Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 17


__ADS_3

Hari yang Satria dan Kinara lalui seakan berjalan dengan cepat, esok hari adalah hari di mana Satria dan Kinara akan pergi menuju negara adidaya.


Di sanalah mereka akan menimba ilmu, di sana pula Kinara akan mencoba melupakan pria yang bernama Jeremy.


Sebelum pergi, Satria meminta izin kepada Larasati untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Yudha .


Tentu saja Larasati mengizinkan, karena walau bagaimanapun juga Yudha adalah ayah kandung dari Satria.


Di sinilah sekarang Satria berada, di Panti asuhan tempat Yudha bekerja dan tinggal. Tempat di mana Yudha bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.


"Jadi, kamu beneran bakalan ngelanjutin kuliah di negara A?" tanya Yudha.


Satria tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


"Iya, Pa. Satria mohon izin untuk pergi, Papa jaga diri baik-baik. Satria janji bakalan sering-sering buat hubungin Papa," kata Satria.


Mata Yudha nampak berkaca-kaca, mereka berada di dalam kota yang sama saja Yudha tidak bisa setiap hari bersama-sama.


Lalu, bagaimana jika Satria pergi jauh? Apakah masih ada waktu untuk dirinya berbicara dari hati ke hati, antara anak dan ayah?


Namun, satu hal yang Yudha pahami. Satria akan pergi untuk menimba ilmu, Yudha harus mendukung walaupun akan terasa sangat berat.


Satria tersenyum, dia paham dengan apa yang Yudha rasakan. Karena Satria juga merasakan hal yang sama.


Satria yang duduk di samping Yudha langsung memeluknya dengan erat, dia elus punggung Yudha dengan lembut.


Yudha merasa tidak kuasa menahan air matanya, dia menangis di dalam pelukan putranya.


"Papa jangan khawatir, Satria pasti akan sering melakukan video call. Satria juga bakal sering kasih kabar," kata Satria.

__ADS_1


"Papa tahu, Papa mengerti. Hanya saja, Papa merasa enggan untuk berjauhan dengan kamu. Namun, percayalah. Papa merestui kamu, belajarlah yang rajin. Gapailah mimpimu," kata Yudha.


"Iya, Pa." Satria melerai pelukannya, lalu dia mengusap pipi Yudha yang basah.


"Terima kasih atas restunya, Satria janji akan belajar dengan baik," kaya Satria lagi.


"Papa percaya," kata Yudha dengan senyum di bibirnya.


"Bang, Abang mau pergi? Abang mau ninggalin Rachel?" tanya Rachel yang baru saja datang.


Dia langsung menghampiri Satria dan memeluknya tanpa ragu, Rachel menangis tanpa malu. Satria hanya bisa diam tanpa bisa membalas pelukan Rachel.


"Abang kok tega banget mau ninggalin aku? Nanti kalau mau ketemu jadi susah, kalau Abang di sini aku masih bisa nemuin Abang. Kalau Abang jauh, terus aku rindu bagaimana? Abang'kan ngga pernah ngasih no ponsel Abang?"


Rachel terus saja berbicara seraya menumpahkan kesedihannya, Satria hanya bisa diam seraya menghela napas berat.


"Abang kenapa diam saja? Jawab dong, Bang?" tanya Rachel.


Bu Airin dan juga Ridwan hanya bisa terdiam melihat pemandangan di hadapannya, anaknya baru saja kelas dua SMP, tapi sudah memiliki rasa yang dalam untuk Satria.


Yudha yang kini berada tepat di hadapan dua orang insan yang sedang berpelukan itu merasa iba, iba terhadap Rachel yang tidak berhenti menangis. Yudha tepuk-tepuk punggung Rachel agar bisa lebih tenang.


"Jangan menangis, Abang hanya pergi untuk menimba ilmu. Bukan untuk pergi berperang, kamu jangan sedih seperti itu. Nanti kita bakalan ketemu lagi," kata Satria pada akhirnya.


Mendengar Satria berbicara, rasanya Rachel sangat senang sekali. Dia bahkan dengan cepat menyusut air matanya dengan ujung baju yang dia pakai.


Kemudian, dia melerai pelukannya. Dia tatap wajah Satria yang selalu saja dia kagumi, dia tersenyum kala melihat wajah Satria yang terlihat begitu meyakinkan dirinya.


"Nanti kalau Abang pulang, kapan pun itu. Abang harus langsung temui Rachel terlebih dahulu," kata Rachel.

__ADS_1


"Iya, nanti kalau Abang pulang, Abang bakalan temui Rachel," jawab Satria.


"Janji, ya, Bang?" kata Rachel seraya menunjukkan jari kelingkingnya.


Satria terkekeh, lalu dia mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Rachel.


"Iya, Abang janji," jawab Satria.


Senyum di bibir Rachel semakin merekah, dia begitu senang mendapat jawaban dari Satria. Bahkan dia langsung memeluk Satria kembali dan tanpa ada yang menduga Rachel terlihat mengecup pipi Satria.


Satria terlihat diam membeku, karena ini adalah pertama kalinya ada seorang anak perempuan yang berani mengecup pipinya.


Bahkan Yudha, Ridwan dan juga bu Airin terlihat bengong dibuatnya. Mereka tidak menyangka jika Rachel akan melakukan hal itu.


Berbeda dengan Rachel, dia terlihat tersenyum malu-malu lalu melerai pelukannya.


"Hati-hati ya, Abang!"


Setelah mengatakan hal itu, Rachel terlihat berlari dan keluar dari Panti. Wajahnya terlihat memerah, mungkin di merasa malu.


Ridwan dan bu Airin nampak menghampiri Satria, mereka terlihat tidak enak hati terhadap Satria dan juga Yudha.


"Maaf atas perlakuan Rachel tadi," ucap Ridwan.


"Tidak apa-apa, Om. Dia masih anak-anak," kata Satria.


"Ya," jawab Ridwan.


***

__ADS_1


Masih berlanjut....


Jangan lupa tinggalkan jejak, yes. Kalian memang selalu bisa membuat Othor semakin semangat.


__ADS_2