
Mini sudah terlihat cantik dan juga rapih, dia terlihat memakai kaos panjang berwarna merah jambu dipadupadankan dengan celana jeans panjang berwarna biru.
Rambutnya dia kuncir kuda, sehingga menampilkan leher jenjangnya.
Di punggungnya sudah tersampir tas ransel kecil berbentuk tady bear, anak itu memang benar-benar terlihat kekanak-kanakan.
Jika diperhatikan, penampilan Mini persis seperti anak SMA. Padahal usianya sudah memasuki umur dua puluh satu, bahkan dia keluaran universitas ternama dengan gelar S-1 jurusan tata boga.
Hanya saja Mini yang merupakan anak tunggal yang begitu manja, sering kali lebih mementingkan pergi bersama dengan teman-temannya.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Mom Delina.
"Mom, aku mau pergi. Boleh?" tanya Mini.
"Kemana?" tanya Mom Delina.
"Mau ke Cafe Kak Rara," ucapnya malu-malu.
Om Hendry yang baru saja masuk ke kamar putrinya, langsung menghampiri dua wanita cantik kesayangannya.
"Mau kemana, hem? Kenapa sudah terlihat sangat cantik begini?" tanya Om Hendry.
Mini terlihat malu-malu, sebenarnya dia ingin sekali menemui Angga. Tapi malu untuk berkata jujur, dia takut jika kedua orang tuanya akan marah kepadanya.
"Katanya mau ke Cafe Rara, Dad. Tapi sepertinya ada niat terselubung," ucap Mom Delina.
"Mom!" keluh Mini.
Mom Delina nampak terkekeh, dia memeluk lengan im Hendry lalu dia berkata.
"Sepertinya putri kita menyukai lelaki yang sudah menjadi penyelamat baginya," ucap Mom Delina.
Om Hendy nampak menghembuskan napas berat kala melihat kelakuan putrinya, sebenarnya dia ingin menikahkan Mini dengan lelaki yang mempunyai pendidikan tinggi dan juga mempunyai sebuah perusahaan besar.
Namun jika mengingat akan yang sudah terjadi, dia menjadi enggan untuk kembali menjodohkan putrinya. Biarlah Mini mencari kebahagiaannya sendiri, tapi bukan berarti dia juga yang harus mengejar-ngejar pria idamannya.
"Kamu mau menemui Angga?" tanya Om Hendry.
"Yes, Dad." Mini terlihat memilin ujung kaos yang dia kenakan.
"Daddy sarankan, jangan terlalu berharap banyak. Takutnya nanti kamu kecewa, kamu itu perempuan. Bersikaplah seolah kamu itu pantas untuk diperjuangkan," ucap Om Hendy.
"Akan aku coba, Dad. Bolehkan pergi sekarang?" tanya Mini.
"Pergilah!" kata Om Hendry.
"Yes!" seru Mini.
Dia langsung mencium pipi Om Hendy dan Mom Delina secara bergantian, lalu dia segera pergi dan meminta pak sopir untuk mengantarkannya ke Cafe milik Larasati.
__ADS_1
Sebelum itu, Mini meminta pak sopir untuk mengantarkannya menuju Rumah Sakit milik tuan Keanu. Dia ingin meminta obat anti nyeri dan juga salep untuk Angga.
"Hai uncle," sapa Mini seraya membuka pintu ruangan Tuan Keanu.
Pemilik Rumah Sakit ternama di ibu kota itu nampak menghentikan pekerjaannya, lalu dia nampak mendongakkan kepalanya.
"Hai, Sayang. Tumben kesini, ada apa?" tanya Tuan Keanu.
"Uncle, aku mau minta obat." Mini masuk dan langsung duduk tepat di depan Tuan Keanu.
"Obat apa, Sayang?" tanya Tuan Keanu.
"Obat untuk Mas Angga," ucap Mini.
Tuan Keanu yang paham langsung tersenyum, tentu saja dia sudah tahu apa yang telah terjadi dari adiknya secara langsung. Karena tadi malam mereka sudah bertemu dan membicarakan hal yang menimpa Mini.
"Baiklah, tunggu sebentar." Tuan Keanu nampak mengambil obat anti nyeri dan juga salep, lalu dia memberikannya kepada Mini.
