
Jika Satria terlihat begitu senang karena kini dia sedang menata barang-barang miliknya dan juga Rachel di apartemen miliknya, berbeda dengan Putri, dia terlihat pusing karena Reon terus saja mengikuti dirinya.
Jika putri sedang mengerjakan pekerjaannya, Reon akan duduk dengan setia di sampingnya. Walaupun Putri sudah berkata tidak nyaman, tetap saja pria itu mengekori langkah Putri seperti bayangan.
"Pak, anda sudah seharian ini mengikuti saya. Saya kuliah saja Bapak tetap ikut, memangnya ngga cape jadi bayangan?" tanya Putri dengan wajah kesal.
Reon seolah tidak mau berjauhan dengan Putri, dia terus saja mengekori wanita itu. Hal itu dia lakukan karena Putri yang tidak mau menerima ajakannya untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Reon sudah berkata jika dia tidak membawa Putri ke rumahnya, maka orang tuanya akan mengenalkan dia dengan teman dari anaknya.
Namun, Putri merasa tidak percaya. Padahal, pada kenyataannya Reon memang sudah berusia dua pulu enam tahun, dia tidak pernah mengenalkan seorang wanita pun ke hadapan orang tuanya
Hanya Rachel saja yang sering dia bawa ke dalam rumah besar itu, dari dulu Reon memang sibuk sekolah dan juga belajar bisnis.
Tidak ada niatan untuk dirinya bermain dengan seorang perempuan, makanya pas dia melihat Putri, dia langsung mengejar wanita itu karena dia menyukainya.
"Aku sudah bilang berkali-kali, datanglah ke rumahku. Aku tidak mau dijodohkan dengan wanita lain, aku hanya menyukaimu," kata Reon.
"Tapi perjanjiannya kita akan melakukan pendekatan terlebih dahulu selama lima bulan, masa sekarang Bapak malah ngajak saya ke rumah orang tua Bapak. Bapak modus, ya?" tanya Putri.
Reon nampak menggeleng-gelengkan kepalanya, dia menuntun Putri untuk masuk ke dalam mobilnya. Lalu, dia nampak menyusul dan duduk di balik kemudi.
"Dengarkan aku, aku bukan mau mengajak kamu menikah saat ini juga. Aku hanya ingin menunjukkan kepada kedua orang tuaku, jika aku sudah memiliki kamu. Please, turuti permintaan aku saat ini saja," pinta Reon dengan wajah penuh harap.
Putri terlihat menghela napas panjang, dia paham dengan apa yang dimaksud oleh Reon. Hanya saja dia belum siap untuk bertemu dengan orang tua dari atasannya itu.
Dia takut jika dirinya akan langsung dinikahkan jika bertemu dengan kedua orang tua dari Reon.
"Please," kata Reon seraya mengerjap-ngerjapkan matanya.
Putri tertawa melihat akan hal itu, Reon langsung mengelus kedua bahu Putri dengan lembut. Dia tatap bola mata Putri yang berwarna coklat madu.
"Jangan tertawa, aku serius," kata Reon.
"Baiklah, kita ke rumah Bapak sekarang," jawab Putri pada akhirnya.
"Yes!" sorak Reon.
__ADS_1
Reon terlihat bahagia saat mendengar apa yang dikatakan oleh Putri, dia bahkan refleks memeluk tubuh Putri dengan erat.
Putri terlihat kaget dibuatnya, dia bahkan terlihat mendorong dada Reon dengan kuat. Reon yang menyadari kesalahannya langsung melerai pelukannya, lalu dia nampak tersenyum manis ke arah Putri.
"Maaf, aku terlalu senang," kata Reon.
Setelah mengatakan hal itu, Reon nampak memasangkan sabuk pengaman untuk Putri. Lalu dia memakai sabuk pengaman untuknya dan mulai melajukan mobilnya.
Reon dengan bersemangat melajukan mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya, dia sudah tidak sabar untuk mengenalkan Putri kepada mereka.
Sepanjang perjalanan Reon terlihat tersenyum senang, Putri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari atasannya itu.
Sampai saat ini Putri belum merasakan hatinya bergetar kala berdekatan dengan Reon, tapi hatinya merasa sangat yakin jika Reon adalah lelaki terbaik untuk dirinya.
