
"Saya tidak menyangka Pak RT dengan apa yang dilakukan oleh Maman, cucu saya bahkan terlihat ketakutan seperti ini," ucap Bi Minah seraya menunjukkan keadaan Amira.
Semua warga yang ada di sana nampak bertanya-tanya, sebenarnya rekaman video apa yang diserahkan oleh bi Minah kepada pak RT.
Semua yang ada di sana nampak berbisik-bisik, mereka saling bertanya tentang video apa yang sudah ditonton oleh pak RT.
Berbeda dengan Maman yang terlihat semakin menunduk, keringat kian mengucur di dahinya. Dia terlihat benar-benar takut, bahkan kedua tangannya dia remat secara bergantian.
Melihat keadaan Maman yang seperti itu, pak RT nampak tersenyum. Kemudian, dia pun berkata.
"Maman, kamu mau menjelaskan sendiri duduk persoalannya atau saya tunjukkan video yang ada di ponsel milik Amira ini?" tawar Pak RT.
Maman tak menjawab, dia terlihat bingung dengan apa yang harus dia katakan dan apa yang harus dia lakukan.
Melihat Maman yang seperti itu, warga yang ada di sana pun mulai curiga dengan apa yang terjadi. Mereka mulai berpikir jika Maman telah berbohong dengan apa yang telah dia ucapkan tadi.
Para warga pun mulai tak enak hati terhadap Jesicca, apa lagi melihat wajah Jesicca yang terlihat memperihatinkan.
Bibir Jesicca bahkan kini sudah mulai membengkak karena tidak mendapatkan pertolongan sejak tadi, wajahnya bahkan terlihat lebih pucat.
Pak RT yang melihat Maman hanya diam saja mulai tak sabar, dia pun akhirnya langsung berteriak.
"Jawab Maman!" seru Pak RT.
Maman terlihat memberanikan diri untuk menatap wajah pak RT, saat melihat wajah pak RT yang terkesan begitu horor di matanya, dia kembali menunduk.
Rasa takut benar-benar menyeruak di dalam hatinya, dia kini hanya bisa merutuki hal bodoh yang sudah dia lakukan terhadap Jesicca .
Wajah Maman sudah terlihat pucat pasi, bahkan tubuhnya terlihat bergetar. Dia benar-benar takut jika warga yang ada di sana akan menghakimi dirinya secara berutal.
"Maaf," kata Maman pada akhirnya dengan bibir bergetar. Bahkan tubuhnya sudah bergetar hebat, dia takut menjadi bulan-bulanan warga saat ini.
Mendengar kata yang keluar dari bibir Maman, Jesicca bisa bernapas dengan lega. Setidaknya hal itu membuktikan jika Maman mengakui kesalahannya, itu sudah cukup jelas untuk Jesicca.
Berbeda dengan para warga yang ada di sana, mendengar kata 'maaf' dari bibir Maman tatapan mereka berubah jadi horor.
Kalau saja mereka tidak mengingat jika Maman adalah orang yang rajin membantu sesama, mungkin saat ini Maman sudah habis dikeroyok warga setempat.
__ADS_1
"Jadi, kamu sudah mengakui jika kamu yang salah?" tanya Pak RT.
Untuk sesaat Maman terdiam, dia sangat takut jika berkata 'iya' para warga akan langsung memukulinya sampai babak belur.
"Jawab, Maman!" teriak Pak Rt.
Maman semakin menundukkan kepalanya, kemudian dia berkata.
"Iya, saya salah. Saya menyukai Neng Jesicca sejak pertama datang dengan Bi Minah, saya ingin memiliki Neng Jesicca," aku Maman.
Semua orang yang ada di sana nampak geram mendengar pengakuan Maman, bahkan ada salah satu warga yang langsung maju dan melayangkan bogem mentahnya. Beruntung pak RT dengan cepat menarik pria tersebut, sehingga wajah Maman tidak sampai babak belur.
"Sabar, sebagai warga yang baik. Kita bawa Maman ke kantor polisi, jangan main hakim sendiri. Nanti kita yang akan rugi," jelas Pak RT.
Walaupun berat hati, tapi pada akhirnya warga setuju untuk membawa Maman ke kantor polisi, empat orang warga membawa Maman ke kantor polisi.
