
Pasangan yang baru saja menetapkan hari ini sebagai hari jadiannya itu terlihat begitu bahagia, dari siang sampai sore mereka terlihat menghabiskan waktu bersama.
"Ini sudah malam, sekarang tidurlah. Besok kita pulang." Angga menecup kening Mini dengan lembut.
"Hem, kamu juga tidur." Mini masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Angga yang sedang menatapnya dengan senyuman.
"Mimpi indah, Sayang." Angga terlihat berlalu menuju kamar yang sudah disiapkan oleh penjaga Villa.
Tiba di dalam kamar, Angga langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Hatinya benar-benar berbunga, bahagia yang dia rasa.
"Selamat malam, Sayang. Ternyata punya pacar itu menyenangkan," kata Angga seraya memeluk guling dan mencoba untuk memejamkan matanya.
Selama ini Angga memang sering mengagumi sosok wanita yang hadir dalam hidupnya, namun dia tak berani berpacaran.
Angga selalu fokus untuk menimba ilmu dan bekerja, dia ingin membuat ibunya bangga dengan prestasi yang dia raih.
Angga juga ingin mempunyai pekerjaan yang layak, agar bisa membahagiakan ibunya. Baginya bi Narti adalah segalanya, bi Narti adalah penyemangat dalam hidupnya.
Di pedesaan yang asri.
Jesicca nampak tertidur lelap dengan babynya, bayi berusia delapan bulan itu terlihat anteng dalam tidurnya.
BRAK!
Sebuah suara membangunkan Jesicca dari tidurnya, dia begitu kaget dan langsung turun dari tempat tidurnya.
Beruntung Putri seakan tidak terganggu dengan suara yang terdengar memekikkan telinga itu.
"Suara apa itu?" tanya Jesicca bermonolog.
Perlahan Jesicca mengambil bantal dan menyimpannya di samping Putri, jaga-jaga supaya putri cantiknya tidak terjatuh dari ranjang.
"Aku harus memeriksanya," kata Jesicca lirih.
Jesicca mulai melangkahkan kakinya, dia membuka pintu kamarnya dan mengedarkan pandangannya.
Pintu utama nampak tertutup rapat, tidak ada hal yang mencurigakan. Jesicca mencoba melangkahkan kakinya menuju dapur, mungkin asal suara itu dari dapur, pikirnya.
Saat Jesicca tiba di dapur, matanya langsung membulat dengan sempurna. Karena di sana ada tiga orang lelaki yang memakai penutup kepala.
__ADS_1
Jesicca mencari benda yang bisa dia gapai untuk memukul ketiga lelaki tersebut, sayangnya mereka sudah terlebih dahulu menghampiri Jesicca dan mengurung pergerakan Jesicca. Bahkan bibir Jesicca langsung dibekap.
"Mmph!" hanya suara itu yang keluar dari bibir Jesicca.
"Diam! Jangan berisik!" suaranya terdengar pelan namun penuh ancaman.
Seorang pria nampak masuk membuka penutup wajahnya, nampaklah wajah Maman, lelaki yang begitu menyukai Jesicca dan begitu ingin memiliki wanita itu.
"Neng, Jes. Kamu tega banget sama Akang, kamu tega memenjarakan Akang. Untung Akang bisa kabur dari penjara," kata Maman.
Maman menghampiri Jesicca dan mencengkram dagu Jesicca dengan kuat, Jesicca nampak meringis menahan sakit.
Maman nampak menyisir lekuk tubuh Jesicca yang terlihat begitu menggoda di matanya, tubuh Jesicca sekarang semakin sekal dan lebih menggoda di mata Maman.
"Saya sangat marah sama kamu Neng Jes, saya kecewa. Sekarang, saya mau ngasih pilihan untuk kamu, pergi dari kampung ini... atau melayani saya," kata Maman.
Jesicca terlihat menggelengkan kepalanya, tentu saja dua-duanya bukan pilihan yang baik menurutnya.
Maman terlihat kesal melihat respon dari Jesicca, dia langsung mencekik leher Jesicca dengan kencang. Bibir Jesicca yang dibekap dan badannya yang dikurung pergerakkannya membuat dia susah untuk bergerak ataupun berusara.
Wajahnya bahkan terlihat memerah, dia menahan rasa sakit dan juga sesak secara bersamaan. Karena merasa kasihan, Maman akhirnya melepaskan cengkraman tangannya. Dia menyeringai, lalu mendekatkan bibirnya ke cuping telinga Jessica.
