
Kinara benar-benar merasa cemburu saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada seorang wanita muda yang sedang dekat dengan Mich, bahkan gadis itu terlihat dengan berani menyuapi Mich.
Hal itu membuat dada Kinara terasa bergemuruh, dia benar-benar kesal. Apalagi saat Mich yang tidak menolak apa yang dilakukan oleh gadis itu, Kinara sungguh kesal.
Ingin sekali Kinara keluar dari tempat persembunyiannya, ingin sekali Kinara melayangkan protesnya terhadap Mich.
Ingin sekali Kinara memaki gadis itu, karena gadis itu sudah berani mendekati lelaki yang tanpa sadari dia cintai dan dia sayangi itu.
Namun, satu hal yang Kinara sadari, dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Mich. Apalagi satu minggu yang lalu dia sudah menolak Mich, dia berkata jika dirinya belum siap untuk menikah.
Kini Kinara menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah pantas dia untuk menghampiri Mich dan melayangkan protesnya, pikirnya.
Saat Kinara sedang asyik dengan lamunannya, tanpa dia sadari Mich terlihat bangun dan menghampiri Kinara.
Dia berdiri tepat di belakang wanita yang sangat dia cinta itu, dia menundukkan kepalanya lalu dia berbisik tepat di telinga Kinara.
"Kamu sedang apa di sini, hem?" bisik Mich.
Sontak Kinara yang kaget langsung menyikut perut Mich, beruntung tenaga Kinara dirasa tidak seberapa bagi Mich.
Namun, dia terlihat ingin mengerjai Kinara. Mich terlihat membungkuk, lalu memegangi perutnya yang polos tanpa baju itu.
"Ouch! Sakit," keluh Mich.
Kinara langsung membalikkan tubuhnya, lalu dia menatap perut Mich yang sudah dia sikut itu dengan tatapan bersalah.
Mich terlihat tersenyum penuh kemenangan saat melihat raut khawatir dan juga raut bersalah dari wajah Kinara.
"Eh? Maaf, Om. Aku kira bukan, Om. Maaf ya? Lagian Om ngagetian aja, mana aku tahu kalau Om ternyata sudah berada di belakangaku!"
__ADS_1
Kinara mencebikkan bibirnya, tapi tangannya dengan cepat mengusap-usap perut Mich.
"Damm!" umpat Mich kala Kinara hampir mengusap adik kecil Mich.
Kinara merasa tidak enak hati karena Mich tiba-tiba saja terlihat tidak nyaman, bahkan Mich terlihat mengumpat.
"Eh? Kenapa Om?" tanya Kinara yang tidak tahu alsannya, karena wajah Mich kini terlihat memerah.
Mich yang merasa kesal terlihat berdecak sebal, kemudian dia berkata.
"Ck! Tolong kondisikan tangan kamu itu, dia hampir menyentuh adik kecilku," keluh Mich.
Kinar terlihat membulatkan matanya dengan sempurna kala Mich berkata seperti itu, rasanya dia sangat malu mendengar apa yang Mich katakan.
"Eh? Maaf, Om. Kinar ngga sengaja, refleks Om." Kinara menjauhkan tubuhnya.
Melihat Kinara yang malah menjauhi dirinya, Mich terlihat tidak suka. Lalu, pria matang itu bertanya.
Kinara terlihat menolehkan wajahnya ke arah Mich, dia baru sadar jika Mich kini sedang bertelanjang dada.
Tubuh Mich terlihat begitu indah dan sangat sayang jika dilewatkan untuk dia lihat, tapi rasanya dia sangat malu jika harus menatap tubuh Mich berlama-lama.
"Ti--tidak apa-apa, aku--"
Belum selesai Kinara berucap, Mich terlihat manarik pinggang Kinara. Hal itu membuat tubuh mereka saling menempel, Kinara bahkan tanpa sadar langsung berpegangan pada pundak Mich karena takut jatuh.
"Jelaskan padaku, kenapa kamu ke sini? Padahal sudah jelas-jelas kamu menolak ajakan aku untuk menikah!"
Mich terlihat mengusap pipi Kinara dengan lembut, hal itu membuat wajah Kinara memerah.
__ADS_1
"Aku, aku hanya ingin berkunjung." Kinara berkata dengan gugup.
Dia merasa tidak mungkin jika harus berkata jujur kepada Mich, jika dirinya merindukan pria matang itu. Dia berniat untuk mengungkapkan perasaannya.
"Benarkah? Kenapa tidak membawa buah tangan? Oh, aku tahu. Kamu membawa buah bibir untuk aku cicipi," kata Mich seraya menatap bibir mungil Kinara yang terlihat mungil dan juga penuh.
Bibir itu yang dulu dengan beraninya mencuri ciuman pertamanya, bibir itu yang sudah membuat dirinya tidak bisa tidur kala itu.
"Buah bibir? Maksudnya gosip, Om?"
Kinara bertanya dengan dahi yang berkerut dalam, karena dia tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Mich.
Mich terlihat kesal karena Kinara malah salah mengartikan dari apa yang dia maksud, padahal dia sudah berharap jika Kinara akan langsung paham.
"Bukan gosip, tapi kamu harus memberikan aku sebuah kecupan manis seper--"
Belum sempat Mich menyelesaikan ucapannya, gadis manis yang sejak tadi memperhatikan apa yang Mich lakukan bersama dengan Kinara terlihat mengeluarkan suaranya.
"Kak, aku bukan obat nyamuk. Kenapa aku dicuekin? Mana Kakak malah mesra-mesraan lagi, aku sebel!" ucap gadis itu seraya menghentakkan kakinya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu, sontak Mich dan juga kinara terlihat saling menjauhkan tubuh mereka. Karena di sana masih ada orang lain selain mereka berdua.
"Sorry, lagian kamu masih kecil. Sana balik, tungguin pacar kamu dateng aja." Mich terlihat mengusir gadis itu.
Saat ini Mich ingin berduaan saja dengan Kinara, sudah satu minggu dia tidak bertemu dengan wanita yang dia cintai itu.
Tidak ada salahnya bukan, jika dia kini merasa saatnya untuk mereka melepas rindu. Hem, Mich sepertinya sudah merencanakan sesuatu.
"No! Louisa ngga mau pergi, karena Abian ngga jadi dateng. Katanya dia ngga boleh ke mana-mana, dia harus menemani kedua adiknya," keluh Louisa.
__ADS_1
Mendengar nama Abian dibawa-bawa, Kinara terlihat penasaran, dia bahkan langsung memandang gadis itu dan bertanya.
"Abian? Maksudnya?" tanya Kinara bingung.