Walaupun Maman berusaha memberontak dan mengucapkan kata maaf, namun sayangnya tidak ada yang menggubris ucapan Maman.
Setelah kepergian Maman, Pak RT meminta izin kepada bi Minah untuk membawa ponsel milik Amira ke kantor polisi. Karena video rekaman itu akan dijadikan bukti.
Tentu saja bi Minah tidak keberatan, apa lagi ini untuk kepentingan Jesicca juga.
Larasati terlihat sangat senang, karena persiapan pernikahannya sudah 90 %. Dua hari lagi pernikahannya akan dilaksanakan, karena itu dia tak boleh keluar rumah.
Begitupun dengan Jonathan, dia di larang untuk menemui Larasati. Padahal dia sudah tak sabar untuk menemui pujaan hatinya itu, dia bahkan rela mengemas pada tuan Keanu agar diizinkan untuk bertemu dengan kekasih hatinya.
Sayangnya, dia tetap tidak diperbolehkan untuk bertemu. Alhasil, Jonathan hanya memebrenggut seraya masuk kembali ke dalam kamarnya.
Jonathan nampak menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, kemudian dia menatap langit-langit kamar tersebut sambil berpikir, bagaimana caranya agar bisa menemui Larasati.
Jonathan bahkan segera bangun dan membuka pintu balkon, ternyata di sana sudah banyak bodyguard tuan Keanu yang berjaga.
Padahal niat awalnya dia ingin kabur, namun sudah bisa dipastikan dia tidak akan berhasil melakukan misinya tersebut. Akhirnya dia kembali ke dalam kamar dan duduk di atas sofa.
"Ck! Aku rindu sekali sama kamu, Sayang. Pengen ketemu," kata Jonathan seraya menghentak-hentakkan kakinya. Kelakuan Jonathan benar-benar sudah seperti anak ABG yang baru saja mengenal cinta.
Jonathan terlihat mengelus-ngelus dagunya, dia seperti sedang berpikir keras. Bagaimana cara untuk bisa bertemu dengan Larasati, sayangnya tak ada satu ide pun yang terlintas di otaknya.
__ADS_1
"Lebih baik melakukan panggilan video call saja," ucap Jonathan pasrah.
Jonathan segera mengambil ponselnya, kemudian dia melakukan panggilan video kepada Larasati. Tak perlu menunggu lama, karena beberapa detik kemudian wajah Larasati bersama dengan Satria memenuhi layar ponselnya.
Bibir Jonathan pun terlihat mengembang, dia menampilkan senyum terbaiknya kepada dua orang yang sangat dia sayangi tersebut.
"Yang, kangen!" ucap Jonathan to the point.
"Hem, aku tahu," jawab Larasati.
"Ish! tidak bisakah kamu mengatakan hal yang lain, Sayang? Hal yang bisa membuat hatiku berbunga," ucap Jonathan lesu.
"Buna lindu syama Daddy, Jo," celetuk Satria.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Satria, Larasati terlihat memelototkan matanya. Sedangkan Jonathan langsung terkekeh dengan apa yang diucapkan Satria.
"Benarkah itu, Sayang? Kalau rindu tidak usah malu, bicara saja. Jangan dipendam, nanti jadi jerawat. Kan, tidak lucu jika di hari pernikahan kita wajah kamu banyak jerawatnya. Walaupun aku akan tetap mencintaimu," godaan Jonathan.
"Mana ada yang seperti itu?" protes Larasati.
"Buna boong, Dad. Daddy tahu, dali tadi Buna liatin foto Daddy di ponsyelnya," kata Satria.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, Jonathan terlihat sangat bahagia. Berbeda dengan Larasati yang terlihat malu dan langsung mematikan sambungan video call tersebut.
Bersambung....
*
*
Ada yang bertanya kenapa ceritanya tidak fokus pada Jo dan Rara?
Othor jawab ya....
Karena judulnya balasan untuk sang mantan, mantan suami dan mantan pelakor. Jadi, pasti para mantan yang sudah menyakiti Larasati akan terus ditampilkan untuk memperlihatkan balasan yang akan mereka terima.
Kalau tidak dijelaskan dengan detail dan dilewati begitu saja, pasti yang membaca akan bingung dengan alurnya.
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏🙏