Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Permintaan Jesicca


__ADS_3

Jesicca hanya bisa terdiam seraya memandang wajah Yudha yang terlihat semakin tirus, tubuhnya juga terlihat kurus.


Bahkan Yudha terlihat lebih tua dari umur yang sebenarnya, dalam hati Jesicca bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang terjadi kepada lelaki yang sudah memberikan seorang putri kepadanya tersebut?


Rasa iba menyeruak di dalam hatinya, karena walau bagaimanapun juga Yudha pernah menjadi lelaki yang begitu dia cintai dan begitu dia butuhkan.


Dia ingin sekali bertanya, namun bibirnya seakan kelu. Kata-kata yang tersusun di dalam otaknya, seakan sulit untuk dia ungkapkan.


"Jessica!"


Panggilan bu Sari mengagetkan Jesicca, dia langsung memalingkan wajahnya ke arah bu Sari yang seolah sedang menunggu jawaban darinya.


"Ah, iya Bu," jawab Jesicca gugup.


"Saya tadi bertanya loh, kenapa kamu tidak menjawabnya?" tanya Bu Sari.


"Anu, Bu. Itu," ucap Jesicca seraya meremat kedua tangannya secara bergantian. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa saat ini.


"Ehm, maaf, Bu. Kalau ibu mengizinkan, saya ingin berbicara dengan Jesicca. Sebentar saja," pinta Yudha pada akhirnya.


Bu Sari nampak memerhatikan penampilan Yudha, tak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Silakan, tapi jangan jauh-jauh," kata Bu Sari.


Bu Sari takut jika Yudha akan melakukan hal yang tidak baik terhadap Jesicca, jadi dia meminta Yudha agar tidak jauh-jauh saat mengobrol dengan Jesicca.


Karena bu Sari bisa berteriak dengan cepat jika melihat Yudha berbuat yang hal aneh, pikirnya.


"Terima kasih, Bu. Tapi, sebelum itu. Bolehkah saya menggendong Putri?" tanya Yudha dengan raut penuh harap.


Untuk hal itu bu Sari merasa tidak mempunyai hak, dia terlihat menatap Jesicca untuk meminta persetujuannya.


Tentu saja Jesicca langsung menganggukkan kepalanya, karena walau bagaimanapun juga Yudha adalah ayah biologis dari Putri. Tidak mungkin Jesicca memisahkan putri dari Yudha.


"Boleh," jawab Jesicca.


Yudha terlihat sangat senang sekali, dia menghampiri bu Sari lalu menggendong baby cantik yang kini terlihat diam saja.


Baby cantik itu nampak memandang Yudha dengan lekat, dia seolah sedang menelisik wajah pria yang ada di hadapannya itu.


Melihat raut wajah Putri, Yudha terlihat takut sekali. Dia takut jika putrinya itu akan menangis saat Yudha menggendongnya.


Namun, tiba-tiba saja Putri terlihat mengelus lembut pipi Yudha. Lalu, dia pun tersenyum seraya menepuk-nepuk pipi Yudha.


Binar bahagia terpancar jelas di raut wajah Yudha, dia langsung mengangkat tubuh Putri dan mengusakkan kepalanya di perut Putri.


Putri langsung tertawa karena kegelian, tangannya bahkan sampai menjambak rambut Yudha .

__ADS_1


Namun, hal itu tidak membuat Yudha marah, justru dia sangat senang sekali. Karena putrinya memberikan respon yang baik terhadap dirinya.


"Maafkan Papa, Sayang. Maaf, karena Papa sudah meninggalkan kamu dan Ibu." Yudha terlihat mengecupi pipi gembil Putri seraya meneteskan air matanya.


Dia merasa sedih sekali jika mengingat kesalahannya terhadap Jesicca dan juga Putri, apa lagi jika mengingat kala dia meminjam uang kepada juragan Juki.


Dia benar-benar merasa bersalah, demi kesenangannya dengan Leana kala itu. Dia rela mengorbankan Putri dan juga Jesicca.


Yudha kini jadi bertanya-tanya, bagaimana caranya Jesicca bisa membayar hutangnya?


"Ehm, Mas. Katanya mau bicara," ucap Jesicca.


"Ah, Iya." Yudha terlihat mengusap air matanya.


Dia duduk di salah satu bangku taman sambil memangku Putri, Jesicca nampak duduk tidak jauh dari Yudha, lalu dia bertanya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, Mas?" tanya Jesicca.


"Aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku terhadap dirimu," kata Yudha.


"Sudah ku maafkan," jawab Jesicca cepat.


