Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 26


__ADS_3

Satria terlihat begitu ceria saat pergi dari kediaman Jonathan, dia yang merasa masih lelah memutuskan untuk meminta sopir pribadi Jonathan intuk mengantarkan dirinya menuju Panti.


Sepanjang perjalanan menuju Panti, senyum di bibir Satria tidak pernah memudar. Sungguh dia merasa sangat bahagia bisa kembali ke tanah air, dia juga merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan orang-orang yang dia sayangi dan juga dia kasihi.


Setelah melakukan perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Satria kini tiba di depan Panti.


Satria turun dengan tergesa, karena dia sudah benar-benar rindu terhadap Yudha. Selama lima tahun dia di negara A, hanya Larasati dan juga Jonathan yang selalu menemuinya di setiap enam bulan sekali.


Berbeda dengan Yudha yang tidak pernah menemuinya, dia hanya melakukan video call saja dengan papa kandungnya tersebut.


Satria terlihat mengedarkan pandangannya, dia melihat begitu banyak anak Pnati yang sedang bermain di area taman.


Bahkan, ada juga anak-anak yang sedang belajar melukis. Namun, Satria tidak menemukan Putri atau pun Yudha di sana.


Satria tersenyum, kemudian dia memutuskan untuk masuk ke dalam Panti. Karena dia pikir Yudha pasti ada di dalam sana bersama dengan Putri.


Benar saja, saat Satria masuk ke dalam Panti, dia melihat ayahnya tersebut yang sedang duduk sambil memeriksa berkas di tangannya.


Ada Mira yang terlihat duduk di sampingnya sambil menelusupkan tangannya ke dalam baju yang Yudha pakai.


Satria tersenyum melihat akan hal itu, bahkan dia terlihat menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari ibu sambungnya tersebut.


Ya, satu tahun setelah Satria memutuskan untuk pergi ke negara A, akhirnya Yudha menerima lamaran dari Mira.


Awalnya dia tidak ingin menikah lagi, karena dia merasa hidupnya sudah sangat bahagia walaupun tanpa menikah.


Namun, Satria selalu meyakinkan dirinya jika Yudha membutuhkan pendamping hidup. Yudha akan mengalami masa tua dan Satria ingin di masa tua Yudha ada yang mengurusi dan menemaninya.


Menurut Satria, Mira adalah sosok yang pantas walaupun dia terlihat agresif dan juga genit. Akan tetapi, Satria yakin jika Mira adalah wanita terbaik yang Tuhan kirimkan untuk ayahnya tersebut.


"Assalamualaikum, Pa, Bu," sapa Satria.


Mira yang sedang asik mengelus perut Yudha sampai hampir turun dan hendak mengelus milik Yudha dia urungkan, bahkan dia terlihat menarik tangannya dengan cepat.


Satria tersenyum melihat akan hal itu, sedangkan Yudha terlihat begitu kaget saat mendengar sapaan salam dari Satria.


Yudha langsung bangun dan memeluk Satria dengan sangat erat, sungguh dia merasa sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan putra sulungnya tersebut.

__ADS_1


"Waalaikumusalam, Sayang. Kapan kamu pulang? Kenapa kamu tidak bilang sama Papa kalau kamu mau pulang? Tahu begitu Papa bisa menjemput kamu di Bandara," kata Yudha.


Satria tersenyum, kemudian dia berkata.


"Aku sengaja ingin memberikan kejutan kepada kalian semua, bahkan kepada Buna pun aku tidak bilang kalau aku mau pulang," kata Satria.


"Ya Tuhan, Sayang. Kamu nakal sekali, ayo duduk dulu. Papa sudah sangat rindu," kata Yudha.


Yudha terlihat melerai pelukannya, kemudian dia menuntun Satria untuk duduk di atas sofa bersama dengan dirinya.


Mira terlihat salah tingkah, tapi beberapa detik kemudian dia pun menyapa Satri.


"Hai tampan, kamu sudah pulang? Lama tidak berjumpa kamu semakin tampan saja," kata Mira.


"Terima kasih, Bu. Ibu juga tambah cantik," puji Satria.


Mira terlihat tersipu malu dipuji oleh putra dari lelaki yang sudah menjadi suaminya tersebut, terlihat sekali kebahagiaan di mata Mira.


