
"Maksud Bibi bagaimana? Uang apa?" tanya Yudha.
"Kita duduk dulu, Den. Biar enak ceritanya," kata Bi Minah.
"Iya, Bi," kata Yudha menurut.
Bi Minah dan juga Yuda terlihat mencari bangku untuk duduk setelah itu bi Minah mulai menceritakan semuanya kepada Yudha.
"Jadi begini, Den--"
Bi Minah terlihat kebingungan mau cerita apa dan harus berbicara dari mana, Yudha tersenyum. Lalu dia berkata.
"Aku sudah tahu jika Jesicca pergi dari kampung Bibi karena ancaman dari seseorang yang menyukainya, lebih tepatnya orang yang terobsesi terhadap jesicca. Apa lagi sekarang Jesicca tambah cantik dan semok," kata Yudha seraya terkekeh.
Bi Minah nampak tersenyum melihat perubahan Yudha, karena Yudha terlihat lebih ramah dan murah senyum.
"Ya, Aden benar. Semua orang nampak geram kala tahu Neng Jesicca tidak ada karena ancaman dari Maman, para warga dan pak RT akhirnya merencanakan sebuah penggerebekan kepada Maman dan teman-temannya," kata Bi Minah.
"Lalu?" tanya Yudha penasaran.
"Selama satu minggu pak RT dan warga mencari tempat persembunyian Maman, ternyata dia tinggal di gudang terbengkalai di dekat gunung. Pak RT akhirnya memutuskan untuk melaporkan Maman pada pihak yang berwajib, agar Maman bisa segera ditindak lanjuti." Bi Minah menghela napas panjang.
Yudha terlihat menyimak setiap ucapan dari bi Minah, dia begitu penasaran dengan apa yang akan terjadi kepada Maman selanjutnya.
"Terus?"
"Setelah melakukan penyelidikan, akhirnya polisi melakukan penggrebekan. Maman dan teman-temannya yang ternyata kabur dari penjara itu langsung lari tunggang langgang, ada yang yang jatuh ke parit, ada yang jatuh ke tebing dan ada yang di tembak kakinya karena kabur ke jalanan," jelas Bi Minah.
"Tapi, si Maman itu ketangkep, kan, Bi?" tanya Yudha antusias.
"Alhamdulillah ketangkep setelah jatuh ke tebing, kaki dan tangannya patah karena jatuh menimpa batu besar," kata Bi Minah seraya menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah kalau begitu, Jesicca jadi tidak perlu khawatir lagi. Lalu uang yang ingin Bibi kembalikan uang apa?" tanya Yudha.
Bi Minah terlihat tersenyum canggung, kemudian dia kembali berkata.
"Sebenarnya lebih tepatnya Bibi ingin bertanya kepada Jesicca, apakah Jesicca mau kembali ke kampung Bibi atau tidak? Kalau misalkan tidak, rumah yang dia beli di sana akan dibayar oleh menantu Bibi. Kan, sayang rumahnya terbengkalai begitu saja. Kalau Jesicca setuju, Bibi mau langsung memberikan uangnya," kata Bi Minah.
"Oh, kalau begitu lebih baik Bibi langsung ke kostan Jessica saja. Saya akan antar, Bibi ke sana. Tapi, sebelumnya saya merapikan alat lukis saya dulu," kata Yudha.
"Iya, Den. Kalau begitu Bibi tunggu di sini," kata Bi Minah.
"Jangan panggil Aden, Bi. Panggil saja Yudha," kata Yudha tak enak hati.
"Ah, iya. Baiklah!" jawab Bi Minah.
Setelah berpamitan kepada bi Minah, Yudha nampak merapikan alat-alat lukisnya. Kemudian, dia membawa alat-alat lukisnya menuju rumah kontrakan miliknya. Dengan setia bi Minah menunggu di bangku taman.
__ADS_1
Setelah selesai, Yudha kembali menghampiri bi Minah untuk mengajaknya menuju kostan milik Jesicca.
Namun, saat mereka hendak berangkat, ternyata waktu sudah hampir maghrib. Akhirnya mereka berdua melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu di mushala yang ada di dekat taman.
"Sudah selesai, ayo kita ke tempat Jesicca. Bibi sudah tidak sabar," kata Bi Minah.
"Ya, Bi," jawab Yudha.
Setelah mengatakan hal itu, Yudha mengajak bi Minah ke kostan Jesicca menggunakan motor matic miliknya.
Hanya memerlukan waktu sepuluh menit saja mereka sudah tiba di depan rumah bu Sari, Yudha nampak menepikan motornya. Kemudian, dia menghampiri security yang ada di sana.
"Permisi, Pak. Maaf mengganggu, saya Yudha. Saya mau bertemu dengan Jesicca," kata Yudha.
Security tersebut nampak memindai penampilan Yudha dari atas sampai bawah, kemudian dia memalingkan wajahnya kearah bi Minah. Lalu, dia bertanya.
"Anda siapanya Neng Jesicca? Terus, ibunya yang di sana siapanya?" tanya security tersebut.
"Saya mantan suaminya, bolehkah saya bertemu sebentar dengan Jesicca?" tanya Yudha.
Melihat wajah Yudha, security tersebut nampak tidak yakin, namun saat melihat wajah bi Minah, dia tersenyum lalu berkata.
"Sebentar, saya tanya Neng Jesicca dulu." Security tersebut nampak pergi meninggalkan Yudha dan Bi Minah.
Sepuluh menit kemudian, security tersebut nampak berjalan menghampiri Yudha dan bi Minah. Tentu saja Jesicca juga nampak berjalan beriringan dengan security tersebut.
Jesicca terlihat menggendong Putri, Yudha dan bi Minah langsung tersenyum senang dibuatnya.
Security tersebut nampak membuka pintu gerbang, Jesicca segera keluar menghampiri bi Minah dan Yudha.
"Jesicca, Putri!" panggil Bi Minah.
Bi Minah nampak memeluk Putri dan juga Jesicca, dia begitu rindu dengan kedua wanita itu.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Bi Minah.
"Baik, Bi. Sangat baik, kita ke dalam dulu. Ngga enak ngobrol di pinggir jalan seperti ini," ajak Jesicca.
"Iya," jawab Bi Minah.
Yudha nampak menghampiri Jesicca, lalu dia berkata.
"Biar Mas yang gendong Putri, Mas rindu," kata Yudha.
"Iya, Mas," kata Jesicca.
Yudha tersenyum ke arah Putri, lalu dia berkata.
__ADS_1
"Putri sama Papa dulu, biar Ibu bisa leluasa ngomong sama Nenek Minah," kata Yudha seraya merentangkan kedua tangannya.
Putri tersenyum lalu dia terlihat menggoyang-goyangkan kedua tangannya, Yudha senang sekali. Karena Putri tak pernah terlihat membencinya.
Dia langsung menggendong Putri dan membawanya bermain di dekat taman bunga milik bu Sari.
Melihat Putri yang begitu anteng dengan Papanya, Jesicca memutuskan untuk mengobrol dengan bi Minah di dalam kamar kostannya.
"Putri, kamu cantik sekali, Nak. Papa kangen, kamu kangen ngga sama Papa?" tanya Yudha seraya duduk di bangku taman.
"Papapa, tatata." Putri berceloteh seraya mengusap pipi Yudha, tak lama kemudian dia nampak tertawa.
Yudha senang bukan main mendapatkan respon seperti itu dari Putri, dia bahkan langsung mencium pipi Putri dengan gemas.
Tak lama kemudian, terdengar gelak tawa dari bibir Putri dan Yudha. Putri terlihat riang sekali, bahkan gelak tawanya sampai terdengar ke dalam rumah bu Sari.
Juki yang sedang asik minum kopi di ruang tamu langsung keluar rumah, dia merasa penasaran dengan Putri yang terdengar begitu riang.
Saat Juki keluar dari rumahnya, dia nampak mengernyitkan dahinya kala melihat Putri yang nampak begitu ruang di pangkuan Yudha.
Bahkan Juki terlihat memperhatikan wajah Yudha dengan seksama.
"Siapa pria itu? Kenapa dia terlihat begitu dekat dengan putri? Lalu, kemana Mbak Jesicca?" tanya Juki lirih.
"Kamu ngapain berdiri di sini?" tanya Bu Sari yang ternyata sudah berada tepat di samping Juki.
"Lihatin Putri, Bu. Sama siapa, ya?" tanya Juki.
Mendengar jawaban dari Juki, Bu Sari nampak menatap pria yang sedang menggendong Putri. Tak lama kemudian, Bu Sari nampak tersenyum.
"Dia adalah mantan suami dari Jesicca," kata Bu Sari.
Dalam hati Juki merasa khawatir, dia takut jika Jesicca akan kembali lagi kepada mantan suaminya tersebut. Jika itu terjadi, itu artinya dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Putri.
"Ya ampun, kenapa aku yang galau? Bukankah bagus kalau Mbak Jesicca balikan sama suaminya? Itu artinya Putri akan mempunyai keluarga yang utuh, tapi... bagaimna dengan aku?" gumam Juki.
BERSAMBUNG...
*
*
*
Hayo, bagaimana nasib Babang Juki selanjutnya, ya?
Terus, bagaimana dengan Jesicca? Pulang kampung atau tetap tinggal di kostan milik bu Sari? Atau malah mau pergi dari sana?
__ADS_1
Jawabannya nanti siang, ya....
Othor mau tidur dulu, hoam.