
"Sayang! Siang lagi ya?" pinta Mich seraya mengusap miliknya yang masih saja tidak mau tidur.
"Siang? Ngga mau, Kinar maunya sekarang, Om!" ujar Kinara yang merasa tidak tahan ingin kembali bercinta dengan Mich.
Walaupun awalnya terasa begitu sakit, tetapi kali ini terasa begitu nikmat dan membuat Kinara seakan terbang sampai ke nirwana.
Mich yang mendengar apa ucapan dari istrinya terlihat begitu bahagia, dia bahkan langsung mengecup bibir istrinya dan bertanya kepada istrinya tersebut.
"Beneran, Yang?" tanya Mich.
"He'em, Kinar mau lagi." Kinara dengan penuh hasrat langsung menyatukan bibirnya dengan bibir suaminya.
Ah! Mich benar-benar merasa bahagia dengan apa yang dilakukan oleh Kinara, tidak lama kemudian mereka kembali memadu kasih dengan penuh hasrat.
Bahkan, kali ini Kinara terlihat begitu bersemangat. Walaupun dia tidak berani memimpin permainan, tetapi wanita itu begitu aktif mengimbangi permainan dari suaminya.
Di dalam Resto hotel.
Reon duduk di samping Putri seraya menatap wanita itu dengan tatapan penuh permohonan, tadi malam pria itu sudah berbicara dengan Putri jika dirinya ingin segera menikahi wanita itu.
Menunggu waktu 2 bulan lagi rasanya sangat lama, dalam minggu ini jika bisa Reon ingin segera meminang pujaan hatinya itu.
Putri menolehkan wajahnya ke arah lain, dia tidak berani menatap wajah pria itu. Jujur saja dia merasa tidak tega jika Reon sudah menatapnya seperti itu, tetapi dia ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.
Hanya sebentar lagi, pikirnya. Apa salahnya jika kekasih hatinya itu menunggu dirinya, tidak akan lama dan pastinya dia juga akan menikah dengan Reon jika sudah wisuda.
"Yang, ayolah." Reon berbisik tepat di telinga Putri, dia berusaha untuk merayu kekasihnya tersebut.
"NGGA MAU!" ucap Putri pelan tetapi penuh dengan penekanan.
Reon langsung cemberut, dia merasa kecewa dengan apa yang dikatakan oleh calon istrinya tersebut. Padahal, dia sudah tidak sabar ingin tinggal satu atap dengan Putri.
Dia sudah tidak sabar untuk selalu melihat wanita itu ketika matanya terbuka di pagi hari, dia sudah tidak sabar untuk selalu bisa mendekap tubuh Putri dalam setiap harinya.
__ADS_1
Yudha yang berada dekat dengan Putri langsung menegur gadis itu, karena dia merasa tidak enak hati saat melihat wajah kecewa dari Reon.
"Sebenarnya kalian itu ada masalah apa sih? Bicara sama Bapak," ucap Yudha.
"Eh? Ngga ada apa-apa kok, Pak," jawab Putri.
Yudha langsung menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Putri, karena gadis itu tidak mau jujur kepada dirinya. Yudha selalu menolehkan wajahnya ke arah Reon dan bertanya kepada kekasih dari putrinya tersebut.
"Sebenarnya ada apa? Coba katakan sama Bapak," pinta Yudha.
"Jadi gini, Yah. Kak Satria sudah menikah dan istrinya sedang mengandung, Kinar yang lebih muda dari Putri saja sudah menikah. Masa kami belum menikah? Aku juga mau," ucap Reon dengan jujur.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Reon, Putri langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Dia bahkan tanpa sadar langsung mencubit perut Reon dengan gemas.
"Aduh, Yang. Sakit banget ini, sayang aja napa? Udah ngga mau aku nikahin, galak banget lagi," celetuk Reon.
Apa yang dikatakan oleh Reon tentunya membuat semua orang yang ada di sana langsung tertawa, terlebih lagi dengan Yudha dan juga Juki.
"Memangnya kenapa kamu tidak mau menikah dengan Reon dalam waktu dekat, Sayang?" tanya Juki dengan lembut.
