
Jesicca benar-benar merasa sedih sekali, karena Yudha benar-benar sudah terlihat tidak peduli lagi terhadap dirinya.
Saat makan malam tiba, Yudha bahkan tidak keluar dari ruang kerjanya. Jesicca hanya bisa mendessah pasrah, dia tidak bisa menuntut apa pun terhadap suaminya.
Apa lagi meminta hal yang lebih, kini Jesicca baru menyadari kebodohannya. Dia memang berhasil menjadikan Yudha untuk menjadi suaminya.
Sayangnya, mereka hanya menikah Siri saja. Itu semua terjadi karena Yudha yang tak mau mengurus surat cerai dengan Larasati kala itu.
Yudha selalu berkata 'jangan khawatir, aku hanya milikmu. Walaupun kita hanya menikah Siri saja, aku akan tetap mencintaimu. Kamulah satu-satunya wanita dalam hidupku, wanita yang selali aku cinta.'
Tentu saja Jesicca selalu merasa di atas angin dan selalu mengira jika perkataan Yudha itu memang benar adanya.
Namun, kini Jesicca merasa jika Yudha benar-benar berubah. Tak ada sorot mata penuh cinta di matanya, tak ada kata-kata pujian dan tak ada kata-kata rayuan untuk dirinya.
Bahkan, saat dia melahirkan pun dengan teganya Yudha tak menemaninya. Yudha malah pergi entah kemana, dia beralasan sedang bertemu klien.
Namun sayangnya, hati Jesicca tak percaya. Apa lagi sekarang dia melihat gelagat aneh di wajah Yudha, Yudha seperti sedang terobsesi dengan seorang wanita.
Yudha seperti sedang terobsesi ingin mendapatkan wanita yang sedang menjadi incarannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Jesicca lirih.
Jesicca terlihat merebahkan tubuhnya, lalu dia pun berbaring miring dan menatap wajah putri cantiknya.
Dia elus dan dia kecup keningnya dengan penuh kasih sayang, dia sengaja menidurkan putrinya di atas ranjang agar dia merasa tak kesepian.
Setiap malam selalu saja hal itu yang dia lakukan, karena sudah 1 bulan lebih Yudha tidak pernah tidur bersama dirinya.
Setiap hari dia memang akan masuk ke dalam kamar mereka, namun hanya untuk mandi dan berganti pakaian saja.
Yudha benar-benar sudah berubah, hal itu membuat Jesicca sedih, marah, muak dan benci secara bersamaan.
Namun, dia tidak mempunyai kuasa apa pun. Karena selama ini, dia benar-benar bergantung kepada Yudha.
Sialnya, setiap kemewahan yang Yudha suguhkan untuknya selalu habis dipakai untuk berfoya-foya dan juga membeli barang-barang mewah, sehingga saat ini dia tidak mempunyai tabungan sama sekali.
Bahkan, untuk membeli baju dan popok putrinya saja dia harus mengemis terlebih dahulu kepada Yudha.
Karena terlalu lelah dengan pemikirannya, tak lama kemudian Jesicca pun terlelap dalam tidurnya.
*/*
__ADS_1
Pagi pun telah menjelang, Jesicca terlihat mengerjapkan matanya karena Indera pendengarannya menangkap suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi.
Jessica berusaha duduk dan mengucek matanya, ternyata Indera pendengarannya tidak salah.
Karena tak lama kemudian, Yudha terlihat keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
Jessica terdiam sambil memperhatikan tingkah suaminya, Yudha terlihat dengan santainya memakai baju di depannya.
Lalu, Yudha pun terlihat mematut dirinya di depan cermin, wajahnya terlihat ceria. Entah apa yang dirasakan oleh suaminya tersebut, Jesicca tak tahu.
Hanya satu yang Jesicca paham, jika suaminya seperti ingin bertemu dengan orang yang istimewa.
"Mas mau kemana?" tanya Jesicca pada akhirnya.
"Mau ke Resto," jawab Yudha singkat.
"Emm, Mas. Sebelum pergi, tolong berikan putri kita nama. Kasihan dia," kata Jesicca.
