Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 28


__ADS_3

Satria terlihat menatap ke sembarang arah dengan tatapan mata kosong, Putri merasa heran dibuatnya.


Mereka baru saja bertemu, seharusnya saling menumpahkan rasa rindu. Akan tetapi, Satria malah terlihat sedang kebingungan.


Putri yang merasa khawatir langsung menepuk lengan abangnya tersebut, karena dia merasa khawatir.


"Bang, sebenarnya Abang kenapa sih? Kenapa Abang terlihat begitu gelisah? Abang seperti sedang memikirkan sesuatu," kata Putri.


"Eh? Iya maaf, Abang hanya sedikit melamun," kata Satria.


"Kalau memang Abang punya masalah, Abang bisa cerita sama Putri. Putri siap mendengarkan," kata Putri.


Satria tersenyum, karena Putri begitu perhatian kepada dirinya. Walaupun mereka terlahir dari rahim yang berbeda, tapi Putri begitu menyayangi dirinya.


"Abang ngga apa-apa, Oh ya, De. Abang punya sesuatu buat kamu," kata Satria.


"Apa, Bang?" tanya Putri.


"Sebentar," kata Satria.


Satria terlihat mengambil tas ransel yang sejak tadi dia bawa, lalu dia terlihat mengambil satu kotak coklat untuk Putri.


Putri terlihat tersenyum senang, karena Satria membawakan coklat yang sangat dia inginkan.


Putri memang pernah berkata kepada Satria, jika dia ingin dibawakan oleh-oleh coklat saat Satria pulang nanti. Benar saja, Satria benar-benar mengabulkan keinginannya.


"Ini buat Putri, Bang?" tanya Putri.


"Iya, ambillah. Semoga kamu suka," kata Satria.


"Terima kasih, Abang!" kata Putri seraya mengambil sekotak coklat dari tangan Satria.


Satria terlihat menganggukan kepalanya ,dia begitu merasa senang karena adiknya nampak bahagia dengan apa yang dia berikan.


"Makanlah coklatnya, Abang harus pulang sekarang," pamit Satria.


"Iya, Bang. Oiya, besok Senin Abang sudah mulai kerja, kan?" tanya Putri.


"Iya, besok Senin Abang akan diperkenalkan sebagai CEO baru. Terlalu cepat, tapi Abang harus siap," kata Satria.


"Kalau begitu, sampai jumpa Senin besok." Putri nyengir kuda.


Satria terlihat mengerinyitkan dahinya dengan apa yang dikatakan oleh Putri, maksudnya apa dan bagaimana Satria kurang paham.

__ADS_1


"Memangnya Senin besok kamu mau datang ke kantor Abang?" tanya Satria.


Putri tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Ya, Senin besok Putri akan datang ke kantor Abang. Akan tetapi bukan sebagai adik, melainkan sebagai sekretaris dari klien Abang," kata Putri.


"Benarkah?" tanya Satria.


"Benar Abangku, Sayang. Aku jadi sekretaris pengganti, mayan tiga bulan. Hehehe," kata Putri seraya nyengir kuda.


"Iya, itung-itung belajar juga. Ya udah, Abang pulang. Besok senin Abang tunggu," kata Satria.


"Iya, Bang," kata Putri.


Setelah puasa mengobrol dengan Putri, akhirnya dia berpamitan untuk pulang. Tentu saja dia juga berpamitan kepada Jesicca.


Setelah itu, Satria langsung pulang menuju kediaman Jonathan. Sepanjang perjalanan pulang, dia hanya diam sambil memikirkan Rachel.


Wanita itu masih saja anteng berada di dalam pikirkannya, dia masih tidak menyangka jika Rachel bisa dekat dengan pria lain.


Senin pagi.


Satria sudah terlihat sangat tampan dengan setelan kerjanya, dia langsung berangkat menuju kantor Dinata bersama dengan Larasati dan juga bersama tuan Elias.


