Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 72


__ADS_3

Putri terlihat sangat bahagia sekali karena Reon benar-benar bersikap sangat romantis terhadap dirinya, Reon benar-benar memperlakukan dirinya dengan penuh cinta.


Di saat Putri kecil dia sering membaca buku dongeng tentang seorang putri yang dinikahi oleh seorang pangeran tampan berkuda putih, Putri sering sekali memimpikan hal itu.


Ada seorang pangeran tampan, yang mau mengajak dirinya untuk naik ke atas kuda putih dan membangun istana pasir bersama dengan dirinya.


Namun, ternyata di kala dewasa bukan hanya istana pasir yang akan Putri buat bersama dengan Reon. Akan tetapi, Reon benar-benar membangun istana yang Putri sangat idam-idamkan.


Untuk sesaat dia menatap cincin putih yang terlihat begitu cantik dan juga elegan yang kini melingkar di jari manisnya, Reon tersenyum kala melihat Putri dengan binar bahagia di wajahnya.


"Apa kamu suka cincinnya?" tanya Reon. Putri tersenyum ke arah Reon, lalu dia membalas tatapan mata Reon.


"Bukan hanya cincinnya yang aku suka, tapi sikap dan perilaku kamu juga aku sangat suka," jawab Putri seraya tersenyum hangat.


"Uluh-uluh, ternyata calon istriku sekarang sudah pintar menggombal," kata Reon seraya memeraktekkan tangannya seperti orang yang sedang mencubit.


Sebenarnya Reon sangat ingin sekali mencubit pipi Putri dengan gemas, sayangnya dia takut jika Putri akan marah jika dia sembarangan menyentuhnya.


"Ngga gombal, Mas. Tapi beneran, sepertinya aku sudah mulai mencintai kamu," kata Putri jujur.


"Oh ya ampun, rasanya aku ingin sekali memelukmu dan mencium bibir mungilmu itu. Aku benar-benar sangat bahagia," kata Reon seraya momoyongkan bibirnya.

__ADS_1


"Haish! Mulai deh," keluh Putri.


"Bercanda, Sayang," kata Reon seraya memamerkan deretan gigi putihnya.


Putri tersenyum, dia tahu jika Reon memang sudah tidak selabar untuk menghalalkan dirinya. Namun, dia juga sadar jika dia harus menyelesaikan pendidikannya.


Banyak orang yang berkata untuk apa perempuan mempunyai pendidikan tinggi, karena pada akhirnya mereka akan kembali ke dapur.


Perempuan juga ujung-ujungnya akan melayani suami di dapur dan di atas kasur, tapi tetap saja Putri ingin menjadi wanita yang berpendidikan.


Agar nanti jika dia sudah mempunyai keturunan, dia bisa mendidik keturunannya dengan baik.


Memang benar jika pendidikan itu tidak hanya bisa didapatkan dari sekolahan saja, pendidikan itu bisa kita dapatkan dari lingkungan sekitar dan dari tempat kita bergaul.


"Oh ya, Mas. Satu hal lagi yang ingin aku bicarakan, aku ingin besok kita pergi ke Panti Asuhan. Aku mau kamu meminta izin kepada papa Yudha untuk menikahiku," pinta Putri.


"Loh, kok sudah minta izin aja? Bukannya kita menikahnya masih lama, ya? Atau mungkin kamu sudah tidak sabar untuk segera aku nikahi?" goda Reon.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Reon, Putri terlihat mengerucutkan bibirnya. Dia merasa malu sekaligus kesal terhadap apa yang dikatakan oleh calon suaminya tersebut.


"Bukan seperti itu, Mas. Tapi memang seharusnya kamu bertemu dengan papa dan meminta izin secara langsung kepada papa, walaupun memang kamu sering bertemu dengan papa. Tapi, ini urusannya lain," kata Putri.

__ADS_1


"Iya, aku paham. Aku mengerti, Sayang. Besok setelah sarapan kita ke Panti," kata Reon.


"Loh, kok pagi-pagi sekali? Memangnya kita ngga ngantor?" tanya Putri.


"Aku akan menyerahkan urusan kerjaan kepada orang kepercayaan ayah dulu, karena menurutku kedatangan kita ke Panti adalah hal yang lebih penting," kata Reon.


Hal yang Reon katakan sukses membuat hati Putri berbunga-bunga, dia merasa sangat senang karena Reon selalu saja bisa mengambil simpatinya.


"Baiklah, besok selesai sarapan aku akan bersiap untuk pergi ke Panti. Jemput ya," kata Putri. Putri berucap dengan sangat manja, hal itu membuat Reon sangat gemas.


"Engga ah, aku ngga mau jemput kamu. Berangkatnya kamu sendiri saja, nanti kita ketemu di Panti," kata Reon.


"Ih kamu jahat, katanya cinta. Tapi jemput aja ngga mau," kata Putri seraya memukul gemes punggung tangan calon suaminya itu.


"Idih! Kamu curang bener, kamu pukul-pukul tangan aku boleh. Tapi aku mau ngelus kamu aja ngga boleh," kata Reon dengan nada penuh protes.


"Habisnya kamu nakal gitu, masa akunya ngga dijemput. Kamu tega, kamu calon suami yang tega!" kata Putri.


"Maaf, Sayang. Aku hanya menggoda saja, besok pagi-pagi sekali aku akan menjemput kamu," kata Reon.


"Gitu dong, baru tuh namanya calon suami yang baik," kata Putri seraya terkekeh.

__ADS_1


****


Selamat sore, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, sayang kalian semua.


__ADS_2