"Dengar, Sayang. Kalau kalian mau menikah saat ini juga, Baba tidak keberatan. Bang Yudha juga pasti tidak keberatan, kalau untuk urusan kehamilan. Kamu bisa menundanya dengan mengkonsumsi pil kontrasepsi, atau Reon yang menggunakan alat kontrasepsi."
Reon langsung melebarkan senyumnya mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, karena itu artinya ada kesempatan untuk dirinya bisa menikah dengan Putri secepatnya.
"Kamu dengar, Yang. Ayo kita nikah, aku udah ngga sabar. Daripada banyak dosa, tiap hari zinah mata pan ngga baik juga. Nikah yuk, nanti aku pake pengaman aja ngga apa-apa." Reon nyengir kuda setelah mengatakan hal itu.
Putri nampak mencebikkan bibirnya, dia merasa tidak berkutik karena kedua pria kesayangannya begitu mendukung keinginan dari Reon. Namun, satu hal yang dia tidak setuju, Reon tidak boleh pake pengaman. Karena Putri tidak mau diperawani oleh balon, dia mau diperawani oleh suaminya.
"Baiklah! Ayo kita nikah," ucap Putri pada akhirnya.
Reon terlihat begitu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Putri, dia bahkan langsung merentangkan kedua tangannya. Pria itu hendak memeluk Putri, tetapi dengan cepat Yudha menepis tangan itu.
"Belum halal, nikahin dulu Putri. Baru kamu berhak sepenuhnya atas putriku," ujar Yudha.
__ADS_1
Reon langsung tersenyum canggung seraya menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal, dia menolehkan wajahnya ke arah Jessica.
"Ehm! Tante, aku sudah tidak tahan jika harus menunggu lebih lama lagi. Bolehkan bila besok aku menikahi Putri di KUA? Nanti setelah Putri wisuda, barulah kami akan melaksanakan resepsi pernikahan. Boleh, tidak?" tanya Reon.
Semua orang yang ada di sana nampak kaget mendengar pertanyaan dari Reon, pria itu benar-benar terlihat sangat tidak sabar.
"Kalau Tante terserah putri saja, kalau dia setuju, Tante juga setuju." Jessica tersenyum ke arah Putri.
"Ngga terlalu kecepetan?" tanya Putri.
"Ya ampun, Sayang. Kamu tuh belum tau aja kalau yang cepet itu memang enak," ujar Reon seraya mengerling nakal.
Putri sampai memundurkan wajahnya, lalu dia menatap wajah calon suaminya dengan lekat. Pria itu semakin hari semakin messum saja, tetapi dia sangat paham kenapa calon suami itu bisa seperti itu.
"Jangan suka ngomong yang aneh-aneh, nanti aku bakalan putusin kamu," ancam Putri.
"Jangan, Yang. Kita nikah aja, jangan putusin aku."
"Hem! Besok kita nikah, kamu senang?" tanya Putri.
Untuk beberapa saat Reon malah terdiam, dia seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Putri. Putri sampai menepuk-nepuk pipi calon suaminya dan berkata.
"Mau nikah atau tidak? Kalau tidak ya, BAGUS."
"Eh? Mau, Yang," jawab Reon dengan cepat.
Semua orang yang ada di sana nampak begitu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Putri, sebentar lagi mereka akan berkumpul untuk menikahkan Putri.
Mungkin pernikahan mereka terkesan dadakan, tetapi menikahkan mereka berdua rasanya lebih baik daripada harus membiarkan mereka tetap berpacaran dan memungkinkan untuk melakukan banyak dosa.
TAMAT
Terima kasih untuk kalian yang sudah mengikuti karya Othor yang sangat keren ini, karena kalian semua adalah orang-orang yang keren. Kalian penyemangat buat Othor, tanpa kalian apalah Othor ini.
__ADS_1
Maaf karena untuk menyelesaikan novel Ini membutuhkan waktu sampai satu tahun, karena jujur saja saat menulis novel ini ada hal yang mengecewakan yang Othor ngga bisa katakan di sini. Namun, terlepas dari apa pun itu, Othor mengucapkan terima kasih kepada kalian semua.
Love sekebon kembang 💖