
Setelah kepergian Larasati, Yudha hanya terdiam. Makanan terenak yang dia pesan sudah tidak menarik lagi untuk disantap.
Matanya terlihat memandang ke arah luar, dia seakan berharap Larasati akan masuk kembali. Sehingga dia bisa kembali melihat wajah cantik Mantan istrinya tersebut.
Sayangnya, itu hanya angan-angan belaka saja. Tak akan ada lagi senyum bahagia dari bibir Larasati untuknya.
'Bodoh! Andai saja dulu aku' --Yudha terlihat menghela napas berat-- 'semuanya sudah terlanjur terjadi.'
Yudha terlihat berdebat dengan hatinya, dia benar-benar tak menyangka jika hidupnya akan berubah seperti ini. Dia pun tidak habis pikir, kenapa dia bisa dengan mudahnya terjerat dengan wanita.
Melihat Yudha yang hanya diam saja, Leana pun langsung memanggil-manggil Yudha dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Yudha.
"Mas! Mas! Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Leana.
"Hah?" tanya Yudha kaget.
"Ish! Makanya jangan ngelamun terus, mending kita pulang saja. Aku sudah kenyang," kata Leana.
"Ya, tunggulah di mobil. Aku akan ke kasir terlebih dahulu," kata Yudha.
Leanna menurut, dia pun terlihat keluar dari Resto dan menunggu kedatangan Yudha di dekat mobil, karena Yudha memang tak memberikan kunci mobilnya kepada Leana.
Tak lama kemudian, Yudha pun datang menghampiri Leana. Wajahnya terlihat murung, tak seceria sebelum mereka datang ke Resto.
Leana pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya, mungkinkah mesin pencetak uangnya sedang galau karena telah bertemu dengan mantan istrinya?
"Masuklah!" kata Yudha setelah membuka pintu mobilnya untuk Leana.
Leana pun masuk dan terlihat duduk, Yudha segera menutup pintu mobilnya dan segera menyusul masuk.
Yudha langsung melajukan mobilnya menuju rumah kontrakan Leana, sepanjang perjalanan pulang Yudha yak berkata apa pun.
Sesekali Leana nampak melirik ke arah Yudha, namun Yudha seolah tak perduli. Dia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tiba di rumah kontrakan Leana, Yudha langsung turun dan masuk tanpa memedulikan Leana yang berjalan menyusul dirinya.
"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Leana.
"Tidak apa-apa," jawab Yudha .
Yudha langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya, dia bahkan tak sempat untuk membuka sepatunya.
Leana yang tak ingin berdebat memilih diam, dia duduk di sofa ruang tamu seraya memikirkan perubahan sikap Yudha.
Leana nampak menggigit ujung kuku jempolnya, lalu dia terlihat menghela napas berat. Cukup lama dia terdiam dengan dahi yang terlihat berkerut dalam.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu," gumam Leana.
Leana nampak bangun dan menyusul Yudha, saat masuk ke dalam kamar, Leana melihat Yudha yang ternyata sudah terlelap dalam tidurnya.
"Ck! Kenapa dia malah tidur?"
Leana terlihat begitu kesal, dia pun langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Keluar dari kamar mandi, dia langsung mengganti gaun malamnya dengan piyama tidur.
Leanna nampak merebahkan tubuhnya di samping Yudha, saat tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Yudha, dia merasa sangat menginginkan Yudha.
Sudah beberapa kali Leana berusaha untuk membangunkan Yudha, namun Yudha tak kunjung bangun. Leanna nampak kesal, karena hasratnya sudah berada di ubun-ubun.
"Kenapa susah sekali membangunkan dia?"
Leana nampak bangun dan keluar dari rumahnya, dia tak bisa berdiam diri saja. Karena berada di dekat Yudha pun terasa percuma.
*/*
Malam telah berlalu, langit yang terlihat gelap kini sudah berubah menjadi terang. Yudha nampak mengerjapkan matanya, dia merasa jika tidurnya sudah terasa cukup. Setelah matanya nampak terbuka dengan sempurna, dia terlihat meregangkan otot-ototnya.
Yudha melihat jam digital yang ada di atas nakas, waktu menunjukkan pukul enam pagi.
Kemudian, dia pun mengedarkan pandangannya. Kamar yang biasa dia tempati bersama dengan Leana terlihat sepi.
