Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Dilema


__ADS_3

Sore ini Yudha terlihat lesu, dia sempat mencari Leana ke kampusnya. Dia bertanya kepada teman-temannya, namun teman-temannya tak ada yang tahu di mana keberadaan Leana.


Akhirnya Yudha bertanya kepada salah satu dosen yang ada di sana, ternyata Leana sudah mengundurkan diri dari kampus tersebut.


Namun, saat ia bertanya kemana perginya Leana, sayangnya dosen tersebut tak tahu. Yudha benar-benar kalut setelah mengetahui Leana yang sepertinya sudah merencanakan semuanya secara matang.


Setelah keluar dari kampus, Yudha berusaha mencari Leana ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh Leana.


Sayangnya Leana seakan hilang ditelan bumi, tak ada di mana pun dan saat dia bertanya tak ada yang tahu di mana keberadaan Leana.


Tubuhnya terasa lemas, dadanya terasa sesak dia tidak menyangka jika dirinya akan diperlakukan seperti ini oleh Leana.


"Tega sekali kamu, Leana. Kurang apa aku?" keluh Yudha.


Karena cape dan juga lelah, akhirnya Yudha pun memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakan Leana.


Tiba rumah kontrkan kecil yang biasa dia tempati dengan Leana, Yudha langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.


Dia mencoba berpikir, sebenarnya kemana perginya Leana. Yudha juga berpikir, kenapa begitu teganya Leana membawa kabur semua uang Yudha.


Karena terlalu lelah berpikir, Yudha nampak menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


Tak lama kemudian, Yudha tertidur. Padahal perutnya belum diisi dari siang, namun... karena kegundahan hatinya, dia bahkan tak merasa lapar sama sekali.


Pukul 01:11 dini hari.


Yudha merasa jika punggungnya ada yang mengelus-elus, bahkan semakin lama semakin turun dan terasa ada yang meremat bokongnya.


Yudha berusaha memusatkan kesadarannya agar bisa terbangun, tak lama dia mendengar ada suara seorang pria.


"Bangun dong, Sayang. Abang cape nungguin kamu ngga datang-datang, katanya mau nyoba gaya baru. Abang udah siap, sampe rela loh, Abang ngendap-ngendap jalan kesini." Kembali lelaki itu mengelus-elus bokong Yudha dan merematnya.


Sebenarnya dia sudah tak tahan, rasanya geli sekali. Namun dia ingin tahu apa lagi yang akan dikatakan oleh pria Itu.


"Yang, ko diem aja. Bang Daus rindu," ucapnya lagi.


Deg!


Jantung Yudha seakan berpacu dengan cepat, dia jadi teringat akan duda yang dibicarakan oleh ibu-ibu rumpi kala itu.

__ADS_1


Yudha juga jadi teringat akan Leana yang selalu pergi saat malam tiba, dia pun jadi berpikir jika dia sudah dibodohi oleh Leana.


"Yang!" suara pria itu sudah naik satu oktaf, Yudha yang sudah tak tahan pun langsung menyingkap selimutnya.


Lalu dia pun menatap tajam lelaki yang kini sedang duduk di tepian tempat tidur, lelaki bertubuh besar, berkulit hitam dan berjambang lebat itu nampak membelalakan matanya saat melihat wajah geram Yudha.


"Ka--kamu siapa?" tanya Lelaki itu.


"Yang seharusnya bertanya itu saya, bukan kamu. Kenapa kamu datang ke rumah kontrakan saya? Terus, kenapa kamu ngelus-ngelus badan saya kayak gitu? Siapa kamu?" tanya Yudha dengan kobaran api amarah di matanya.


"Sa--saya Firdaus Artanabil, maaf kalau saya salah masuk rumah. Saya kira ini rumah kontrakan pacar saya," ucapnya.


Untuk sekilas Yudha memperhatikan penampilan lelaki tersebut, dari mulai wajahnya dan tinggi badannya.


Lelaki itu terlihat seperti turunan dari negeri Onta, dia pun jadi berpikir. Mungkinkah dia berselingkuh dengan Leana di belakangnya?


