Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Suasana Canggung


__ADS_3

Seharusnya Larasati dan Jonathan pulang pukul empat sore, namun karena kegiatan yang telah mereka lakukan, membuat mereka telat pulang ke rumah.


Pukul delpan malam Larasati dan juga Jonathan baru sampai ke kediaman Dinata, tentu saja karena setelah selesai bercinta Jonathan langsung mengajak istrinya untuk makan terlebih dahulu.


Dia takut jika istrinya akan lemas karena ulahnya, setelah itu baru Jonathan mengajak Larasati untuk membeli martabak pesanan dari Satria. Lalu, dia mengajaknya untuk pulang.


"Buna, Daddy!" teriak Satria kala melihat kedua orang tuanya turun dari mobil.


"Hey, Boy. Ini pesanan kamu," kata Jonathan seraya mengunjukkan martabak pesanannya.


"Yeeyy, akilnya bisya makan maltabak!" seru Satria.


Padahal Satria bisa kapan saja membeli dan menikmati martabak yang dia inginkan, namun dia hanya ingin memakan martabak yang dibelikan oleh Larasati dan juga Jonathan.


Mungkin itu hanya cara dari Satria sebagai bentuk rasa untuk minta diperhatikan, karena Larasati dan Jonathan yang memang sering sibuk.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Satria langsung merentangkan kedua tangannya seraya melompat-lompat.


Jonathan sangat paham jika sudah seperti itu, itu artinya Satria ingin digendong oleh dirinya. Dengan senang hati Jonathan menggendong putra sambungnya tersebut.


Lalu dia mendekap erat tubuh mungil Satria, Satria langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Jonathan lalu menyandarkan kepalanya di pundak daddynya tersebut.


Satria benar-benar merasa nyaman mempunyai sosok seorang ayah sambung seperti Jonathan, karena Jonathan benar-benar pengertian dan perhatian terhadap putra sambungnya tersebut.


Tiba di ruang keluarga, Jonathan langsung menurunkan Satria dan mendudukkannya di atas sofa.


Kemudian, Satria meminta Jonathan untuk menyuapi martabak yang sudah dia pesan. Tentu saja Jonathan mau, karena baginya Satria adalah putranya juga.


Walau pada kenyataannya, Yudha'lah ayah kandungnya. Namun, dia benar-benar menyayangi Satria layaknya anak sendiri.


"Ekhm!"


Tuan Elias terlihat berdehem dengan sangat keras saat melihat keakraban antara Jonathan dan juga Satria.


Sebenarnya dia merasa senang karena Jonathan benar-benar perhatian terhadap cucunya, namun dia merasa kecewa karena anak dan menantunya itu tidak ikut makan malam bersama.


Bahkan, mereka tidak memberikan kabar kepada tuan Elias dan juga nyonya Meera. Tentu saja hal itu membuat mereka merasa terabaikan.


"Mom, Dad." Larasati langsung bangun kemudian memeluk tuan Elias dan juga nyonya Meera secara bergantian.


"Kenapa kalian pulang telat?" tanya Nyonya Meera.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari mommynya, Larasati terlihat bingung. Dia tersenyum kikuk seraya mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin.


Apalagi saat melihat tatapan mata dari tuan Elias yang terlihat menatapnya dengan tatapan menelisik, membuat dia merasa tidak nyaman.


Tuan Elias terlihat memperhatikan penampilan Larasati dari atas sampai bawah, lalu bergantian memperhatikan penampilan Jonathan.


Tak lama kemudian, tuan Elias nampak mengernyitkan dahinya saat melihat baju yang mereka pakai nampak berbeda.


"Eh? Kenapa kalian pulang dengan baju yang berbeda? Kenapa dengan baju yang kalian pakai tadi pagi?" tanya Tuan Elias.


Mendengar pertanyaan dari tuan Elias, Jonathan yang terlihat sedang asyik menyuapi Satria langsung menghentikan aktivitasnya.


Dia merasa bingung harus menjawab apa, tidak mungkin bukan jika dia berkata jika baju yang pagi mereka pakai kusut dan juga berantakan akibat ulah mereka berdua.


Melihat Larasati dan juga Jonathan yang terlihat serba salah, tuan Elias pun akhirnya mengerti.