"Terima kasih, Om," kata Mini.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Mini nampak berpamitan kepada tuan Keanu, kemudian dia pun langsung pergi menuju Cafe milik larasati.
Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Angga dan mengobati lukanya, tiba di Cafe dengan tidak sabar dia langsung turun dan masuk ke dalam Cafe tersebut.
Saat dia masuk, dia melihat Cafe tersebut begitu penuh dengan pengunjung. Ada bi Narti juga yang sedang membantu para pelayan di sana.
Tidak ada Larasati di sana, karena dia sedang melakukan fitting baju pengantin bersama dengan Jonathan.
"Bu," sapa Mini.
"Ya ampun, ibu kira siapa. Kamu kemari bersama dengan siapa?" tanya bi Narti.
"Sendiri, Mas Angga'nya mana?" tanya Mini seraya mengedarkan pandangannya.
"Di dapur, lagi bikin kue," kata bi Narti.
"Ya sudah kalau begitu, aku ke dapur ya, Bu," pamit Mini.
"Ya, pergilah!" kata Bi Narti.
Setelah berpamitan kepada bi Narti, Mini nampak melangkahkan kakinya menuju dapur. Tiba di dapur, dia bisa melihat jika Angga sedang menuangkan adonan ke dalam loyang.
Kemudian, Angga memasukkan loyang tersebut ke dalam oven. Mini tersenyum, lalu dia pun menghampiri Angga.
"Hai, Mas Angga," sapa Mini.
Angga yang sedang fokus pada pekerjaannya nampak kaget, dia bahkan langsung mengelus dadanya.
"Astagfirullah, kamu kapan datangnya?" tanya Angga.
__ADS_1
"Barusan, sini sebentar!"
Mini menarik tangan Angga agar pria itu mau mengikuti langkah Mini, kemudian Mini meminta Angga untuk duduk. Angga menurut, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita bar-bar itu.
Mini mengambil salep, lalu menoleskannya ke wajah dan rahang Angga yang masih memar. Angga nampak meringis menahan sakit.
"Sakit, ya? Maafin Daddy, ya?" ucap Mini memelas.
"Hem," jawab Angga.
Mini menyimpan salepnya dan segera mengambil air putih, lalu dia mengambil obat dari tas ranselnya.
"Minum obatnya dulu, biar cepat sembuh," kata Mini.
Angga menurut, dia langsung meminum obat yang Mini berikan.
"Terima kasih," ucap Angga.
Mendengar ucapan terima kasih dari Angga, Mini nampak tersipu.
"Sama-sama, aku boleh bantu kamu, kan? Aku juga bisa kok bikin kue, kamu duduk saja yang anteng. Biar lukanya cepat sembuh, kuenya biar aku yang buat," ucap Mini.
Tersungging sebuah senyuman tipis dari bibir Angga, sampai Mini pun tak menyadari senyuman itu.
"Lakukanlah apa pun yang ingin kamu lakukan, asal jangan menghancurkan dapur ini," kata Angga.
"Tidak akan, aku janji," kata Mini.
Mini Menyimpan tasnya dan mulai membuat kue, karena memang bahan-bahannya sudah disiapkan oleh Angga. Jadi, dia tahu kue apa yang akan dia buat.
"Ternyata tidak sia-sia kuliah jurusan tata boga," ucap Mini lirih.
Di lain tempat.
Yudha terlihat berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dengan langkah gontai, dia merasa dunianya sudah hancur berkeping-keping. Karena ternyata, Yudha positif mengidap penyakit HIV.
Dia diminta harus menjalani pengobatan secara rutin dan menjalani pola hidup yang baik, karena dokter berkata masih ada harapan untuk Yudha sembuh.
Tentunya yang terpenting semangat untuk sembuh dari diri Yudha juga harus kuat, karena Yudha tidak akan sembuh jika dia merasa putus asa.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Yudha lirih. "Sepertinya duduk di taman sambil menenagkan diri akan lebih baik," kata Yudha.
Yudha langsung menaiki motor maticnya, lalu dia pun melajukan motornya menuju taman. Dia ingin menenangkan diri terlebih dahulu, dari kenyataan yang dia dapati saat ini.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung....
Hari ini sudah tiga bab ya, di lanjut besok lagi. I Love kesayangan.