Mata Jesicca terlihat berkaca-kaca, napasnya sesak dan terlihat tersenggal. Dadanya terlihat naik turun menahan gejolak amarah di dalam dadanya.
Dia ingin sekali memaki Mama, namun mulutnya yang di bekap serta tangannya yang dicengkeram kuat oleh kedua lelaki yang tidak dia kenal, membuat dia sulit untuk bergerak dan bersuara.
Maman tersenyum, lalu dia kembali bersuara.
"Kalau kamu tidak segera memberikan jawaban, jangan salahkan saya jika bi Minah dan anak sialan yang bernama Amira itu akan menjadi korban selanjutnya." Maman langsung mengelus dada Jesicca dengan wajah yang terlihat seperti kucing kelaparan.
Jesicca langsung menggelengkan kepalanya, dia berusaha memberontak. Dia merasa tidak sudi jika tubuhnya disentuh oleh lelaki seperti Maman.
Dia juga tidak ingin bi Minah dan Amira mengalami kesialan hanya karena dirinya, baginya bi Minah dan keluarganya begitu berjasa pada dirinya.
"Jawab!" kata Maman tepat di telinga Jesicca.
Jesicca terlihat bergumam dengan tidak jelas, karena bibirnya yang dibekap. Maman tertawa, kemudian dia pun memerintahkan kedua temannya untuk melepaskan bekapan mulut Jesicca.
Jesicca nampak mengatur napasnya setelah bekapan di mulutnya terbuka, Maman tertawa. Kemudian dia bertanya kepada Jesicca.
__ADS_1
"Jadi, apa jawabannya?" tanya Maman.
"Aku dan anakku akan pergi dari kampung ini," jawab Jesicca.
"Bagus! Kalau besok sore saya masih melihat kamu, Neng Jes. Jangan salahkan saya jika saya akan memperkosa kamu, ingat! Jangan remehkan saya," kata Maman.
Jesicca nampak menganggukkan kepalanya, Maman tersenyum. Lalu dia menyebutkan tubuh Jesicca sampai terpentok ke tembok, dia kurung pergerakkan Jesicca lalu mencium bibirnya dengan bringas.
Jesicca terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya, agar Maman tidak bisa menciumnya. Sayangnya Maman sudah seperti orang kesetanan, bahkan bibir Jesicca sampai berdarah karena bekas gigitannya.
"Bibir kamu ngga enak, Neng Jes. Asin," kata Maman seraya menghempaskan tubuh Jesicca sampai tersungkur ke lantai.
Maman tertawa, kemudian dia mengajak kedua temannya untuk pergi.
Jesicca terlihat merintih kesakitan, dia berusaha bangun dan mengusap air mata yang berlinang di pipinya.
Dia berusaha untuk tegar dan kuat untuk Putri, karena hanya Putri yang dia miliki saat ini. Dengan susah payah dia bangun menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, kemudian dia masuk kedalam kamarnya dan merapikan semua pakaian miliknya dan juga Putri.
Dia sudah memutuskan untuk segera pergi, karena tidak ingin bi Minah beserta anak dan cucunya menjadi imbas dari ancaman Maman.
"Aku harus pergi, aku tidak ingin membuat bi Minah dan juga Amira kenapa-kenapa. Tapi, aku juga harus pamit kepada bi Minah," ucap Jesicca.
Mengingat dirinya yang akan pergi, dia benar-benar sedih. Karena selama ini bi Minah dan juga keluarganya begitu baik terhadap dirinya. Rasanya dia begitu enggan untuk meninggalkan bi Minah.
*
*
*
Selamat siang kesayangan, ada yang bertanya kenapa alurnya tidak fokus kepada pembalasan untuk Yudha dan juga Jesicca?
Hehehe, maafkeun Othor, ya....
Soalnya kalau hanya fokus kepada Yudha dan Jesicca pasti Othor bosen, karena menurut Othor harus ada selingannya.
Othor pengennya tidak melulu tentang mengumbar pembalasan yang menyakitkan, pengen ada sesuatu yang bikin baper, bikin kesel, bikin senyum-senyum dan bikin happy.
Maafkeun buat kalian yang merasa tidak nyaman dengan ceritanya, buat yang selalu setia membaca karya Othor ini, terimakasih banyak.
__ADS_1
Disambung besok lagi, ya....