Tatapan yang tadinya terlihat tajam, kini berubah kenjadi binar bahagia. Bahkan bibirnya yang sedari tadi terlihat cemberut, kini berubah melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Daddy mengerti! Sekarang, kalian lanjutkan saja bermain dengan Satria. Segera ajak Satria tidur kalau makan martabaknya sudah selesai, takutnya kalian mau melanjutkan sesi kedua," goda Tuan Elias seraya berlalu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Elias, wajah Jonathan dan juga Larasati terlihat berubah menjadi merah


Berbeda dengan nyonya Meera yang kebingungan, dia celingukan menatap Larasati dan juga Jonathan secara bergantian.


Jonathan bingung harus menjawab apa pertanyaan dari mertua perempuannya tersebut, dia hanya bisa menggedikkan kedua bahunya.


"Tidak ada apa-apa, Mom. Sekarang Mom duduk saja, kita makan martabak sama-sama," kata Larasati.


Larasati terlihat merangkul kedua pundak mommynya, kemudian dia menuntun nyonya Meera untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruang keluarga tersebut.


"Baiklah, Mommy menurut," kata Nyonya Meera.


Setelah kepergian tuan Elias, terjadilah obrolan hangat antara nyonya Meera, Jonathan, Larasati dan juga Satria.


Mereka terlihat tertawa bersama sambil menikmati martabak yang dibelikan oleh Jonathan.


Setelah pukul sembilan malam, Larasati terlihat menggendong Satria dan membawanya untuk tidur di kamar milik Satria. Sedangkan nyonya Meera dan juga Jonathan terlihat pergi ke kamarnya masing-masing.


Ternyata tak butuh waktu lama untuk menidurkan Satria, hanya sepuluh menit saja anak itu sudah masuk ke dalam alam mimpinya.


Anak itu sepertinya sangat mengantuk sekali, mungkin karena dia kelelahan setelah melakukan aktivitasnya seharian.

__ADS_1


"Selamat tidur kesayangan Bunda, semoga mimpi indah." Larasati mengecup kening putranya.


Setelah menidurkan Satria, Larasati langsung masuk ke dalam kamar miliknya. Di sana Jonathan sudah menunggu dirinya, dia duduk di atas sofa seraya memainkan ponselnya.


Larasati tersenyum, kemudian dia duduk di samping Jonathan. Lalu, dia memeluk suaminya tersebut dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Jonathan tersenyum, lalu dia mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut. Sesekali dia labuhkan menunduk dan mengecup bibir istrinya.


"Mas!"


"Hem! Ada apa, Sayang?" tanya Jonathan.


"Itu Mas, bagaimana kalau kita membantu Angga?" tanya Larasati.


Mendengar pertanyaan dari Larasati, Jonathan terlihat memundurkan wajahnya. Lalu, dia menatap wajah istrinya dengan lekat.


"Memangnya Angga kenapa?" tanya Jonathan.


Mendengar istrinya bertanya tentang 'membantu Angga', dia jadi bertanya-tanya. Apakah angga sedang mengalami kesusahan, pikirnya.


"Angga mau menikah, Mas. Apa tidak sebaiknya kita membantu biaya untuk pernikahan Angga?" tanya Larasati.


Untuk sesaat Jonathan terdiam, dia juga sebenarnya memikirkan hal itu. Mini, adik sepupunya itu begitu menginginkan Angga untuk segera menikahinya.


Namun, Angga bersikukuh ingin mengumpulkan uang untuk biaya pernikahannya sendiri. Jika Jonathan membantunya, dia takut Angga akan merasa tersinggung.


"Mas terserah kamu saja, Mas manut," jawab Jonathan.


"Tapi, cara bantunya bagaiamana?" tanya Larasati.


Jonathan nampak terdiam, dia sedang mencari jawaban dari pertanyaan yang istrinya lontarkan. Tak lama kemudian, Jonathan nampak tersenyum.


"Aku tahu bagaimana caranya!" kata Jonathan tiba-tiba.


Bersambung....


*


*


Hai guys, aku sudah up dari jam satu malam. Kalau lolosnya lama aku minta maaf, karena itu bukan kehendak aku.

__ADS_1


Mungkin karena di bab sebelumnya ada adegang ngemut cabe yang bikin kepedesan, harap dimaklumi ya, guys.


Selamat beraktifitas untuk kalian semua dan semoga kalian sehat selalu 😘😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2