Karena dia masih ingati, jika Leana berkata 'punya kamu ngga gede, tapi keras'. Maka dari itu, Leana mencari yang lebih besar dari miliknya.


"Pergilah sebelum aku marah!" kata Yudha.


"I--iya, baik. Maaf kalau saya sudah mengganggu waktu tidur anda," katanya.


Yudha bahkan sampai menggelengkan kepalanya, saat melihat lelaki bertubuh besar itu terlihat ketakutan terhadap dirinya yang lebih kecil tubuhnya dari lelaki tersebut.


"Sialan! Besok aku harus kembali mencari Leana, awas saja kau perempuan keparat!" umpat Yudha.


Yudha langsung kembali merebahkan tubuhnya, dia mencoba mengontrol emosinya dan dia pun kembali terlelap dalam tidurnya.


*/*


Pukul sembilan pagi Yudha kembali mencari keberadaan Leana, sayangnya kemana pun dia mencari, dia tak pernah menemukan sosok wanita yang dia cari itu.


Dia benar-benar lelah, dia kesal, dia marah karena uang miliknya habis tak tersisa dibawa oleh Leana.


Bahkan kini di dalam dompetnya hanya ada uang sebesar Rp200.000 saja, dia bahkan bingung dengan uang yang dia pegang saat ini.


Dia pun jadi mengingat Jesicca, wanita yang masih berstatus istrinya tersebut. Yudha pun tersenyum, kemudian dia pun berkata.


"Sepertinya aku harus menemui Jesicca, aku tidak mungkin bisa hidup dengan uang Rp200.000 ini. Setidaknya aku bisa numpang makan dan numpang tidur di sana," ucap Yudha tanpa tahu malu.

__ADS_1


Dengan penuh semangat Yudah pun langsung melajukan mobilnya menuju komplek perumahan tempat Jesicca tinggal.


Setengah jam kemudian, dia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Jesicca. Yudha terlihat turun dari mobilnya dan langsung mengetuk pintu rumah Jesicca.


Sayangnya, berkali-kali dia mengetuk pintu. Namun tak ada sahutan, bahkan rumah itu pun terlihat begitu sepi.


"Sebenarnya dia pergi kemana? Kenapa rumah ini terlihat begitu sepi?" tanya Yudha lirih.


Yudha terlihat celingukan, dia mencari orang yang bisa dia ajak bicara. Tak lama kemudian, dia pun melihat seorang ibu-ibu yang hendak masuk ke dalam rumahnya.


Yudha pun segera menghampiri Ibu tersebut.


"Maaf, Bu. Permisi, saya mau numpang tanya," kata Yudha.


Ibu tersebut pun menghentikan langkahnya, lalu dia menatap Yudha.


"Ya, ada apa ya, Dek?" tanyanya.


"Saya mau tanya, Bu. Perempuan yang tinggal di rumah sebelah sana, pergi kemana ya, Bu? Kenapa dia tidak ada di rumahnya? Apakah dia sedang pergi?" tanya Yudha.


"Oh, setahu saya ya kemarin ada rentenir yang menagih hutang ke rumah tersebut. Anaknya bahkan dibawa sama penagihnya," kata Ibu tersebut.


Yuda terlihat kaget mendengar penuturan dari Ibu tersebut, dia pun jadi mengingat jika rumah tersebut sudah dia gadaikan kepada Juragan Juki.


Dia pun jadi was-was kala mendengar hal tersebut, mungkinkah Jesicca dan juga putrinya menjadi jaminan?


"Kalau begitu terima kasih, Bu," ucap Yudha lesu.


"Sama-sama," ucap Ibu tersebut.


Setelah bertanya kepada Ibu tersebut, Yudha pun nampak masuk ke dalam mobilnya. Dia terdiam sambil memikirkan nasib Jesicca dan juga putrinya.


Dia bertanya dalam hatinya, bagaimana keadaan Jesicca saat ini? Bagaimana keadaan putrinya saat ini? Lalu, ke mana bi Minah?


Yudha pun jadi berpikir, apakah dia harus ke rumah Juragan Juki? Namun, jika dia ke sana. Dia takut dia akan ditagih atas uang 300 juta yang dia pinjam itu.


*


*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2