Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Menemui Tuan Elias


__ADS_3

Bi Narti terlihat begitu sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk Satria, dari mulai baju ganti, susu formula sampai camilan.


Larasati yang melihat akan hal itu sampai bingung dibuatnya, padahal mereka akan ke Rumah Sakit, pikirnya. Kenapa harus repot seperti itu?


Namun, dia membiarkan apa yang dilakukan oleh dewi penolongnya itu. Yang terpenting bi Narti senang, pikirnya.


"Semua sudah siap, kita berangkat selepas dzuhur saja," kata Bi Narti.


"Siap, Bi." Larasati terlihat memeluk Bi Narti.


"Istirahatlah dulu, masih ada waktu satu jam lagi," kata Bi Narti.


"Iya," jawab Larasati.


Larasati langsung melerai pelukannya, kemudian dia pun pergi melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Dia ingin mempersiapkan hatinya terlebih dahulu untuk bertemu dengan mommy dan daddynya, dia berharap semoga kedua orang tuanya mau memaafkan kesalahan terbesar dalam hidupnya dan yang terpenting dia berharap semoga kedatangannya tidak ditolak oleh kedua orang tuanya.


*/*


Pukul satu siang, Larasati pun pergi ke Rumah Sakit tempat Tuan Elias dirawat, larasati nampak duduk di bangku samping kemudi sambil memangku Satria.


Di sampingnya ada Angga yang bertugas sebagai supir hari ini, sedangkan bi Narti duduk anteng di bangku penumpang.


Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, wajah Larasati terlihat begitu cemas. Dia terlihat menatap jalanan dengan tatapan kosong, dia benar-benar merasa takut jika kedua orangtuanya tidak bisa memaafkan dirinya.


Tiba di depan Rumah Sakit terbesar yang ada di pusat kota, Angga terlihat memarkirkan mobilnya. Lalu dengan sigap dia pun turun dan membukakan pintu untuk Larasati.


"Silahkan, Mbak," ucapnya.


Larasati berusaha untuk tersenyum, lalu dia pun berkata. "Terima kasih," ucapnya.


Setelah turun dari mobilnya, Larasati, Angga, bi Narti dan juga Satria langsung bergegas menuju meja resepsionis. Di balik meja resepsionis terlihat ada dua wanita muda dan cantik yang sedang bertugas di sana, Larasati pun langsung bertanya kepada mereka.


"Permisi, Nona. Maaf saya mau bertanya, di mana Tuan Elias Ardan Dinata dirawat?" tanya Larasati.


Setelah Larasati bertanya, seorang resepsionis langsung menjawab pertanyaan dari Larasati.


"Biar saya antar," ucapnya.


"Terima kasih," jawab Larasati.


Wanita cantik itu pun langsung mengantarkan Larasati ke sebuah ruangan di mana Tuan Elias dirawat.


"Ini ruangan Tuan Elias, Nona," ucap resepsionis wanita tersebut.


Larasati terlihat tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Wanita itu pun membalas senyuman Larasati, lalu meninggalkan Larasati bersama dengan Angga dan juga bi Narti yang kini bergantian memangku Satria.

__ADS_1


Larasati terlihat gugup, dia terlihat beberapa kali menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan.


Angga langsung mengusap bahu Larasati, dia berusaha menguatkan wanita yang selalu terlihat tangguh di hadapannya.


"Bismillah, Mbak," kata Angga.


Larasati menurut, setelah mengucapkan kata basmalah Larasati pun mengucapkan salam lalu mendorong pintu ruang perawatan tuan Elias.


Saat ruangan terbuka, di sana nampak tuan Elias yang sedang terbaring di atas ranjang pasien. Matanya terpejam dan wajahnya terlihat begitu pucat, berbagai alat medis terlihat menghiasi tubuhnya.


Nyonya Merry nampak duduk di samping tuan Elias, dia menangis tersedu seraya menggenggam erat tangan suaminya.


Bahkan di sana juga ada dokter Keanu, sahabat tuan Elias sekaligus pemilik Rumah Sakit tersebut. Jonathan putra dari dokter Keanu pun nampak sedang memeriksa kondisi tuan Elias.


Ya, Jonathan pun sama seperti sang ayah. Menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam, dia adalah sahabat Larasati sedari kecil.


"Mommy, Daddy." Larasati terlihat berdiri di ambang pintu, dia seakan takut untuk masuk ke dalam ruang perawatan super mewah tersebut.


Semua orang yang ada di ruang perawatan tersebut, langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Larasati.


Nyonya Meera langsung bangun dan menghampiri Larasati, dia menatap wajah putrinya dengan tatapan sendu.


"Putriku," ucap nyonya Meera lirih.


