Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Selangkah Lagi


__ADS_3

Angga yang mendengar obrolan antara Frans dan juga Mini, seakan tertarik kembali kedalam alam nyata.


Dia langsung memalingkan wajahnya ke arah Mini dan Frans, mereka terlihat begitu asyik bercengkerama. Bahkan tangan Frans terus saja menggenggam tangan Mini dengan erat.


"Ck! Kenapa dia mau saja dipegang-pegang seperti itu?" gerutu Angga.


Setelah berkata seperti itu, Angga langsung bangun. Kemudian dia melangkahkan kakinya ke atas pelaminan, dia langsung menghampiri Jonathan dan juga Larasati.


Tentu saja tujuan utamanya untuk mengucapkan selamat kepada mereka berdua, dia langsung memeluk Jonathan dan mengucapkan selamat.


"Selamat ya, Bang Jo. Akhirnya kalian bisa bersatu dalam ikatan pernikahan," ucap Angga tulus.


"Terima kasih," jawab Jonathan seraya melerai pelukannya.


"Angga, Sayang." Larasati terlihat merentangkan kedua tangannya, dia sudah bersiap untuk memeluk Angga.


Namun, dengan cepat Angga memundurkan langkahnya. Dahi Larasati nampak mengernyit heran, karena selama ini Angga tidak pernah mengabaikan dirinya.


Larasati terlihat begitu kecewa melihat penolakan dari Angga, padahal selama ini mereka terlihat sangat akrab seperti adik dan kakak.


"Kamu kenapa?" tanya Angga.


"Mbak, sekarang kamu sudah menikah dengan Bang Jo. Mungkin kamu menganggap aku sebagai adik, tapi bagi Bang Jo, aku tetaplah pria dewasa. Sorry, mulai sekarang kita bisa berpelukan lagi," kata Angga seraya terkekeh.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga, Jonathan merasa sangat senang sekali. Benar pikirnya, jika Angga memanglah pria dewasa.


Dia selalu merasa cemburu ketika melihat kedekatan Angga dengan Larasati, walaupun Larasati benar-benar menganggap Angga hanya sebagai adik saja.


Berbeda dengan Larasati yang terlihat cemberut, dia merasa sangat kesal karena pria yang sudah dia anggap sebagai adik itu kini sudah merasa sangat dewasa dan tidak mau lagi dia peluk.


'Maaf, Mbak. Mulai hari ini ada hati yang harus Mbak jaga, aku juga ingin jantung dan hatiku selalu sehat. Jadi, mulai hari ini aku harus melupakan Mbak.' Angga berkata dalam hatinya.


Angga terlihat melirik jam yang melingkar di tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam.


"Mbak, sekarang sudah malam. Aku pamit pulang," ucap Angga.


"Ya ampun, Angga. Ini masih sore," kata Larasati.


"Ya, bagi Mbak ini masih sore. Tapi bagi Angga ini sudah malam," kata Angga.


"Jangan pulang dulu, masih sore. Banyak biduan cantik noh lagi nyanyi, ngga mau nyawer dulu?" goda Larasati.


"Ngga ah, Mbak. Aku mau pulang saja, aku pamit, ya ? Bang Jo, aku titip Mbak Rara," kata Angga.


"Pasti, dia istriku. Aku akan selalu menjaga dan mencintainya dengan setulus hatiku, dengan segenap jiwa dan ragaku," kata Jonathan seraya menepuk dadanya.

__ADS_1


Angga langsung tergelak, mendengar ucapan dari Jonathan.


"Abang lebay!" kata Angga.


Setelah berpamitan kepada pasangan pengantin baru tersebut, dia turun dari atas pelaminan.


Setelah itu Angga terlihat menghampiri bi Narti, dia berpamitan kepada Ibunya tersebut untuk pulang terlebih dahulu.


Karena memang bi Narti bertugas untuk membantu nyonya Meera, jadi dia tidak akan pulang malam ini.


Setelah berpamitan kepada bi Narti, Angga terlihat menghampiri Mini yang masih terlihat asyik mengobrol dengan Frans.


"Mini, apakah kamu tidak mau pulang?" tanya Angga.


Mini yang sedang asyik mengobrol pun menghentikan ucapannya, lalu dia mengalihkan pandangannya kepada Angga.


"Ada apa?" tanya Mini yang memang tidak mendengarkan ucapan Angga.


"Apa kamu mau pulang? Kalau mau pulang biar aku antar," tawar Angga.


