
Angga merasa jika tidurnya sudah sangat lama, dia berusaha untuk membuka matanya walaupun terasa sangat berat.
Saat matanya terbuka dengan sempurna, Angga melihat Mini yang sedang menatap wajahnya dengan intens.
"Sayang!"
"Hem, kamu bobonya lama banget. Padahal tadi malam kita cuma melakukannya sekali, tapi kamu seperti habis menggempurku semalam suntuk," kata Mini.
"Maaf, aku pertama kali melakukannya. Jadi sangat lelah," kata Angga sedikit menyindir.
Sayangnya, Mini terlihat biasa-biasa saja. Dia bahkan tertawa kecil saat mendengar penuturan dari Angga.
"Sudahlah, Sayang. Sekarang sudah pukul tiga sore, lebih baik kita mandi bersama. Setelah itu kita salat ashar bersama, ayo bangun!" ajak Mini.
Sebenarnya Angga ingin sekali bertanya, namun hatinya merasa belum pas untuk menanyakan hal tersebut.
Dia bangun lalu mengajak Mini untuk masuk ke dalam kamar mandi, tiba di kamar mandi Mini terlihat mengisi buthup dengan air hangat.
Lalu, dia menuangkan sabun cair dan juga sedikit aroma terapi yang menenangkan. Tanpa malu Mini terlihat membuka seluruh kain yang melekat di tubuhnya, Angga terdiam memperhatikan tingkah istrinya seraya duduk di atas Closet.
Beberapa saat kemudian, Mini sudah terlihat polos tanpa sehelai benang pun. Mini tersenyum nakal, lalu masuk ke dalam buthup.
Tanpa sengaja mata Angga tertuju pada sebuah luka di paha Mini, luka yang cukup lebar dan juga dalam.
"Yang," panggil Angga.
"Apa?" tanya Mini.
"Coba kamu berdiri lagi," pinta Angga.
Mini menurut, dia berdiri lalu duduk di pinggir buthup. Angga berjongkok lalu mengusap bekas luka di paha bagian dalam istrinya.
"Ini apa?" tanya Angga.
"Bekas luka," jawab Mini.
"Maksud aku luka bekas apa?" tanya Angga.
"Ya ampun, suamiku ini ternyata selain perhatian juga sangat penasaran. Baiklah, aku akan menceritakannya."
Mini menepuk pinggiran buthup tepat di sampingnya, Angga yang paham langsung duduk tepat di samping Mini.
Mini memeluk Angga lalu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya, dia terlihat begitu manja.
"Jadi, saat aku berusia 5 tahun. Aku bermain sepeda bersama daddy, aku yang nakal ini tidak menuruti kata daddy. Aku bermain di pinggir jalan raya, sayangnya jalan yang aku lalui menurun. Akhirnya sepeda yang aku pakai berjalan sendiri dengan sangat kencang, aku terguling beberapa kali."
Mini mengeratkan pelukannya, dia merasa bersalah karena sering sekali membantah ucapan kedua orang tuanya.
"Kata daddy tubuh bagian bawahku terbentur sepeda, bahkan area intiku sampai sobek dan mendapatkan banyak jahitan," jawab Mini.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mini, Angga terlihat diam terpaku. Dia seolah sedang mencerna apa yang sedang diceritakan oleh Mini.
Kimi, dia mejadi paham. Kenapa milik istrinya tidak serapat gadis pada umumnya, dalam hati Angga merasa bersalah karena sempat menuduh Mini pernah melakukan hubungan intim dengan lelaki lain.
"Maaf," kata Angga seraya mengecup puncak kepala istrinya beberapa kali.
Mendengar ucapan kata 'maaf' dari bibir Angga, Mini langsung melerai pelukannya. Kemudian dia menatap wajah Angga dengan lekat.
"Hey! Jangan meminta maaf, itu sudah masa lalu. Itu adalah bagian dari kenakalanku, seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa menjaga tubuhku," kata Mini seraya tertunduk lesu.
Melihat Mini yang begitu sedih, Angga langsung merangkum kedua pipi istrinya. Pandangan mereka saling bertemu, kemudian Angga menautkan bibirnya ke bibir istrinya.
Mereka saling menikmati manisnya madu dari setiap cecapan yang mereka lakukan, tak lama kemudian... Mini merasa asin di bibirnya.
Dia melepaskan pagutannya dan menatap wajah Angga, ternyata Angga terlihat sedang menangis dalam diam. Mini merasa heran melihat kelakuan dari suaminya itu.
"Kamu kenapa, hem? Kenapa menangis? Apa aku sudah berbuat salah?" tanya Mini.
Bukannya menjawab pertanyaan dari istrinya, Angga malah diam dengan air mata yang terus berurai.
Tak lama kemudian tubuh Angga malah melorot ke lantai, dia berjongkok lalu mengecupi bekas luka di paha Mini yang terlihat lebar dan juga dalam.
dia jadi berpikir mungkin tadi malam jam angka mematikan lampunya sehingga dia tidak bisa melihat bekas luka
"Maaf, maaf karena aku sudah berprasangka buruk terhadap kamu," ucap Angga penuh sesal.
"Maksudnya apa, Mas?" tanya Mini.
"Aku sempat menyangka jika kamu sudah menyerahkan kesucian kamu pada lelaki lain," kata Angga.
Sebenarnya Mini merasa kecewa dengan apa yang dikatakan Angga, namun dia berusaha untuk menenangkan dirinya. Kemudian, dia berkata.
"Wajar jika kamu menyangka seperti itu, Mas. Aku paham," kata Mini berbesar hati.
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Angga benar-benar semakin merasa bersalah. Dia langsung bangun dan membawa Mini kedalam dekapannya.
Dia menciumi seluruh bagian wajah istrinya dan yang terakhir dia melabuhkan ciuman hangat bibir wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Maaf, Sayang. Aku janji, lain kali kalau ada yang mengganjal di hati, aku akan menanyakannya langsung. Kita bicarakan baik-baik, maaf," kata Angga lagi.
Mini tak menjawab, dia mengeratkan pelukannya dan menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Air matanya mengalir, namun dengan cepat dia usap dengan punggung tangannya.
*/*
Pagi ini Ridwan dan juga Bu Airin datang ke kantor bersama, setiap mata memandang ke arah mereka berdua.
Ridwan merasa risih akan hal itu, namun tidak untuk bu Airin. Dia malah memeluk lengan kekar Ridwan dengan manja, lalu menyandarkan kepalanya di pundak suami dadakannya itu.
__ADS_1
"Bu!" bisik Ridwan.
Bu Airin mendongakan kepalanya, dia menatap wajah Ridwan dengan lekat.
"Panggil Sayang, aku istrimu," kata Bu Airin.
"Yang, aku malu," bisik Ridwan.
Bu Irin paham dengan kata 'malu' yang dikatakan oleh Ridwan, dia bukan malu memiliki istri yang lebih tua dari dirinya.
Namun, dia malu dengan tatapan penuh mengintimidasi dari para karyawan lainnya. Bu Airin nampak memberhentikan langkahnya, kemudian dia langsung memanggil Angel yang baru saja turun dari mobilnya.
Dengan tergesa Angel menghampiri Bu Airin dan juga Ridwan, dia terlihat membungkuk hormat dan mulai berkata.
"Ada apa, Bu?" tanya Angel.
"Kumpulkan semua karyawan di Aula perusahaan, ada yang ingin saya sampaikan!" kata Bu Airin tegas.
"Siap, Bu!" jawab Angel.
Setelah mengatakan hal itu, bu Airin nampak menggandeng mesra Ridwan. Lalu mengajak Ridwan untuk masuk ke dalam ruangannya.
Tiba di dalam ruangannya, bu Airin langsung mendorong tubuh Ridwan hingga jatuh terduduk ke atas sofa.
"Yang!" protes Ridwan.
"Jangan pernah berkata malu lagi, aku tidak mau mendengarnya. Jangan pernah menundukkan kepala di depan bawahan kita, karena kamu adalah suamiku. Semua yang aku punya, adalah milikmu," kata Bu Airin.
Bu Airin langsung duduk di pangkuan Ridwan, dia memeluk Ridwan dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher suaminya.
Walaupun belum terjadi apa-apa diantara mereka, namun bu Airin tidak marah. Karena Ridwan berkata, jika dia belum tega membobol gawang pertahanan milik istrinya, yang pasti masih sangat rapat itu.
BERSAMBUNG....
*
*
Buat kaleyan yang nanya THR, Nanti tanggal 29 april Othor mau kasih pulsa untuk sepuluh orang yang beruntung.
Tapi, karena duit Othor ngga banyak. Othor cuma kasih pulsa 20k untuk setiap readers yang beruntung.
Othor selalu berdo'a supaya karya receh Othor ini tetap diminati dan banyak pembacanya, karena dengan begitu Othor bisa berbagi dengan kalian.
Oiya kesayangan, ini ada karya temen Othor. Suka dengan yang tegang, menguras emosi dan suka dengan ending yang tak terduga bisa mampir ke sini ya....
__ADS_1