
"Mas udah pulang?" bisik Jesicca.
"Hem, Mas Rindu. Sini!" kata Juki seraya menegakkan tubuhnya lalu menepuk kedua pahanya.
Jesicca tersenyum, dia bangun dengan perlahan lalu duduk di atas pangkuan suaminya.
"Kiss me please!" bisik Juki seraya meremat bokong istrinya.
Jesicca tersenyum, lalu dia menautkan bibirnya ke bibir sang suami. Juki langsung membalas tautan bibir istrinya, bahkan tangan kanannya mulai merambat naik mengusap punggung Jesicca dengan lembut lalu menarik tengkuk leher istrinya.
Hal itu Juki lakukan agar ciuman mereka semakin dalam dan semakin Juki bisa merasakan manisnya bibir sang istri.
Cukup lama bibir mereka saling bertaut, hingga hasrat mereka semakin menggebu. Bahkan Jesicca bisa merasakan jika milik suaminya sudah mengeras di bawah sana.
"Mas mau?" tanya Jesicca kala tautan bibir mereka terlepas.
Jesicca mengusap dada Juki, dia mulai membuka kancing kemeja yang Juki pakai. Namun dengan cepat tangan Juki menahan tangan Jesicca.
Juki menggelengkan kepalanya saat mendapatkan tawaran dari istrinya, bukan tidak mau. Juki sangat menginginkan Jesicca, apa lagi Jesicca sangat pandai memuaskannya.
Jesicca bahkan selalu bisa dengan mudah menebak apa yang Juki inginkan, Jesicca juga sangat pandai mengimbangi permainan yang Juki suguhkan.
Akan tetapi, dia takut Jesicca akan kelelahan karena ulahnya. Karena setiap hari dia selalu saja menggempur istrinya, dia tahu jika Putri juga sedang rewel, sudah dapat dipastikan kalau Jesicca cape luar biasa.
"Tumben, Mas nolak. Mas bosen ya sama aku?" tanya Jesicca dengan raut wajah kecewa.
Tidak biasanya Juki menolaknya, bahkan Juki selalu saja begitu agresif. Juki seakan tidak pernah lelah untuk menyentuhnya, walaupun dia baru saja pulang bekerja.
Dia sangat takut jika Juki bosan padanya, dia takut Juki akan meninggalkan dirinya. Karena Jesicca tidak bisa melayani dan memuaskan suaminya itu.
"Hey! Jangan sedih seperti itu, Mas tahu kamu cape. Mas tahu kamu lelah, hari ini Mas libur dulu. Mas akan memintanya kalau kamu sudah merasa lebih baik," kata Juki.
Wajah Jesicca yang sempat kecewa kini berubah menjadi sumringah. Ternyata Juki tidak mau menyentuhnya bukan karena bosan, atau karena dia yang tidak bisa melayani suami.
Namun, semua itu Juki lakukan karena menyayangi dirinya. Mengasihinya dan peduli terhadap dirinya.
"Kata Ibu Putri rewel, kamu pasti sibuk ngurusin Putri sampai belum sempat mandi. Sekarang mandi dulu, biar Mas yang jagain Putri," kata Juki seraya mengusap lembut pipi istrinya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, Jesicca langsung menampilkan senyum terbaiknya untuk suami tercintanya tersebut.
Ternyata Juki benar-benar perhatian terhadap dirinya, dia benar-benar merasa bahagia dan dia benar-benar merasa tidak salah pilih untuk menikah lagi dengan Juki.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas." Jesicca mengecup kening Juki dengan penuh kasih.
Juki memejamkan matanya, dia menikmati sentuhan bibir kenyal Jesicca saat menempel di keningnya.
"Hem," jawab Juki.
"Tapi, Mas. Itunya udah bangun, beneran ngga mau?" tanya Jesicca memastikan.
Jesicca bisa merasakan jika milik Juki kini benar-benar sudah berdiri dengan tegak.
"Jangan khawatir, nanti kalau dia sudah pegel pasti tidur lagi," jawab Juki seraya terkekeh.
"Baiklah, aku percaya. Aku mandi dulu," kata Jesicca.
"Iya," jawab Juki.
