
Ridwan terlihat mencoba menggerakkan tubuhnya, dia merasa dadanya terasa sesak. Tubuhnya terasa tertindih sesuatu benda yang begitu besar.
Ridwan mengerjap-ngerjap matanya, dia berusaha untuk membuka matanya yang terasa sangat berat.
Alangkah kagetnya saat dia melihat ada tangan besar yang melingkar di perutnya, Ridwan langsung berusaha untuk bangun dan turun dari ranjang.
"Astogeh! Itu, kan Bang Juki. Ngapain dia tidur di kamar aku?" tanya Ridwan lirih.
Membayangkan dirinya yang tidur sambil dipeluk oleh Juki, membuat Ridwan bergidik ngeri. Dia langsung berlari keluar dari kamarnya.
"Emak! Bapak!" teriak Ridwan saat tiba di depan kamar Ibunya.
Ridwan terlihat berteriak sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Ibunya, tak lama kemudian pintu nampak terbuka. Nampaklah Ibunya Ridwan dengan muka bantalnya.
"Kamu kenapa ketuk pintu kenceng bener? Emak ampe kaget," kata Bu Sopia.
"Itu, Mak. Anu, ada Bang Juki di kamar Uwan," adu Ridwan.
"Lah! Memangnya kenapa kalau ada Juki di kamar kamu? Bukannya sedari dulu kalian sudah terbiasa tidur bersama, jika Juki menginap di sini?" tanya Bu Sopia.
"Iiih, Emak! Beda Mak, sekarang Uwan udah gede. Uwan ngga mau tidur bareng sama Bang Juki, apa lagi Bang Juki tidurnya sambil meluk-meluk gitu. Ngga mau, ah!" kata Ridwan seraya bergidik.
"Yaelah! Tibang tidur doang juga, ini pan udah malem. Ngantuk Emak, udah sono tidur lagi!" kata Bu Sopia seraya menutup pintu.
Brak!
"Astogeh! Emak!" seru Ridwan seraya mengelus dadanya.
Ridwan sempat melirik jam yang bertengger cantik di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Ridwan terlihat berjalan dengan langkah gontai menuju ruang keluarga, akhirnya dia memutuskan untuk tidur di atas sofa daripada harus tidur di kamarnya bersama dengan Juki.
Ridwan terlihat merebahkan tubuhnya seraya mengambil bantal sofa, lalu memeluknya. Dia berusaha untuk memejamkan matanya walaupun terasa sulit.
"Ck! Padahal besok pagi harus bangun pagi-pagi, semoga tidak telat!" kata Ridwan sebelum masuk ke alam mimpinya.
*/*
"Wan, bangun!" Juki terlihat menggoyang-goyangkan tangan Ridwan.
Ridwan terlihat menggeliatkan tubuhnya, meregangkan otot-otot lelahnya. Lalu, dia segera duduk. Dia terlihat memicingkan matanya, menatap wajah Juki dengan tatapan tidak suka.
"Abang sialan!" seru Ridwan.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Ridwan langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dia ingin segera mandi dan bersiap untuk melamar pekerjaan.
Selepas kepergian Ridwan, Juki nampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, dia melangkahkan kakinya menuju dapur di mana Ibu Sopia ada di sana sedang memasak untuk sarapan.
"Masak apa, Encing?" tanya Juki.
"Masak nasi goreng telor ceplok aja, yang gampang." Bu Sopia terlihat mengaduk nasi goreng buatannya.
"Juki bikin kopi, ya, Cing?" kata Juki.
"Bikin sendiri, air di termos baru dituang," kata Bu Sopia.
"Iya," jawab Juki.
Juki terlihat membuat kopi hitam yang dia inginkan, Bu Sopia nampak mematikan kompornya dan menuangkan nasi goreng buatannya ke dalam wadah.
"Kamu mau berapa lama nginep di sini?" tanya Bu Sopia.
"Selama satu minggu, nanti pulangnya pas mau nikahan aja." Juki menyeruput kopi buatannya.
"Kamu tidur di kamar tamu, jangan tidur sama Ridwan. Dia ngga betah katanya tidur sama kamu, tidurnya pake peluk-peluk. Besok-besok kamu cium-cium lagi," kata Bu Sopia.
"Juki ngga inget, pan tidur. Iya, mulai entar malem Juki tidur di kamar tamu," jawab Juki.
"Lagian kamu tuh aneh, sudah mau jadi manten malah nginep di rumah orang." Bu Sopia mengambil piring dan menuangkan nasi goreng buatannya.
Mendengar ucapan Juki bu Sopia terlihat mendelik, dia tidak menyangka jika Juki bisa berkata seperti itu terhadap dirinya.
*/*
Pukul delapan pagi Ridwan sudah sampai di perusahaan properti yang menjadi incarannya, dia sudah datang dengan setelan kemeja berwarna putih dipadupadankan dengan celana bahan berwarna hitam.
Di tangannya, dia memegang sebuah map berisikan lamaran pekerjaan. Tiba di depan meja resepsionis, dia langsung menyapa wanita cantik petugas di sana.
"Selamat pagi, saya mau melamar pekerjaan. Kemarin saya sudah mengirimkan data saya lewat email, hari ini saya disuruh datang untuk review," kata Ridwan.
"Oh, anda bisa langsung ke lantai sepuluh. Di sana sudah ada bu Rita dan bu Airin yang sudah menunggu, di ruang HRD," kata wanita cantik itu.
"Terima kasih," kata Ridwan.
Ridwan terlihat melangkahkan kakinya dengan cepat, dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan dua wanita penting di perusahaan tersebut.
Lebih tepatnya, dia ingin segera tahu. Apakah dia diterima atau tidak bekerja di perusahaan yang cukup besar itu.
__ADS_1
Tiba di lantai sepuluh, dia langsung mencari di mana letak ruang HRD. Setelah menemukannya, dia langsung menarik handle pintunya.
Tanpa Ridwan duga, ternyata bu Airin juga sedang mendorong pintu dari ruangan tersebut. Karena Ridwan menarik handle pintunya cukup kencang, hal itu membuat bu Airin kelhilangan keseimbangan dan langsung menubrukkan badannya ke badan Ridwan.
Ridwan yang sedang dalam mode tidak siap langsung ambruk karena tidak sanggup menahan bobot tubuh bu Airin, hingga akhirnya.
Brugh!
Ridwan dan juga bu Airin terjatuh dengan posisi Ridwan di bawah dalam keadaan celentang, sedangkan bu Airin nampak berada di atas tubuh Ridwan.
Bibir mereka bahkan kini saling beradu, baik bu Airin ataupin Ridwan hanya diam terpaku dengan bibir saling menempel.
Bu Rita berlari dari dalam ruangannya dan langsung menutup mulutnya, dia begitu kaget saat melihat posisi antara Ridwan dan juga bu Airin yang terlihat begitu intim.
"Bu Airin!" pekik Bu Rita pada akhirnya.
Teriakan berita seakan menarik Ridwan dan juga bu Airin ke alam nyata, dengan cepat bu Airin bangun dari tubuh Ridwan.
Dia terlihat membenarkan bajunya yang tidak kusut, dia juga terlihat mengusap bibirnya yang sudah bersentuhan dengan bibir Ridwan.
Melihat Ridwan yang hanya diam saja, bu Rita langsung menegurnya.
"Hey! Kamu siapa? Kenapa tadi asal membuka pintu ruangan saya?" tanya Bu Rita.
Mendapatkan teguran dari bu Rita, Ridwan langsung bangun dan menegakkan tubuhnya.
"Anu, Bu. Saya yang kemarin mengirimkan data untuk melamar sebagai manajer konstruksi di perusahaan ini, maaf karena saya tadi begitu semangat. Jadinya saya lupa untuk mengetuk pintu," ucap Ridwan seraya tertunduk malu.
Bu Rita terlihat akan memarahi Ridwan, namun dengan cepat bu Airin mengangkat tangan kanannya.
Bu Rita yang paham langsung terdiam seraya menghembuskan napas berat.
"Ya sudah, kamu masuk ke ruangan saya!" tegas Bu Rita.
"I--iya, Bu," jawab Ridwan tergagap.
Bu Airin hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Ridwan.
"Saya serahkan sama kamu, saya tunggu di dalam ruangan saya," kata Bu Airin yang merasa tidak sanggup berlama-lama berdekatan dengan Ridwan.
BERSAMBUNG....
*
__ADS_1
*
Selamat malam kesayangan, Alhamdulillah Othor sudah lebih baik. Semoga satu bab ini bisa menemani waktu santai kalian, Love you.