
Larasati terlihat mengerjapkan matanya, tubuh bagian depannya terasa sangat dingin. Namun herannya, punggungnya terasa hangat.
Perutnya terasa ada yang mengusap dengan lembut, bahkan tak lama kemudian dia merasa jika lehernya terasa basah, sedikit sakit dan terasa geli.
Larasati berusaha mengumpulkan kesadarannya, lalu menolehkan wajahnya ke arah belakang.
Ternyata itu semua ulah Jonathan, suaminya. Dia terlihat sedang asik mengecupi lehernya dan berakhir dengan menggigit kecil pundaknya.
"Mas! Ini jam berapa?" tanya Larasati.
Menyadari istrinya tengah bangun, Jonathan bukannya menjawab pertanyaan dari Larasati. Namun, tangan nakalnya malah merambat naik dan meremat dada istrinya.
"Aduh, Mas!" keluh Larasati.
Larasati merasakan tubuhnya meremang, Jonathan langsung menyeringai. Dia segera bangun dan mengurung pergerakkan istrinya.
"Kamu mau apa?" tanya Larasati.
"Mau kamu," jawab Jonathan.
Tangan Jonathan sudah sudah bersiap untuk kembali meremat dada istrinya, namun dengan cepat Larasati menarik selimut untuk menutupi dadanya.
Hal itu dia lakukan bukan karena tidak mau bermesraan dengan sang suami, hanya saja waktu sudah menunjukkn pukul empat pagi saat dia melirik jam digital yang ada di atas nakas.
Tadi malam saja Jonathan menggempurnya sampai dua jam lebih, tubuh Larasati terasa sakit dan remuk.
Itulah Jonathan, tidak pernah melakukannya berkali-kali. Namun, satu kali dia melakukannya, Jonathan akan melakukannya dalam waktu yang lama.
"Kenapa? Tidak boleh?" tanya Jonathan.
Larasati terlihat menatap Jonathan, di dalam otaknya dia sedang berpikir. Ucapan apa yang pantas dia katakan kepada suaminya tersebut, agar suami tanpanya itu tidak tersinggung.
"Bukan, bukan! Bukannya tidak boleh, tapi sudah jam empat. Sudah mau subuh, mandi yu?" ajak Larasati dengan cengir kudanya.
Jonathan langsung melirik jam, benar saja apa kata istrinya. Sebentar lagi subuh, dia tidak mau bermain kilat.
Wajahnya yang sejak tadi terlihat sumringah, kini berubah menjadi sendu. Karena dia harus menahan hasratnya.
"Baiklah, kalau begitu kita mandi." Jonathan bangun dan langsung menggendong Larasati.
"Mas!"
Larasati benar-benar merasa takut, jika Jonathan akan mengajaknya untuk bergelung dalam gulungan kenikmatan.
__ADS_1
"Hem," jawab Jonathan.
Jonathan mengeluarkan suara tanpa menatap Larasati, pandangannya hanya lurus ke depan. Namun, hal itu tetap saja membuat Larasati menjadi curiga.
"Kamu ngga akan berbuat macam-macam, kan?" tanya Larasati.
Jonathan terlihat tersenyum, lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja tidak, sebentar lagi waktu subuh. Aku tidak rela kalau harus bermain cepat," ucap Jonathan.
Mendengar ucapan dari Jonathan, dahi Larasati terlihat berkerut. Memangnya kenapa pikirnya tidak mau bermain cepat? Bukankah yang penting bisa keluar?
"Memangnya kenapa kalau cepat?" tanya Larasati.
Mendengar Larasati yang terus aja bertanya terhadap dirinya, kuping Jonathan terasa panas. Bahkan miliknya kini mulai mengeras, namun dia tahan dengan sekuat tenaga.
"Sudah jangan berisik! Nanti aku khilaf," kata Jonathan seraya menurunkan tubuh Larasati dan mendudukannya di atas closet.
Larasati menurut, dia diam sambil duduk anteng di atas closet.
"Aku isi buthupnya dulu," kata Jonathan.
Larasati menganggukkan kepalanya, dia terlihat memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya.
Namun, Jonathan selalu saja memanjakan dirinya. Larasati sudah seperti seorang ratu, selalu saja diperlakukan spesial, dilayani dan dimanjakan.