Larasati tersenyum disela tangisnya, tubuhnya tiba-tiba saja ambruk dan langsung memeluk kaki nyonya Meera.


Suara Larasati tenggelam dalam tangisan, dia tak sanggup lagi untuk berkata apa pun. Dia hanya bisa menangis seraya memeluk kaki momminya.


"Bangun, Sayang. Jangan seperti ini, Mommy dan daddy sudah memaafkan kamu. Bangun peluk Mommy, Mommy rindu," ucap Nyonya Meera.


Larasati menurut, dia berusaha bangun walaupun tubuhnya terasa sangat lemas. Angga dengan sigap membantu, sehingga Larasati bisa berdiri dengan tegak.


Melihat wajah putrinya yang begitu dia rindukan, nyonya Meera langsung mengusa wajah Larasati dengan lembut. Dia tersenyum lalu menubrukkan tubuhnya ke tubuh Larasati.


"Mom rindu, sangat-sangat rindu." Isak tangis diantara anak dan ibu itu terdengar haru.


Bahkan semua orang yang ada di sana nampak ikut meneteskan air matanya, hanya Satria yang terlihat kebingungan di pelukan bi Narti. Dia seolah tidak paham dengan apa yang sedang terjadi.


Tal lama kemudian, nyonya Meera terlihat melerai pelukannya. Kemudian pandangan matanya beralih kepada Satria.


"Apakah dia cucuku?" tanya Nyonya Meera.


"Yes, Mom. Cucumu, Satria," jawab Larasati.


Nyonya Meera tersenyum, dia mengusap air mata yang berlinang di pipinya. Kemudian diaengambil alih Satria dari gendongan bi Narti.


Awalnya Satria terlihat bingung, kemudian dia menatap Larasati.

__ADS_1


"Buna!" kata Satria.


"Oma, Sayang. Dia Oma kamu," kata Larasasati menegaskan.


Satria menatap lekat wajah nyonya Meera, kemudian dia pun tersenyum kala melihat kemiripan wajahnya dengan wajah bundanya.


"Oma," kata Satria.


"Ya, Sayang." Nyonya Meera langsung melabuhkan kecupan hangat di setiap inci wajah cucunya.


Dia begitu terharu karena cucunya bisa langsung memanggilnya oma, bahkan cucunya terlihat mau memeluk dirinya.


"Temuilah daddy'mu, biar Mom membawa putramu untuk jalan-jalan," kata Nyonya Meera.


Larasati pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju bed pasien yang di tempati oleh daddy' nya.


Larasati langsung duduk di bangku tunggu, kemudian dia pun menggenggam erat tangan daddy'nya.


Dokter Keanu dan dokter Jonathan langsung duduk di sofa tunggu, mereka seolah memberikan waktu untuk Larasati bisa berduaan dengan daddynya.


Nyonya Meera, Angga dan bi Narti langsung pergi untuk mengajak Satria ke taman Rumah Sakit. Karena anak kecil memang tak baik terlalu lama berada di ruangan tersebut.


"Daddy, ini Rara. Puteri kesayangan Daddy," kata Larasati.


PLAK!


Satu pukulan mendarat di pundak Larasati, Larasati yang sedang terisak karena begitu sedih saat melihat kondisi daddynya, kini terlihat kebingungan.


Pasalnya tuan Elias memukul pundak Larasati dengan sangat kencang, namun matanya tetap terpejam.


"Daddy!" teriak Larasati. "Om Keanu, Jo, Daddy memukulku. Apa itu tandanya dia sudah sadar?" tanya Larasati dengan wajah bingung.


Jonathan dan ayahnya yang mendengar pertanyaan dari Larasati, langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka benar-benar tak tahan melihat wajah panik dan juga bingung dari Larasati.


Melihat kelakuan sahabat dan juga ayah dari sahabatnya, wajah Larasati terlihat lebih bingung lagi.


"Hey, Daddy'ku sedang kritis! Bisa-bisanya kalian menertawakan aku!" kesal Larasati.


Jonathan nampak berjalan menghampiri Larasati, sedangkan dokter Keanu nampak berjalan menghampiri itu Elias.


"Bangulah Elias, kau mang tidak pandai berakting." Dokter Keanu nampak memukul pundak Tuan Elias.


"Ma--ksudnya?" tanya Larasati bingung.


Larasati benar-benar terlihat seperti orang bodoh saat ini, di setiap media membicarakan jika Tuan Elias Ardhan Dinata harus dirawat secara eksklusif karena penyakitnya yang sangat parah.


Lalu, apa ini? Bahkan dokter Keanu berkata jika daddynya tidak pandai berakting, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

__ADS_1


__ADS_2