki, saat terjadi percakapan antara Reon dan juga Putri, ternyata Juki ikut mendengarkan di balik tembok.


Dia merasa sangat bangga karena ternyata Putri bisa menjaga dirinya dengan baik, dia merasa sangat bangga saat mendengar Putri mengajukan permintaan kepada Reon.


Ternyata ucapan Putri sedari kecil tidak hanya ucapan saja. Namun, benar-benar akan dia wujudkan Yaitu, dia tidak akan pernah meninggalkan dirinya. Sungguh Juki merasa sangat terharu.


****


Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2