
Saat mobil Reon masuk ke pelataran rumah Juki, Putri terlihat mengernyitkan dahinya. Dia merasa sangat heran, karena di atas tanah di samping rumah Juki terlihat ada banyak pasir, semen, batako dan juga besi beton.
Padahal tanah seluas 420m² itu sudah Putri klaim sebagai miliknya, tanah yang di atasnya akan dia bangun menjadi rumah impiannya.
Reon yang melihat pujaan hatinya hanya diam saja langsung menegurnya, dia takut jika Putri kenapa-kenapa.
"Kok diem aja, ngga mau turun? Kamu masih kangen ya, sama aku? Atau mau aku kasih kiss dulu?" tanya Reon, tapi Putri masih terdiam.
Reon yang melihat Putri diam saja langsung mendekati Putri seraya memonyongkan bibirnya, sontak Putri langsung mendorong wajah Reon.
"Ish! Apaan sih, Mas?" keluh Putri.
Dia sampai menegakkan tubuhnya, dia takut jika Reon akan mendekatinya lagi dan nekat menciumnya.
"Kamunya ngelamun aja, ditanya juga diem aja. Aku jadi pengen godain kamu," kata Reon jujur.
Putri terlihat menghela napas berat, dia merasa dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Entahlah, Putri seakan merasa kecewa.
"Kamu kenapa sih? Cerita dong sama aku," kata Reon.
Putri terlihat menatap Reon, dia berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya terasa sesak.
"Aku tuh cuma aneh, apa baba akan membangun rumah lagi, ya?" tanya Putri lemah.
"Entah!" jawab Reon seraya menggedikkan kedua bahunya.
"Kamu tuh gitu!" keluh Putri yang merasa tidak puas dengan apa yang Reon katakan.
__ADS_1
Reon terlihat melepaskan sabuk pengamannya, kemudian dia menatap Putri dan mengelus lembut kedua lengan calon istrinya tersebut.
"Udah, kamunya ngga usah banyak pikiran. Sekarang kamunya turun gih, sudah sore. Katanya laper," kata Reon.
"Iya, aku turun dulu. Kamunya hati-hati," kata Putri seraya meraih tangan Reon dan mengecup punggung tangannya.
"Iya, Sayang," jawab Reon.
Setelah berpamitan kepada Reon, akhirnya Putri turun dari mobil milik kekasihnya itu. Putri terlihat melangkahkan kakinya dengan rasa kecewa di dalam dadanya.
Padahal sedari kecil Putri sudah berkata jika dia ingin membangun rumah tepat di samping rumah ayah sambungnya itu.
Hal itu dia lakukan agar dia bisa mengurus Jesicca dan juga Juki di masa tuanya, dia juga merasa tidak mau berjauhan dari kedua orang yang begitu menyayangi Putri itu
Tiba di ruang keluarga dia melihat Alex dan juga Ansel yang sedang duduk di dalam ruang keluarga, mereka terlihat asyik bermain game dengan ponselnya.
Putri langsung duduk di antara kedua adik kembarnya tersebut, lalu dia menyandarkan kepalanya di pundak Alex.
"Kaka sudah pulang?" tanya Alex. Dia terlihat tidak menolehkan wajahnya ke arah Putri, karena matanya terlihat begitu fokus pada layar ponselnya.
"Iya, Kakak sudah pulang. Kalian seru banget mainnya, ampe Kakak dicuekin," keluh Putri.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Putri, Alex dan Ansel langsung mematikan layar ponselnya. Kemudian mereka menolehkan wajahnya ke arah Putri.
"Iya, iya. Ini sudah di matiin ponselnya, sekarang Kakak bilang ada apa. Kenapa wajahnya terlihat kusut seperti itu?" tanya Alex.
"Iya, bener. Ngga kaya biasanya biasanya manyun begitu, susah senang juga ceria terus wajahnya!" timpal Alex.
__ADS_1
"Memangnya wajah Kakak kenapa? Orang masih kaya biasanya, kok," kata Putri.
"Ngga, Kakak keliatan kaya sedang kecewa gitu. Jangan bilang kalau kak Reon selingkuh!" celetuk Ansel.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ansel, Putri langsung menegakkan tubuhnya. Kemudian, dia berkata
"Engga, engga gitu ceritanya. Mas Reon ngga selingkuh, Kakak cuma lagi ngga enak badan aja," kata Putri beralasan.
Tidak mungkin bukan jika dia mengatakan kepada kedua adiknya jika dia merasa kecewa karena ternyata sepertinya Juki akan membangun rumah tepat di samping rumah yang kini mereka tempati.
"Aku ngga percaya, ketara banget deh kalau Kakak lagi bohong," kata Alex.
"Setuju, ngga kaya biasanya deh Kak Putri begini," kata Ansel menimpali.
"Kalian cerewet, Kakak mandi aja deh, kalian nyebelin!" keluh Putri yang merasa diinterogasi oleh kedua adik kembarnya.
Setelah mengatakan hal itu, Putri terlihat melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Alex dan juga Ansel terlihat saling tatap, kemudian mereka tertawa melihat tingkah dari kakak sulungnya tersebut.
Tiba di dalam kamar, Putri langsung melemparkan tas yang dia bawa ke atas sofa. Kemudian, dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Rasa lelah yang tadi dia rasakan terasa hilang dala. sekejap, karena kini rasa kecewa terasa mendominasi di dalam hatinya.
"Ish! Kenapa juga aku harus kecewa, wajar saja jika baba membangun tanah miliknya. Sadar Putri, kamu tuh hanya anak tiri," kata Putri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Walaupun dia berkata seperti itu, tapi tetap saja dia mengharapkan jika Juki akan memberikan tanah itu kepada dirinya.
Karena dia sungguh ingin membangun rumah di dekat Juki dan juga Jesicca dia benar-benar tidak ingin berpisah jauh dari kedua orang yang sangat dia sayang itu.
__ADS_1
****
Semat siang Bestie, jangan lupa like dan komentnya. Vote sama kembang atau kopi juga boleh, maafkeun karena Othor belum bisa rutin up.