Reon adalah sosok lelaki yang akan bertanggung jawab terhadap dirinya, Putri sangat yakin.
Tiba di kediaman orang tua Reon, dia langsung memarkirkan mobilnya. Lalu dia turun dengan cepat dan membukakan pintu mobilnya untuk Putri.
"Terima kasih," kata Putri.
"Sama-sama, Sayang," kata Reon.
"Silakan masuk," kata Reon saat hendak masuk ke dalam rumahnya.
"Iya," jawab Putri.
Putri nampak berjalan beriringan dengan Reon, tiba di ruang keluarga Reon langsung menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk mereka secara bergantian.
"Selamat malam ibu, selamat malam Ayah. Re bawa calon istri," kata Reon.
Ibu Amara dan tuan Andar nampak memperhatikan Putri, Putri terlihat biasa saja. Dia tidak berdandan, hanya bibirnya saja yang dipoles lipstik berwarna merah muda.
Putri bahkan terlihat hanya memakai kemeja berwarna biru laut dipadupadankan dengan celana bahan berwarna hitam, penampilannya tidak terlihat istimewa.
Ibu Amara dan tuan Andar nampak bangun dan menghampiri Putri, Putri tersenyum lalu meraih tangan kanan kedua orang tua Reon dan mengecup punggung tangannya dengan takzim.
"Selamat malam, Tuan. Selamat malam, Nyonya. Saya Putri," kata Putri memperkenalkan diri.
__ADS_1
Reon seolah tidak suka dengan cara Putri memperkenalkan dirinya, Reon merangkul pundak Putri lalu berkata.
"Aku memanggil mereka Ayah dan Ibu, kamu pun harus begitu." Reon terlihat mengelus lembut lengan Putri.
"Maaf, ini pertemuan pertama kami, aku masih canggung," kata Putri jujur.
"Re!" panggil Tuan Andar.
"Ini beneran calon istri kamu?" tanya Tuan Andar.
"Tentu saja benar, dia calon istriku. Dia wanita yang sangat aku cintai," kata Reon dengan binar bahagia di wajahnya.
Reon menatap Putri dengan tatapan penuh cinta, dia seolah mengira jika di dunia ini hanya ada Putri saja yang sangat istimewa di matanya.
Putri tersenyum kikuk, ada rasa bahagia yang menyeruak ke dalam hatinya saat Reon menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
Namun, ada rasa canggung saat melihat tatapan mata dari kedua orang tua Reon. Dia merasa jika tatapan mereka seolah sedang menginterogasinya.
"Kamu beneran calon istri anak saya?" tanya Ibu Amara.
"Iya, Nyonya. Eh, Ibu. Kami sedang masa pendekatan, saya masih harus menyelesaikan masa pendidikan saya soalnya," jawab Putri.
Pandangan mata Ibu Amara beralih kepada Reon, dia menatap wajah putranya dengan intens.
"Kamu masih mau nunggu dia yang masih kuliah? Ngga mau nikah sama Niken aja? Dia cantik, manis sudah punya klinik sendiri pula. Yakin mau nikah sama wanita ini?" tanya Ibu Amara.
"Ibu! Ibu ngga boleh ngomong gitu, aku sangat mencintai Putri. Aku hanya mau menikah dengan Putri," kata Reon.
"Tapi, Re. Hanya kamu yang terlihat mencintai Putri, Ibu tidak melihat cinta di mata Putri. Niken sangat mencintai kamu, ibu mau kamu nikah sama Niken aja," kata Ibu Amara.
"Jangan!" teriak Putri.
Wajah Reon yang awalnya terlihat kesal saat mendengar ucapan dari ibunya, kini nampak berbinar bahagia kala Putri mengatakan kata 'jangan' itu berarti putri juga menginginkan dirinya untuk menjadi suaminya.
"Sayang, kamu--"Reon langsung memeluk Putri--"Aku mencintai kamu, Sayang," kata Reon.
Putri merutuki dirinya dalam hati, bagaimana bisa dia berteriak mengatakan kata jangan. Alhasil kini dia merasa sangat malu sendiri.
__ADS_1
***
Selamat siang, Bestie. Aku bikin grup chat, buat yang mau gabung bisa langsung masuk, ya. Jangan sungkan, tapi patuhi rules'nya, ya. Bebas kok, asal sopan. Sayang kaleyan semua.