"Kemana Leana?" tanya Yudha pada dirinya sendiri.
Yudha bangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia langsung melaksanakan ritual mandinya.
Lima belas menit kemudian, Yudha sudah nampak tampan dengan hanya menggunakan kaos pendek dan celana jeans panjang.
"Sebenarnya dia kemana? Tidak biasanya dia pergi sepagi ini," ucap Yudha lirih.
Yudha merasa bingung dengan kemana perginya Leana, langsung melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
Namun, dia juga tak ada di sana. Dia pun mencoba mencari teman tidurnya itu keluar rumah, saat dia membuka pintu, Yudha nampak mengernyit heran.
"Pintunya dikunci, lalu dia kemana?" tanya Yudha.
Yudha nampak berpikir keras, sebenarnya Leanna pergi ke mana. Tak lama kemudian, pintu nampak terbuka.
Leana masuk dalam keadaan rambut masih acak-acakan, bahkan piyama tidur yang dia pakai pun terlihat terbalik.
"Kamu habis dari mana?" tanya Yudha.
__ADS_1
Leana terlihat begitu kaget saat mendapatkan pertanyaan dari Yudha, dia tidak menyangka jika Yudha sudah bangun dan terlihat sudah sangat rapi.
"Hey! Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Yudha.
"Hah? Itu, anu. Tidak apa-apa, aku mandi dulu," kata Leana.
Leanna langsung berlari menuju kamarnya, dia ingin segera mandi dan segera berganti pakaian.
Melihat kepergian Leana yang terlihat begitu tergesa, membuat Yudha curiga, namun dia tidak bisa berkata apa-apa, karena dia tidak mempunyai bukti apa pun.
"Kenapa dia terlihat sangat aneh? Sebenarnya dia habis dari mana? Kenapa baju yang dia pakai pun nampak terbalik?" tanya Yudha pada dirinya sendiri.
Dari pada pusing, Yudha pun memutuskan untuk keluar dari rumah kontrakan Leana. Dia ingin mencari sarapan, karena Leana memang tidak pernah memasak.
Tiba di gang kedua, dia melihat ibu-ibu yang sedang asik berkerumun. Mereka terlihat membeli sayuran sambil asik ngerumpi.
"Eh, kamu tahu ngga? Si remang-remang kan sudah punya gaetan, tapi kok saya lihat tadi pagi dia keluar dari rumah si Daus. Duda yang ditinggal bininya mati melahirkan itu loh," kata Ibu A.
"Masa sih? Bukannya gaetannya lumayan tajir ya? Buktinya dia sudah ngga pernah ngutang lagi tuh di warung bu Warti," kata Ibu B.
"Kalau kata saya mah ya, kayaknya si remang-remang teh hyperr. Jadinya pengennya dicelup terus, ih amit-amit." Ibu C nampak bergidig ngeri.
"Jaga suami kita baik-baik, jangan sampai suami kita ikut nyelup juga," kata Ibu D.
Yudha hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar obrolan ibu-ibu rumpi tersebut, dia terlihat melanjutkan langkahnya dan memilih untuk membeli nasi uduk untuk dia sarapan bersama dengan Leana.
Setengah jam kemudian dia sudah kembali ke rumah kontrakan Leana, dia langsung pergi ke dapur dan menyiapkan nasi uduk yang sudah dia beli di atas piring.
"Yang! Sarapan dulu!" teriak Yudha.
Tak lama kemudian, Leana pun langsung menghampiri Yudha dan duduk tepat di sampingnya. Dia tersenyum kikuk, lalu mengambil jatah sarapan yang sudah disiapkan oleh Yudha.
"Kamu mau kemana? Kenapa sudah sangat rapi?" tanya Yudha.
"Mau kuliah, Mas," jawab Leana.
"Loh, bukannya jadwal kuliah kamu siang ya?" tanya Yudha.
"Itu, Mas. Anu, emmm. Aku ada kelas tambahan," jawab Leana.
"Kalau begitu habiskan sarapannya, nanti Mas antar," kata Yudha.
"Tidak usah, Mas segeralah cari tempat usaha. Jangan ditunda-tunda lagi," kata Leana.
"Baiklah, aku menurut," kata Yudha.
__ADS_1