Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Terkejut


__ADS_3

Ridwan terlihat hendak mengatakan sesuatu, namun mulutnya langsung mengatup kala melihat Jesicca yang keluar dari kamar kostannya seraya menggendong baby cantik, putrinya.


"Abang bohong," kata Ridwan seraya mendorong tubuh Juki.


Ridwan langsung berlari dan menghampiri Jesicca, Juki semakin resah dibuatnya.


"Hai Kak Jes, kamu cantik sekali hari ini." Ridwan menyugar rambutnya kebelakang.


Senyum di bibir Ridwan kian mengembang, tatkala Ridwan melihat rambut Jesicca yang terlihat sedikit basah.


Dia langsung menatap genit ke arah Jesicca, dia jadi membayangkan jika dirinya menikah kelak dengan Jesicca. Maka setip harinya dia akan membuat Jesicca keramas karena ulahnya.


"Ehm, terima kasih. Tapi maaf, saya mau lewat." Jesicca terlihat hendak melangkahkan kakinya.


Melihat akan hal itu, Ridwan terlihat merentangkan kedua tangannya dengan cepat. Dia sengaja melakukan hal itu, agar Jesicca tidak pergi dari sana.


"Tunggu dong, Kakak Cantik. Aku punya ini untuk Putri," kata Ridwan.


Ridwan terlihat memberikan kantong plastik besar yang sedari tadi dia pegang, Jesicca tidak begitu saja menerimanya. Dia terlihat enggan.


Putri yang berada di gendongan Jesicca pun hanya menatap sekilas kantong plastik yang Ridwan bawa, lalu tatapan matanya beralih kepada Juki.


"Baba, bababab." Putri terlihat menggoyang-goyangkan tangan dan juga kakinya, dia seolah ingin segera di gendong oleh Juki.


Juki merasa bangga melihat tingkah Putri yang seperti itu, wajahnya yang sejak tadi ditekuk langsung berubah sumringah.


Juki langsung menghampiri Jesicca, lalu dia merentangkan kedua tangannya. Putri terlihat kegirangan, bahkan anak itu terlihat tertawa dengan lepas.


"Hahahaha, Bababa." Dia goyangkan kedua kakinya, tangannya bahkan berusaha untuk menggapai wajah Juki.


Juki menunduk dan mendekatkan wajahnya di depan Putri, dengan cepat Putri mengalungkan tangan mungillnya di leher Juki.


Juki terlihat menatap wajah Jesicca, dia seolah meminta persetujuan dari Jesicca untuk menggendong Putri.


Saat tatapan mata mereka bertemu, baik Juki maupun Jesicca, mereka terlihat salah tingkah. Namun, mereka berusaha untuk menutupinya.


Apalagi kala mengingat kejadian yang baru saja terjadi, membuat pipi keduanya terlihat merona.


Bu Sari sempat memperhatikan tingkah kedua manusia berbeda jenis kelamin tersebut, dia tahu jika diantara keduanya pasti sudah terjadi sesuatu.


"Boleh aku menggendong Putri?" tanya Juki.

__ADS_1


"Boleh, Mas," jawab Jesicca.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Jesicca, Juki langsung mengambil alih Putri dari gendongan Jesicca.


Wajah Putri terlihat sangat senang sekali, bahkan anak itu langsung tertawa seraya menepuk-nepuk pipi Juki dengan tersenyum manis di bibirnya..


Melihat akan hal itu, Ridwan terlihat tersenyum kecut. Karena ternyata Putri lebih memilih untuk bersama dengan Juki ketimbang dengan dirinya.


"Ya sudah, kalau begitu Om, akan merebut Ibu kamu," goda Ridwan seraya mencolek tangan Putri.


Putri yang terlihat sedang asyik menepuk-nepuk wajah Juki langsung menghentikan aktivitasnya, kemudian dia melihat ke arah Ridwan yang berjalan menghampiri Jesicca.


Ridwan terlihat menautkan tangannya dengan tangan Jesicca. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Jesicca nampak risih.


Dia terlihat berusaha untuk melepaskan tautan tangannya dari Ridwan. Namun, Ridwan terlihat mempererat tautan tantangannya.


Melihat akan hal itu Putri langsung menekuk wajahnya, kemudian dia pun berteriak.


"Bububu!" seru Putri seraya menggelengkan kepalanya.


Ridwan terkekeh, kemudian dia melepaskan tautan tangannya. Jesicca terlihat bisa bernapas lega akan hal itu.


"Sebaiknya kamu pulang saja, Putri tidak menyukaimu," kata Juki.