Bahkan tanpa dia berkata ingin ini dan itu, Jonathan akan langsung melakukan apa pun yang Larasati inginkan, sepertinya dia sangat tahu apa isi hati dari Larasati.
Padahal saat dia menjadi istri Yudha, Yudha tidak pernah sama sekali memberikan perhatian yang lebih kepadanya.
Selalu saja Larasati yang berusaha untuk memanjakan Yudha, selalu saja Larasati yang berusaha untuk memperhatikan Yudha.
Jika mereka kekurangan uang pun, selalu saja Larasati yang berusaha untuk mencari ide agar mereka tidak hidup susah. Karena Larasati tidak ingin melihat Yudha susah saat hidup bersama dirinya.
"Terima kasih," kata Larasati saat tubuhnya mendarat dalam buthup berisi air hangat.
"Sama-sama, Sayang." Jonathan ikut masuk dan berendam dengan istrinya.
*/*
Pagi ini Yudha terlihat sudah sarapan, dia bersiap untuk pergi ke Puskesmas. Hari ini adalah jadwal dia untuk kontrol, dia sengaja memilih Puskesmas. Agar lebih murah dalam menjalani pengobatannya.
Sekarang Yudha sudah tidak memiliki simpanan uang yang banyak, semua uang hasil penjualan mobil banyak terpakai untuk sewa rumah dan juga membeli peralatan lukis.
__ADS_1
Dia juga menghabiskan uang untuk biaya makan sehari-hari dan juga biaya berobat, karena penghasilan dia dari melukis sangat tidak tentu. Lukisan yang dia buat hanya terjual satu atau dua buah saja dalam setiap minggunya.
Itu juga tidak banyak, karena Yudha menjual lukisannya hanya dalam kisaran tiga ratus ribu sampai lima ratus ribu.
"Sebaiknya aku berangkat sekarang, mumpung masih pagi. Agar tidak mendapatkan antrian dengan nomor tinggi," kata Yudha seraya mengeluarkan motor maticnya dari dalam rumah kontrakannya.
Yudha terlihat memanaskan motornya sebentar, setelah itu dia segera pergi menuju Puskesmas.
Tiba di Puskesmas, ternyata dia mendapatkan antrian nomor 3. Dia langsung tersenyum karena dia tidak harus menunggu lama.
"Sukurlah, aku sekarang harus segera menuju ruang VCT," kata Yudha.
Tiba di depan ruangan VCT, Yudha terlihat duduk di bangku tunggu. Setelah setengah jam menunggu, nama Yudha pun dipanggil oleh seorang suster.
Yudha menurut, dia langsung mengikuti langkah suster dan langsung masuk ke dalam ruang VCT tersebut.
"Silakan duduk!" kata Dokter
"Terima kasih, Dok." Yudha langsung duduk tepat di hadapan Dokter tersebut.
"Bagaimana kabar anda?" tanya Dokter berbasa-basi.
"Beginilah," kata Yudha seraya menggedikkan kedua bahunya.
Dokter tersenyum lalu dia berkata.
"Anda harus mendapatkan pengobatan ARV secara teratur seumur hidup, ya... walaupun kita tidak tahu apakah anda akan sembuh atau tidak. Tapi setidaknya mampu mencegah penularan HIV, juga mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) seperti anda," jelas Dokter.
"Iya, Dok," jawab Yudha lemah.
"Satu hal lagi yang pasti, anda jangan pernah melakukan hal yang bisa menularkan penyakit ini kepada orang lain," kata Dokter
"Menularkan penyakit ini kepada orang lain, maksudnya?" tanya Yudha.
"Jangan pernah melakukan hubungan seksualitas dengan wanita atau lelaki sekalipun, karena itu berbahaya," jelas Dokter.
Mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, Yudha langsung tertunduk lesu. Itu artinya dia tidak akan mempunyai pendamping hidup sampai akhir hayatnya.
Karena dia tidak ingin menularkan penyakit sialan tersebut kepada orang yang sangat dicintai dalam hidupnya.
*/*
Setelah selesai melakukan pengobatan, Yudha tidak langsung pulang ke rumah kontrakannya. Dia malah duduk di sebuah tanah kosong yang berada di pinggiran kota.
__ADS_1
Dia sedang merenungkan apa yang terjadi dalam hidupnya, dia sedang merenungkan apa saja kesalahan yang dia lakukan terhadap orang-orang yang pernah hadir di dalam hidupnya.