
Dua puluh menit kemudian.
Ceklek!
Pintu kamar mandi nampak terbuka, Kinara terlihat keluar dengan hanya menggunakan bathrob saja. Kepalanya terlihat terbungkus handuk kecil.
"Pakailah baju gantinya, Buna menunggu di ruang makan." Larasati beranjak dari sofa dan segera keluar dari dalam kamar Kinara.
"Ya, Buna," jawab Kinara.
Kinara segera memakai baju yang sudah disiapkan oleh rarasati, kemudian dia mengeringkan rambutnya dan segera keluar dari dalam kamarnya.
Langkahnya langsung tertuju ke ruang makan, saat dia tiba, semuanya terlihat sudah berkumpul.
Untuk sesaat Kinara terdiam, dia menatap sengit ke arah tiga putra kembar Mini. Dia masih merasa sangat kesal.
"Duduklah, Kinar, Sayang." Jonathan menepuk kursi kosong di sampingnya.
Kinara tersenyum, lalu dia duduk tepat di samping kanan Jonathan.
"Makanlah yang banyak, karena menghadapi ketiga putra Ayah Angga butuh tenaga ekstra." Satria yang duduk di samping kiri Kinara terlihat berbisik tepat di telinga Kinara.
Kinara langsung melotot kesal kepada abangnya tersebut, dia tahu jika menghadapi ketiga putra nakal itu butuh banyak tenaga.
Akan tetapi, rasanya Satria tidak perlu sampai mengatakan hal itu. Menyebalkan sekali, pikirnya.
"Abang nyebelin!" keluh Kinara.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara, Satria terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa dia begitu suka menggoda adiknya tersebut.
"Sudah-sudah, sekarang lebih baik kita makan," kata Jonathan.
"Iya, Daddy," jawab Kinara.
Kinara terlihat memandang sop iga yang sudah tersedia di hadapannya, nasi miliknya sudah tersedia pula.
Hal itu bukan membuat dia senang, justru Kinara merasa curiga. Dia merasakan sesuatu hal yang tidak enak.
"Makanlah, Sayang. Nenek sengaja membuat makanan kesukaan kamu," kata Bi Narti.
__ADS_1
Pantas saja sudah tersedia semangkuk sup iga lengkap dengan nasinya, ternyata bi Narti yang sudah menyiapkannya, pikir Kinara.
Bahkan di atas nasinya sudah ditaburi bawang goreng yang lumayan banyak, karena dirinya memang suka sekali dengan bawang goreng.
"Oke, Nek. Kinar makan, ya?" ucap Kinar bersemangat.
Setelah mengucapkan basmallah, Kinar langsung mengambil sendok dan mulai mengambil satu sendok sup iga yang terlihat begitu enak di matanya.
"Satu... dua... tiga..." ucap Cakra pelan.
"Uhuk! Uhuk!"
Kinara terlihat terbatuk-batuk seraya memukuli dadanya, lehernya terasa panas. Dadanya terasa sesak, lidahnya bahkan merasa tidak nyaman.
Satria yang memang berada tepat di sampingnya, langsung mengambil segelas air dan membantu Kinara untuk meminum air putih tersebut.
"Hah! Hah! Hah!"
Kinara terlihat menatap ketiga putra Mini dengan napas tersenggal-senggal, dia terlihat begitu kesal dan juga marah.
Semua orang yang ada di sana nampak menatap Kinara dan ketiga putra berwajah sama tersebut secara bergantian.
"Ada apa sih sebenarnya? Kenapa kamu menatap mereka seperti itu, Sayang?" tanya Mini.
Awalnya, Mini tidak mengerti dengan apa yang Kinara Inginkan. Namun, setelah Kinara mengambil sendok dan menyerahkannya kepada Mini, barulah Mini mengerti.
Mini paham jika Kinara meminta dirinya untuk mencicipi sop tersebut, Mini menurut. Dia mencicipi sop yang sudah disodorkan oleh Kinara.
Mata Mini langsung membulat dengan sempurna, rasa asin dan juga pedas yang kini dia rasakan di lidahnya.
Dengan cepat Mini mengambil air minum dan menenggaknya hingga tandas, dia tidak menyangka jika sop yang sudah disiapkan untuk Kinara rasanya sangat tidak enak.
"Aku tidak mau makan," katanya Kinara seraya berlalu begitu saja.
"Oh ya ampun!" kata Angga seraya menepuk jidatnya.
Angga langsung menatap ketiga putranya tersebut, Abian dan Bryan yang tidak tahu apa-apa hanya menggedikkan kedua bahunya.
Berbeda dengan Cakra, dia terlihat terdiam karena takut saat melihat wajah Angga yang terlihat begitu serius.
__ADS_1
Melihat akan hal itu, Angga jadi yakin jika pelakunya adalah Cakra. Dengan cepat Angga berucap.
"Ini pasti ulah kamu, kan, Cakra? Sekarang bangun dan segeralah minta maaf kepada Kak Kinar," kata Angga tegas.
Cakra terlihat menunduk, lalu menyimpan sendok yang sedari tadi dia pegang. Semua orang yang sedang berada di ruang makan tersebut, terlihat menatap Angga dan juga Cakra secara bergantian.
"Baik, Daddy," kata Cakra.
Cakra terlihat bangun, lalu dia melangkahkan kakinya menuju kamar Kinara. Tiba di depan kamar Kinara, Cakra terlihat memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?" tanya Kinara setengah berteriak.
"Ini aku, Kak. Cakra," jawab Cakra.
Hening, tidak ada jawaban dari dalam kamar Kinara. Cakra terlihat menghela napas berat, mungkin dia kesal terhadap dirinya.
"Ku mohon bukalah pintunya sebentar, Kak. Aku hanya ingin meminta maaf," kata Cakra.
"Tidak mau, kamu menyebalkan!" jawab Kinara dari dalam kamar.
Kembali Cakra mahalan napas dalam, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan kata maaf dari Kinara, karena itu akan membahayakan dirinya jika Annga tahu dirinya belum meminta maaf.
"Oh, ayolah Kak. Aku hanya ingin meminta maaf, tidak lebih dari itu. Kumohon," kata Cakra memelas.
Tidak lama kemudian, pintu kamar Kinara nampak terbuka. Kinara terlihat menyilangkan kedua tangannya di depan dada, wajahnya terlihat ditekuk, bahkan bibirnya terlihat mengkerut.
:Cepatlah kalau mau minta maaf, aku tidak ada waktu," kata Kinara.
Cakra terlihat menganggukan kepalanya, kemudian dia mengulurkan tangannya. Untuk sesaat Kinara memandang tangan tersebu. Namun, tidak lama kemudian dia menerima uluran tangan dari Cakra.
"Aku minta maaf, ya, kak. Untuk kejadian yang tadi," kata Cakra.
"Hem," jawab Kinara malae.
"Terima kasih Kakak cantik untuk kata maafnya, tapi aku tidak janji jika ini yang terakhir kalinya," kata Cakra.
Setelah mengatakan hal itu, Cakra langsung berlari. Sedangkan Kinara terlihat melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Cakra.
__ADS_1
***
Masih berlanjut, jangan lupa tinggalkan jejak.