Jesicca sangat sadar, jika semua yang menimpa dirinya pasti adalah timbal balik dari kelakuan yang dia perbuat selama ini.


Jesicca akui jika selama ini hidupnya tidaklah baik, bahkan dia mendapatkan Yudha dengan cara yang salah.


Yudha tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, lalu dia pun berkata.


"Benarkah kamu sudah memaafkanku?" tanya Yudha.


"Iya, Mas. Untuk apa berlarut dalam hal yang akan membuat kita rugi," kata Jesicca.


"Kalau begitu, kita--"


Ucapan Yudha terhenti kala Jesicca mengangkat tangan kanannya, kemudian dia pun berkata.


"Mas sudah meninggalkan aku selama 6 bulan, menurut hukum Islam artinya kita tidak ada hubungan apa-apa. Apalagi mas menikahiku secara siri, sekarang bolehkah aku meminta sesuatu kepada, Mas?" tanya Jesicca.


Sebenarnya Jesicca sangat berat mengatakan hal ini, karena walau bagaimanapun juga Yudha adalah lelaki yang dia cintai.


Namun, rasa sakit hati yang ditorehkan oleh Yudha sangat besar. Sehingga hal itu membuat dia tidak bisa memercayai Yudha lagi.


Apa lagi jika mengingat kejadian yang menimpanya saat di kampung bi Minah, rasanya benar-benar sulit untuk Jesicca memercayai lelaki yang akan masuk ke dalam kehidupannya lagi.


Melihat wajah Jesicca, tatapan Yudha menjadi sendu. Entah kenapa dia mempunyai firasat buruk akan apa yang dikatakan oleh Jesicca.


"Mau minta apa, Mas sudah tidak punya apa-apa," kata Yudha seraya tersenyum kecut.

__ADS_1


"Aku mau kamu mengucapkan talak, Mas. Karena dengan seperti itu hatiku akan merasa tenang," jawab Jesicca.


DEG!


Mendengar perkataan Jesicca, tubuh Yudha benar-benar terasa sangat lemas. Dia baru saja merasakan kebahagiaan karena bisa bertemu dengan Jesicca.


Dia baru saja merasa senang karena bisa bertemu dengan Putri, dia bahkan berharap jika Putri dan Jesicca akan menjadi penyemangat dalam hidupnya. Namun kenyataan tidak seindah harapan.


"Apa tidak bisa kita bersatu lagi untuk Putri?" tanya Yudha.


"Maaf, Mas. Aku--"


Jesicca tidak menjawab, dia tertunduk seraya memilin ujung bajunya. Yudha terlihat menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya dengan perlahan.


Dia tidak menyangka jika pertemuannya dengan Putri dan juga Jesicca akan menghasilkan sebuah kekecewaan.


Namun, dia juga tidak bisa memaksakan. Dia bahkan sadar diri dengan keadaan dia saat ini.


"Baiklah aku akan memenuhi keinginanmu. Tapi, aku punya satu permintaan," kata Yudha.


"Permintaan apa?" tanya Jesicca.


"Bolehkah aku menemui putriku jika aku merindukannya? Kapanpun?" tanya Yudha.


Jesicca tersenyum, karena ternyata permintaannya tidaklah sulit. Dia berpikir jika Yudha akan bersikap egois seperti dahulu.


"Tentu, temuilah Putri. Kapanpun kamu mau, karena kamu adalah ayahnya," ucap Jesicca.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, Yudha nampak bisa bernapas dengan lega. Begitupun dengan bu Sari yang mendengarkan obrolan antara Jesicca dan juga Yudha.


Dia merasa senang karena dia tidak akan berpisah dengan Putri, dalam hatinya bu Sari sudah menyukai sosok baby cantik yang bernama Putri itu.


"Oiya, maaf sebelumnya. Bagaimana kamu bisa lepas dari Juragan Juki?" tanya Yudha.


Mendengar pertanyaan dari Yudha, Jesicca nampak tertawa dalam hati. Karena dulu dia bertemu dengan pria tua bernama Juki yang mempunyai banyak istri.


Pria itu bahkan terlihat begitu bernapsu untuk menjadikan Jesicca sebagai istrinya, istri entah yang keberapa Jesicca lupa.


Namun, kali ini dia bertemu kembali dengan pria yang bernama Juki, bedanya Juki yang dia temui kali ini nampak muda, tampan dan juga baik tentunya.


"Aku dibantu sama Mbak Laras," jawab Jesicca.


"La--laras?"


*


*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2