Sebenarnya Jonathan juga ingin mendampingi. Namun, hari ini dia sangat sibuk di Rumah Sakit. Alhasil dia tidak bisa menemani Satria.


Dari semenjak Satria menginjakkan kakinya di perusahaan Dinata, mata para karyawan wanita terlihat menatap wajah Satria dengan tatapan penuh kagum.


Satria terlihat begitu tampan dan juga gagah, bahkan banyak karyawan wanita yang berbisik dan terang-terangan mencari perhatian darinya.


Satria hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat akan kelakuan para karyawannya, berbeda dengan tuan Elias dan juga Larasati yang hanya bisa menertawakan Satria.


Setelah satu jam kedatangan Satria di kantor Dinata, semua para karyawan dikumpulkan di Aula gedung.


Satria langsung dikenakan sebagai pemimpin baru, tuan Elias juga mengenalkan Brander sebagai asisten peribadi untunya.


"Selamat, ya, Sayang. Karena akhirnya kamu memimpin perusahaan keluarga kita," kata Larasati.


"Ya, Buna. Semoga aku bisa menjadi pemimpin yang baik dan amanah," kata Satria.


"Aamiin," jawab Larasati.


"Oiya, Tuan. Tugas pertama anda hari ini adalah bertemu dengan klien dari perusahaan XDT di Cafe x, sekalian. makan siang." Evan memberitahukan jadwal.

__ADS_1


Satria tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Evan, itu artinya siang ini dia akan bertemu dengan Putri dan makan siang bersama dengan adiknya tersebut.


"Oh, oke. Aku minta berkasnya untuk dipelajari," kata Satria.


"Ini, Tuan." Evan menyerahkan berkasnya kepada Satria.


Setelah mendapatkan berkasnya dari Evan, Satria terlihat berpamitan kepada Larasati dan juga tuan Elias.


Dia ingin mempelajari berkasnya terlebih dahulu, dia tidak ingin di saat pertama kali dia bekerja malah salah dalam bertindak.


"Buna, Kakek. Aku pergi ke dalam ruanganku dulu," kata Satria.


"Ya, pergilah!" kata Tuan Elias.


Setelah berpamitan kepada Larasati dan juga tuan Elias, akhirnya Satria dan juga Evan terlihat meninggalkan gedung Aula tersebut.


Mereka Langsung melangkahkan kaki mereka menuju ruangan yang sudah disiapkan khusus untuk Satria.


Tiba di dalam ruang Satria, Evan dengan setianya menunjukkan poin-poin penting kepada Satria yang akan dibahas saat meeting siang ini.


Satria dengan tenang mendengarkan penjelasan dari Evan, dia harus bisa belajar dengan cepat.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 11:38.


Evan terlihat mengajak Satria untuk segera pergi ke Cafe x, karena sebentar lagi meeting akan dimulai.


Meeting kali ini akan dilaksanakan secara santai, membahas pekerjaan seraya menjalankan makan siang.


Tiba di Cafe x, Evan terlihat memarkirkan mobilnyam Lalu, dengan cepat dia turun dan membukakan pintu mobil untuk Satria.


"Silakan, Tuan," kata Evan.


"Ya, terima kasih," jawab Satria. Setelah itu mereka terlihat berjalan beriringan untuk masuk ke dalam Cafe tersebut.


Saat Satria sudah berada di dalam Cafe, dia melihat putri yang sedang duduk sambil melambaikan tangannya ke arah Satria.


Satria tersenyum karena akhirnya bertemu juga dengan Putri. Namun, saat melihat sosok lelaki yang kini telah duduk di samping Putri, dahi Satria nampak mengerinyit dalam.


Bahkan, senyum di bibirnya nampak menghilang begitu saja. Dia merasa tidak suka saat melihat lelaki itu.


****

__ADS_1


Masih berlanjut, jangan lupa tinggalkan jejak.


__ADS_2