Setelah menikah dengan Yudha, tentu saja dia sangat bahagia. Karena selain memiliki suami, dia juga bisa berinteraksi dengan banyak anak kecil di Panti tersebut.


Sungguh itu sebuah kebahagiaan yang luar biasa bagi Mira, wanita yang tidak bisa mempunyai anak karena tidak memiliki rahim.


"Kabar ibu baik, Sayang. Alhamdulillah," kata Mira serayama lirik ke arah Yudha.


Lelaki yang sudah empat tahun ini menjadi suaminya, lelaki yang sudah memberikan banyak kebahagiaan di dalam hidupnya.


Dia merasa bersyukur karena bisa menikah dengan Yudha, lelaki yang dia rasa begitu pengertian dan juga begitu menyayangi dirinya.


Walaupun tingkah Mira terkadang selengean, satu hal yang membuat Yudha ingin memperlakukan Mira dengan sebaik-baiknya.


Dia sudah membuat kesalahan yang begitu fatal di masa lalunya, rasanya saat ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki dirinya.


Dia merasa dengan berbuat baik terhadap Mira, hidupnya terasa lebih baik lagi. Apalagi Mira merupakan wanita yang tidak banyak menuntut.


Padahal, Yudha sangat tahu jika Mira adalah wanita kaya. Namun, dia seolah tidak malu untukmenjadikan dirinya sebagai suami. Yudha bersyukur akan hal itu.


Yuda yang begitu merasa rindu kepada putranya tersebut, terlihat terus saja merangkul tubuh putranya. Mereka mengobrol dan meluapkan rasa rindu, karena sudah lima tahun tidak bertemu.

__ADS_1


Cukup lama mereka mengobrol dan bercanda sampai satu jam lamanya, hingga pada akhirnya Satria pun berkata.


" Oh ya, Pa. Putri ke mana? Kenapa aku tidak melihat dirinya?" tanya Satria.


Yudha tersenyum, dia merasa sangat senang sekali karena ternyata Satria masih terlihat begitu peduli terhadap adiknya tersebut.


"Hari ini dia tidak datang, Sayang. Katanya lagi ada tugas kuliah gitu," jawab Yudha.


"Oh, begitu ya, Pa. Kalau begitu Satria mau ke tempat Putri dulu, Satria sudah rindu," kata Satria.


"Boleh, tapi kamu shalat ashar lebih dulu," kata Yudha yang kebetulan mendengar suara Aladzan berkumandang.


Satria menurut, akhirnya dia pun melaksanakan shalat berjamaah bersama dengan Yudha, Mira dan juga anak-anak Panti.


Setelah melaksanakan shalat ashar, Satria memutuskan untuk pergi ke rumah Jonathan karena dia ingin menemui Putri.


"Satria pergi dulu ya, Pa. Assalamualaikum," pamit Satria.


"Waalaikumsalam, Sayang," jawab Yudha.


Setelah berpamitan kepada Yudha, akhirnya Satria melangkahkan kakinya menuju halaman Panti. Saat tiba di halaman Panti, tiba-tiba saja ada sebuah mobil mewah yang masuk ke arah Pantai.


Untuk sesaat Satria terdiam, dia memperhatikan mobil yang masuk ke area Panti tersebut. Tidak lama kemudian, mobil itu nampak berhenti.


Pandangan Satria tidak lepas dari mobil tersebut, hingga tidak lama kemudian seorang wanita cantik turun dari dalam mobil tersebut.


Senyum di bibir Satria terlihat mengembang, karena akhirnya dia bisa bertemu dengan wanita yang sangat dia rindukan.


Wanita itu kini terlihat begitu cantik dan modis, Satria semakin terpesona dibuatnya. Jangan tanya bagaimana cara Satria bisa mengetahui perkembangan dari gadisnya itu.


Karena Satria selalu mencari tahu tentang kegiatan gadis itu lewat sosial media, bahkan Satria rela membuat akun tanpa nama hanya untuk mengikuti gadis itu.


Namun, tidak lama kemudian senyum di bibir Satria langsung sirna kala melihat seorang pria tampan turun dari mobil mewah tersebut.


"Sial!" umpat Satria.


****

__ADS_1


Siapa, ya gadis itu? Kuy ramein kolom komentar.


__ADS_2