Jesicca turun dari pangkuan Juki dan segera masuk ke dalam kamar mandi, selepas kepergian Jesicca, Juki langsung merebahkan tubuhnya di samping Putri.
Dia berusaha menenagkan si entong yang sudah terlanjur bangun, dia mengambil napas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
Setelah merasa lebih baik, dia tatap wajah mungil Putri yang masih terlihat memerah. Dahinya terlihat berkerut dan bibirnya terlihat mengkrucut.
Putri terlihat seperti tidak nyaman dalam tidurnya, dia sepertinya masih menahan rasa sakitnya selepas imunisasi.
Juki tersenyum, lalu dia menepuk paha Putri dengan pelan dan dia kecup kening Putri dengan penuh kasih.
Bukannya makin terlelap, mata Putri malah nampak terbuka, senyum di bibirnya langsung merekah.
"Baba!" seru Putri.
Juki senang sekali jika Putri sudah memanggilnya seperti itu, dia toel hidung kecil Putri lalu dia kecup pipi gembilnya.
"Ya, Sayang. Ini Baba," kata Juki.
Juki elus punggung Putri, Putri tersenyum lalu dia tepuk-tepuk pipi Juki seraya tertawa.
"Kangen ya, sama Baba? Baba juga, Baba beliin Putri mainan. Kita mainan, yu?" ajak Juki.
Putri tertawa sebagai respon dari ajakan Juki, Juki langsung bangun dan menggendong Putri lalu keluar dari kamarnya.
"Tumben sebentar!" kata Bu Sari saat melihat Juki keluar dari kemarnya.
__ADS_1
Juki hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan dari ibunya, dia sangat paham kenapa Ibunya bertanya seperti itu, karena biasanya Juki akan menghabiskan waktu sampai hampir magrib di dalam kamarnya.
Tentu saja waktu itu dia habiskan untuk bercinta dengan istrinya, melepas rindu setelah seharian tidak bertemu.
Juki langsung duduk di samping Ibunya, dia rangkul pundak Ibunya lalu dia kecup keningnya.
"Jangan cemburu, kasih sayang Juki tetap besar untuk Ibu," kata Juki.
Bu Sari tersenyum, tanpa Juki menjelaskan bu Sari sangat tahu jika putranya sangat menyayangi dirinya.
Juki hanya sedang menikmati masa pengantinnya, Juki sedang getol-getolnya menyambangi lembah cinta milik istrinya.
Tentu saja hal itu Juki lakukan karena Juki sudah lama menduda, dia pasti begitu rindu dengan ritual penyatuan yang sudah sangat lama tidak dia lakukan.
"Hem, ibu tahu." Bu Sari memeluk putranya dari samping.
*/*
Di lain tempat.
Mini dan Angga terlihat begitu kelelahan, mereka baru saja sampai. Karena Mini dan Angga baru saja selesai mengecek persiapan pernikahan mereka.
Mulai dari gedung, baju pengantin, catering souvenir, sampai undangan dan juga pengecekkan kamar pengantin yang akan mereka pakai nanti.
Tentu saja kamar pengantin merupakan hal penting yang harus mereka persiapkan, itu adalah bagian terpenting dari malam pertama penyatuan mereka.
Harus di tempat romantis dan juga harus di tempat yang sangat nyaman, agar semua terasa sempurna.
"Cape, Yang." Mini memeluk Angga dari samping dan menyandarkan kepalanya di pundak Angga.
Angga tersenyum, kemudian dia membalas pelukan Mini dan mengecup puncak kepala wanita yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya.
"Hem, aku juga. Kita istirahat sebentar sebelum maghrib," kata Angga.
"Iya, Mas Angga, Sayang," jawab Mini.
Bi Narti yang melihat kebersamaan Angga bersama Mini nampak tersenyum, dia sangat senang karena pada akhirnya putra semata wayangnya akan menikah dengan wanita yang begitu baik.
'Semoga kamu bahagia, Le. Semoga kalian bisa bahagia terus sampai maut memisahkan, semoga bapak kamu ikut senang di surga sana,' do'a Bi Narti dalam hati.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Selamat pagi, selamat beraktivitas kembali. Salam sayang dari Othor yang kelewat soleha ini, i love you sekebon kembang.