
Besok adalah hari kepergian Kinara menuju negara A, sebelum pergi tentu saja Kinara memutuskan untuk nongkrong bareng di Cafe bersama para sahabatnya.
Larasati tentu saja mengizinkan, tentu saja dengan syarat jika ibunya itu akan mengirimkan beberapa bodyguard untuk memantau kegiatan dari anak gadisnya itu.
"Tapi, Buna. Aku hanya pergi sebentar, aku janji tidak akan macam-macam. Aku merasa tidak bebas kalau ada yang ngawasi," keluh Kinara.
"Oh, ayolah, Sayang. Ini demi kebaikan kamu," kata Larasati.
"Ck! Baiklah," jawab Kinara pada akhirnya.
Walau kesal, tapi Kinara menurut. Dia berharap, semoga para bodyguard ibunya tidak membuat dirinya kesal.
"Pandai, jangan buat Buna kecewa sama kelakuan kamu, ya, Sayang," kata Larasati.
"Ya, Buna," jawab Kinara.
Setelah berpamitan, Kinara langsung meminta sang sopir untuk mengantarkan dirinya menuju Cafe x.
Tiba di Cafe, Jony, Arlan, Nathan, Erland, Tata dan juga Angga terlihat sudah datang terlebih dahulu.
Mereka adalah teman di kala Kinara melakukan balap liar dulu, mereka terlihat langsung saling memeluk.
"Ra! Elu beneran bakal nerusin sekolah di tepat para bule tinggal?" tanya Nathan.
"Iya, gue pengen belajar yang serius. Kalau deket kalian terus, gue pasti balapan terus," kilah Kinara.
"Halah! Bilang aja kalau elu males tinggal di sini karena si Keremi itu bikin elu gatel dan susah untuk diem," celetuk Erland.
"Waah! Minta diberi nih romannya," kata Kinara.
"Eits! Jangan marah bos, ini hari terakhir kita barengan. Mending kita makan-makan sampai perut kenyang," kata Jony.
"Hooh, Ra! Jangan ngambek, mending kita senang-senang sebelum elu pergi," kata Tata.
__ADS_1
"Okeh!" jawab Kinara.
Pada akhirnya Kinara benar-benar menghabiskan waktunya bersama dengan keenam sahabatnya.
Sahabat yang semuanya berjenis kelamin pria, tapi mereka selalu solid dan tidak pernah untuk berusaha memanfaatkan Kinara.
"Eh? Ini Makanan gue Ra, jangan dicomot," keluh Angga.
"Bodo!" kata Kinara sambil menyuapkan cake milik Angga.
Walaupun sikap Kinara terkadang semaunya, tapi semua temannya selalu menyayanginya. Karena Kinara selalu peduli terhadap para sahabatnya.
"Kinar, gue mau ngomong bentar sama elu." Jeremy nampak berdiri di samping Kinara seraya menepuk pelan pundak Kinara.
Kinara sempat melirik sinis ke arah Jeremy, tapi saat para bodyguard Larasati hendak menghampiri dan ingin memberikan pelajaran kepada Jeremy, Kinara langsung mengangkat tangan kanannya.
Mereka yang paham langsung mundur, karena itu tandanya Kinara masih merasa bisa menangani Jeremy.
"Duduklah!" kata Kinara.
"Please, pindah bentar. Gua mau ngomong dulu sama Kinar," kata Jeremy.
"Ck! Elu nyebelin," kata Angga seraya bangun dengan raut wajah tidak ikhlas.
"Terima kasih," kata Jeremy seraya duduk di kursi milik Angga.
"Gece mau ngomong apa? Waktu gue cuma sedikit," kata Kinara seraya melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya.
"Iya, Kinar, Sayang. Aku mau ngomong bentar, kamu jangan marah." Jeremy maraih tangan Kinara dan menggenggamnya dengan erat.
Kinara sempat menaril tangannya, tapi Jeremy menggenggam tangannya dengan kuat.
"Please, biarkan gue megang tangan elu bentar aja," pinta Jeremy.
__ADS_1
" Ya udah iya, sekarang elu ngomong mau elu itu apa. Jangan lama-lama tapi," kata Kinara ketus.
"Terima kasih, Cantik. Besok elu mau pergi, gue tahu kalau elu pergi karena mau menghindari gue. Satu hal yang perlu elu tahu, gue bakal nunggu kepulangan elu," kata Jeremy.
"Kepedean! Gue pergi karena mau menimba ilmu, bukan karena hal lain. Elu salah besar!" kata Kinara.
Jeremy terlihat mencebikkan bibirnya, lalu dia mengusap-ngusap punggung tangan Kinara dengan lembut.
"Gue tahu elu marah sama gue, tapi please kasih gua kesempatan untuk bisa deket sama elu. Seenggaknya nanti kalau elu sudah berangkat, jangan putus komunikasi sama gue," kata Jeremy.
Dalam hati Kinara begitu kesal dengan sikap Jeremy, selama ini dia selalu mengejar Jeremy.
Namun, Jeremy seolah tidak peduli. Bahkan dia selalu terkesan cuek dan seperti ingin mempermainkan hati Kinara.
Namun, di saat dia akan pergi Jeremy malah seolah-olah mengemis kepada dirinya. Sayangnya, dia sudah tidak respek lagi terhadap Jeremy.
"No! Gue ngga mau lagi berhubungan sama cowok kaya elu," kata Kinara.
"Ya ampun, Kinar, Sayang. Kamu mematahkan hati gue," keluh Jeremy seraya memegangi dadanya.
"Lebay! Mana sih hati elu yang patah? Biar gue pungut terus gue campurin nih ke kopi milik gue," kata Erland.
Jeremy mencebik tidak suka akan apa yang dikatakan oleh Erland, dia sedang merayu Kinara, pikirnya.
Namun, teman dari Kinara itu masih saja mencoba untuk menggagalkan acara rayuannya itu.
"Elu jangan berisik. Gue mau ngomong sama Ayang gue," kata Jeremy.
"Hoek! Kalau bisa gue pengen muntah garukan kebun deh, biar gue garuk muka elu yang sok kecakepan itu," kata Tata.
"Hooh, minta digaruk muka dia," kata Jony seraya meremat kedua tangannya.
"Wesh! Santai Bos!" kata Jeremy dengan raut wajah mulai takut.
__ADS_1
***