"Tidak usah, ada Kak Frans," jawab Mini cepat.


"Tapi ini sudah malam," kata Angga.


Mendengar ucapan Angga, Mini terlihat melirik jam mewah yang ada di tangannya.


"Baiklah, aku pulang," ucap Angga dengan nada kecewa.


Setelah berpamitan dengan Mini, Angga langsung pulang menuju kediamannya. Dia sudah sangat lelah beberapa hari ini mambantu kelancaran acara pernikahan Larasati dan Jonathan.


Acara terus berlanjut, hingga pukul sembilan malam tiba acara telah selesai. Dua orang pelayan nampak menghampiri Larasati dan membantunya menuju kamar pengantin, tentu saja mereka akan membantu Larasati untuk membuka gaun dan semua aksesoris yang menempel di kepalanya.


Berbeda dengan Jonathan yang masih berbicara dengan para tamu yang hendak pulang, karena dia merasa tidak enak hati.


Pukul sepuluh malam, semua tamu yang hadir telah pulang. Keluarga Larasati dan juga keluarga Jonatahan tentu saja tidak pulang, karena mereka ikut menginap di hotel tersebut.


Walaupun wajahnya terlihat lelah, tubuhnya terasa remuk. Namun, senyum di bibirnya terus saja mengembang kala mengingat istrinya yang sudah menunggu di kamar pengantin mereka.


Tiba di depan kamar hotel, dia langsung membuka pintu kamar hotel tersebut. Saat dia masuk, dia melihat Larasati yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Dia terlihat hanya menggunakan kimono mandi saja, rambutnya terurai basah. Wangi sabun dan sampo menyeruak ke dalam Indra penciuman Jonathan.


"Wangi banget, kamu, Yang." Jonathan langsung mengunci pintu kamarnya, kemudian dia menghampiri Larasati.


"Mau apa, kamu?" tanya Larasati ketika melihat Jonathan yang semakin mendekat dengan tatapan lapar.

__ADS_1


"Peluk, Yang." Jonathan langsung mendekap tubuh Larasati.


Tangannya kanannya terlihat menekan punggung istrinya agar tubuh mereka lebih menyatu, sedangkan tangan kirinya mengusap lembut tengkuk leher istrinya.


"Boleh cium ngga, Yang?" tanya Jonathan.


"Mandi dulu, baru boleh," kata Larasati.


"Kalau yang itu boleh ngga?" tanya Jonathan seraya menunjuk dada istrinya dengan ekor matanya.


"Ya ampun, Mas Jonatahan yang tampan. Aku istrimu sekarang, semua milikmu. Kamu boleh melakukan apa pun padaku," kata Larasati.


"Ya ampun, manis sekali. Apa lagi panggilan kamu sudah berubah, aku jadi makin cinta," kata Jonathan seraya menggigit gemas dagu istrinya.


"Sakit!" keluh manja Larasati.


"Ya ampun, istriku manja sekali," kata Jonathan seraya mengecupi bibir istrinya.


Larasati tersenyum, kemudian dia mendorong wajah Jonathan dengan lembut.


"Mandi dulu, nanti kamu boleh melakukan apa pun," kata Larasati.


"Oke," kata Jonathan dengan penuh semangat.


Jonathana langsung berlari kemar mandi, dia ingin segera melaksanakan ritual mandinya. Dia sudah tidak sabar untuk segera melepas keperjakaannya.


Selepaa kepergian Jonathan, Larasati langsung duduk di depan meja rias. Dia mengeringkan rambutnya, lalu memakai serum di wajahnya.


Dia menatap wajahnya di depan cermin, lalu memegang dadanya yang terasa berdegup dengan kencang.


"Ya Tuhan, kenapa dengan jantungku? Kenapa sampai gugup seperti ini?" tanya Larasati lirih.


Saat Larasati sedang asik memandangi wajahnya di depan cermin, Jonathan nampak keluar dari dalam kamar mandi.


Dia terlihat menghampiri Larasati dan memeluknya dari belakang, hal itu membuat Larasati kaget dan langsung melayangkan protesnya.


"Mas!" seru Larasati.


Jonathan tak menanggapi ucapan istrinya, dia langsung mengangkat tubuh istrinya dan merebahkannya di atas ranjang pengantin.


*


*


Bersambung....

__ADS_1


Adegan pelepasan keperjakaannya kita tunda ya gengs, aku mikir dulu 😰😰😰


__ADS_2