Yudha yang terlihat sedang menyemprotkan parfum ke tubuhnya pun langsung menghentikan aksinya, dia menyimpan parfum di atas meja rias lalu menghampiri Jesicca dan juga putrinya.
Yudha terlihat duduk di ujung tempat tidur, lalu dia memperhatikan wajah putrinya yang terlihat manis dan juga cantik.
Disaat melihat wajah cantik putrinya, Yudha malah teringat akan nama mantan istrinya, 'Larasati Putri Dinata'.
"Putri Hardana," celetuk Yudha.
Putri dia ambil dari nama tengah Larasati, sedangkan Hardana dia ambil dari nama belakangnya.
Jesicca terlihat tersenyum mendengar Yudha yang memberikan nama kepada putrinya, walaupun Yudha terlihat acuh terhadap dirinya. Namun, saat ini yang terpenting untuknya Yudha masih memedulikan putri mereka.
"Nama yang cantik," kata Jesicca.
"Ya, secantik orangnya." Yudha terlihat membayangkan wajah Larasati sambil tersenyum.
"Oiya, aku tidak sarapan di rumah. Aku harus segera pergi," kata Yudha lagi.
Dahi Jesicca terlihat mengernyit dalam, waktu baru menunjukkan pukul 5.30 pagi. Mau kemana suaminya itu? Kenapa terlihat terburu-buru? Kenapa wajahnya terlihat begitu ceria? Sebenarnya dia ingin menemui siapa?
Dulu Jesicca pernah menjadi selingkuhannya selama satu tahun, namun Yudha tak pernah menemuinya sepagi ini
Lalu, kemanakah Yudha akan pergi sebenarnya?
__ADS_1
Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di benaknya, namun dia tidak berani untuk mengatakannya. Dia tidak ingin berdebat sepagi ini dengan suaminya tersebut.
"Apa tidak terlalu pagi?" tanya Jesicca.
"Tidak, ada hal penting yang harus segera aku lakukan," kata Yudha.
Jesicca terlihat tersenyum getir ketika mendengar jawaban dari suaminya, berbeda dengan Yudha yang terlihat sangat bahagia dan bersemangat.
Dia terlihat mengecup kening putrinya, lalu kemudian dia meninggalkan Jessica begitu saja. Jesicca hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan wajah sedih.
Yudha terlihat melupakan keberadaan Jesicca di sampingnya, karena hal yang dia ingat dan ingin dia lakukan pagi ini adalah pergi ke rumah Larasati.
Dia akan beralasan untuk menemui putranya, tentunya hal itu dia lakukan agar Yudha bisa sarapan bersama dengan Larasati
Senyum di bibir Yudha kian mengembang kala membayangkan wajah Larasati yang terlihat semakin cantik.
Padahal saat kemarin dia bertemu dengan Larasati, mantan istrinya itu sama sekali tak menggunakan make up. Namun, dia terlihat sangat cantik dan juga menarik perhatiannya kembali.
Setelah masuk kedalam mobilnya, Yudha terlihat melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah Larasati.
Karena hari masih begitu pagi, Yudha pun bisa dengan cepat sampai di sana.
"Aku datang, Sayang." Yudha terlihat mematut kembali penampilannya sebelum dia turun dari mobilnya.
Yudha terlihat berdeham berkali-kali ketika dia sudah sampai di depan pintu rumah Larasati, tak lama kemudian Ia pun mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok! Tok! Tok!
"Sebentar!" terdengar sahutan dari dalam.
Yudha pun tersenyum, karena dia sangat tahu jika itu adalah suara Larasati. Saat pintu terbuka, nampak Larasati yang sedang menggendong Satria.
Yudha langsung tersenyum hangat, lalu dia pun menyapa Larasati dengan sangat lembut.
"Selamat pagi, Bundanya putra tampanku." Mendengar sapaan dari Yudha, Larasati terlihat memutar bola matanya.
"Selamat pagi, Mas. Ada apa pagi-pagi sudah datang kesini?" tanya Larasati.
"Em, aku rindu dengan putraku. Boleh aku menggendongnya?" tanya Yudha.
Satria yang berada di dalam gendongan Larasati, terlihat menatap wajah bundanya.
__ADS_1