"Ck! Abang jangan berisik, aku sedang usaha untuk menaklukkan hati Putri dan juga ibunya," kata Ridwan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ridwan, Jesicca langsung buka suara.


"Ehm, sebelumnya saya minta maaf. Kamu masih muda, tampan dan juga mempunyai pekerjaan yang baik. Saya hanya seorang janda, wanita yang pernah menggoda suami dari wanita lain agar mau memperistri saya. Masih banyak wanita yang layak di luar sana, carilah wanita yang baik. Jangan wanita yang minim akhlak seperti saya," kata Jesicca.


Mata Jesicca terlihat berkaca-kaca setelah mengatakan hal itu, dia jadi teringat akan dulu dirinya yang rela menggoda Yudha dan mengenyampingkan perasaan Larasati.


Dia rela berkencan dengan lelaki yang sudah beristri agar hidupnya terasa lebih baik, semuanya dia lakukan demi uang.


Dia merasa jika dia banyak uang maka hidupnya akan terjamin, sayangnya semua itu tidak bertahan lama. Karena memang dia mendapatkan harta yang dia nikmati itu, melalui jalan yang salah.


Mendengar akan pengakuan dari Jesicca, baik Ridwan ataupun Juki terlihat terdiam. Mereka tidak tahu harus berkata apa, namun satu hal yang mereka sadari, Jesicca terlihat menyesali perbuatan di masa lalunya.


Jesicca terlihat tulus ingin menatap masa depannya bersama dengan putrinya, rasanya lelaki sudah tidak penting lagi baginya.


Hal itu terjadi bukan karena dia sudah tidak membutuhkan sosok seorang lelaki yang bisa mengayomi hidupnya.

__ADS_1


Namun, dia merasa lebih baik hidup berdua saja dengan putrinya, jika dengan berhubungan dengan seorang lelaki malah akan mempersulit hidupnya.


"Aku tidak peduli, Kakak cantik. Mau kamu dulunya seperti apa, karena yang terpenting bagi aku sekarang adalah kakak sudah berubah menjadi manusia yang lebih baik. Itu sudah lebih dari cukup," kata Ridwan.


Mendengar ucapan bijak dari Ridwan, Juki terlihat melongo tak percaya. Karena ternyata adik sepupunya itu benar-benar menyukai Jesicca.


Ridwan benar-benar ingin melamar dan menikahi Jesicca saat itu juga, ada rasa panas yang menjalar di hatinya. Dia merasa tak kuat, jika Jessica harus menikah dengan lelaki lain.


Namun, jika Jesicca tidak mau terhadap dirinya, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Semua itu kembali lagi ke tangan Jesicca.


"Sudah, sekaramg pulang sana! Lagi pula kamu tuh masih kecil, nanti kalau kamu mau menikah. Nanti kalau usia kamu sudah menginjak dua puluh lima tahun," kata Juki.


"Abang ngga seru!" ketus Ridwan.


Setelah mengatakan hal itu, Ridwan langsung pergi meninggalkan Jesicca Putri dan juga Juki. Dia lebih memilih untuk menghampiri Bu Sari saja.


Juki dan juga Jesicca terlihat saling pandang, kemudian mereka tersipu dan memalingkan wajah mereka ke arah lain.


Di lain tempat.


Larasati baru saja terbangun dari tidurnya, dia merasa jika tidurnya sudah sangat panjang sekali. Benar saja, saat matanya terbuka ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.


Itu artinya dia sudah tidur dengan wantu yang sangat lama sekali.


"Ya ampun, aku tidurnya lama sekali. Aku jadi tidak enak sama daddy, sama mommy juga. Ah, ya ampun. Aku bahkan lupa kalau aku sudah ada janji untuk bermain dengan Satria," kata Larasati.


Larasati terlihat berusaha untuk melepaskan tangan Jonathan yang terlihat memeluknya dengan posesif.


Setelah berhasil, Larasati nampak turun dari ranjang. Namun, baru saja dia berdiri pandangannya terasa buram. Semakin lama, pandangannya semakin kabur.


BRUGH!


Suara benda jatuh yang terdengar sangat nyaring membuat Jonathan langsung terbangun dari tidurnya.


Dia mengedarkan pandangannya, mencari arah suara yang terdengar begitu mengganggu indera pendengarannya.


Tak lama kemudian, matanya terpaku saat melihat tubuh Larasati yang terjatuh di lantai.


"Sayang!" teriak Jonathan seraya melompat dari atas tempat tidur.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Selamat malam kesayangan, semoga kalian baik-baik saja. Sampai bertemu besok lagi di episode berikutnya.


__ADS_2