
"Selamat pagi, Mas. Ada apa pagi-pagi sudah datang kesini?" tanya Larasati.
"Em, aku rindu dengan putraku. Boleh aku menggendongnya?" tanya Yudha.
Satria yang berada di dalam gendongan Larasati, terlihat menatap wajah bundanya.
Larasati terlihat tersenyum, lalu dia mengelus puncak kepala putra tampannya tersebut.
"Buna sudah bilang sama Satria, dia itu namanya Yudha. Ayah Yudha, ayahnya Satria." Larasati terlihat mengecup kening Satria.
Yudha terlihat senang kala Larasati seolah menegaskan jika dirinya adalah ayah dari putra tampannya.
Berbeda dengan Satria yang terlihat begitu kesal, lalu dia pun melayangkan protesnya.
"Buna, ayah aku hanya satu. Ayah Angga namannya," ucap Satria seraya mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah, kalau begitu kamu boleh panggil ayah Yudha dengan sebutan lain." Larasati memberikan solusi.
"Papa Yudha," celetuk Satria.
Yudha terlihat tersenyum, tak apa pikirnya dipanggil Papa. Yang terpenting anaknya mengakui, jika dirinya adalah ayah kandungnya.
Yudha terlihat menghampiri Larasati yang terlihat menggendong Satria, lalu dia pun kembali berucap.
"Jadi, bolehkah Papa Yudha menggendong Satria?" tanya Yudha.
Tak bisa dipungkiri jika Satria memang memiliki ikatan yang kuat dengan Yudha, Satria nampak tersenyum lalu dia pun merentangkan kedua tangannya.
Senyum Yudha Kian mengembang ketika putranya mau dia gendong, dengan senang hati Yudha pun langsung menggendong putranya.
Satu kecupan singkat dia daratkan di kening Satria, lalu dia mengacak pelan rambut Satria.
"Papa nggak boleh gitu, lambut aku nanti acak-acakan," kata Satria.
"Maaf," kata Yudha.
"Mas, sibuk ngga hari ini?" tanya Larasati.
Mendengar pertanyaan dari Larasati, hati Yudha nampak berbunga. Dia sudah menyangka, jika Larasati akan mengajaknya jalan-jalan bersama dengan putranya.
"Ngga dong, Ras. Kan, ada Rendy," jawab Yudha.
Larasati pun tersenyum, kemudian dia mengelus lembut tangan Yudha. Tatapan Yudha pun beralih kepada tangan Larasati yang mengusap tangannya dengan lembut, dia pun jadi membayangkan tangan itu mengusap area pribadinya.
__ADS_1
"Syukurlah, Mas. Kalau Mas ngga sibuk, soalnya aku harus berangkat sekarang. Ada hal yang penting yang harus aku lakukan di Resto saat ini juga, Mas tolong jaga Satria, ya?" pinta Larasati dengan wajah memelas.
Mendengar permintaan Larasati, Yudha terlihat begitu kecewa sekali. Namun jika dia menolak, dia takut jika Larasati tidak akan mau lagi bertemu dengan dirinya.
Karena dalam hatinya, dia sudah bertekad untuk merebut kembali hati mantan istrinya tersebut. Dia benar-benar ingin rujuk dengan Larasati.
"Baiklah, Mas akan menjaga Satria. Tapi ngga janji sampai sore," ucap Yudha pasrah.
Larasati terlihat memperhatikan wajah Yudha yang terlihat memperihatinkan, dalam hati dia benar-benar menertawakan Yudha.
Larasati sudah tahu jika Yudha pasti ingin mengharapkan yang lebih dari dirinya, tapi hatinya sudah tertutup oleh rasa kecewa. Hatinya sudah tertutup oleh rasa sakit hati yang Yudha torehkan untuk dirinya.
"Terima kasih, Mas. Mas memang Papa yang terbaik untuk Satria," puji Larasati.
Wajah Yudha yang tadi terlihat sendu, kini terlihat bahagia mendengar pujian dari Larasati.
"Tenang saja, aku pasti menjaga Satria dengan baik. Kalau kamu mau pergi, pergilah!" ucap Yudha.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Yudha, Larasati pun lalu berpamitan kepada Yudha dan juga Satria. Tentu saja kecupan hangat juga dia daratkan di setiap inci wajah putranya.
"Buna pergi dulu, jangan nakal. Yang nurut sama Papa, Buna ngga bakal lama. Jangan lupa sarapan bareng sama Papa," kata Larasati.
"Siap, Buna!" kata Satria.
Angga langsung mengecupi setiap inci wajah Satria, Satria yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Angga, langsung tertawa dengan terpingkal-pingkal.
Wajahnya terlihat begitu bahagia, bahkan Satria pun membalas kecupan Angga dengan wajah cerianya.
Mendengar dan melihat apa yang Angga lakukan, Yudha terlihat mendelik sebal. Dia merasa tidak suka jika ada lelaki lain yang terlihat begitu akrab dengan putranya.
"Kamu mau berangkat sama dia?" tanya Yudha seraya menunjuk Angga dengan ekor matanya.
"Iya, Mas. Titip Satria," kata Larasati.
Setelah berpamitan kepada Yudha, Larasati pun langsung melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
Tentu saja Angga langsung mendahului Larasati, kemudian dia pun membukakan pintu mobil untuk Larasati.
Larasati nampak tersenyum dan kemudian dia pun masuk ke dalam mobilnya, setelah memastikan Larasati duduk dengan nyaman, Angga terlihat menutup pintu mobilnya.
Lalu, Angga pun ikut masuk kedalam mobil tersebut dan duduk di balik kemudi. Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi pun terlihat menjauh dari pekarangan rumah Larasati.
Yudha terlihat begitu kesal sekali melihat kepergian Larasati bersama dengan Angga, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
'Mungkin hari ini kalian bisa berlaku seperti itu kepadaku, tapi lain kali tidak akan bisa. Karena aku akan merebut hati kamu kembali Laras,' ucap Yudha dalam hati.
Setelah berkata seperti itu, Yudha pun mengajak Satria untuk masuk ke dalam rumah.
"Kita sarapan dulu ya, Nak?" ajak Yudha.
"Iya Papa." Mendengar kata Papa dari bibir mungil Satria, Yudha terlihat sangat senang sekali.
Dia pun langsung mengajak Satria untuk pergi menuju ruang makan, saat tiba di ruang makan ternyata Bi Narti sudah berada di sana dan langsung menyiapkan makanan untuk Satria dan juga untuk Yudha.
"Terima kasih, Bi," ucap Yudha.
Yudha terlihat begitu menikmati sarapannya bersama dengan Satria, balita tampan itu ternyata tidak rewel.
Yudha bisa dengan mudah menyuapi Satria, mereka terlihat begitu kompak. Bi Narti nampak tersenyum melihat kebersamaan Angga dan Yudha.
Dia sangat paham, walaupun Yudha dulu bersikap jahat terhadap Larasati. Namun Satria adalah putra kandungnya, sudah pasti mereka mempunyai ikatan batin yang kuat.
Setelah selesai sarapan, Yudha mengajak Satria untuk bermain. Tentu saja Yudha bertanya terlebih dahulu kepada Bi Narti di mana letak ruang bermain untuk Satria.
Bi Narti pun mengantarkan Yudha ke sebuah ruangan yang berada di samping ruang tengah, ruangan tersebut terlihat begitu nyaman untuk bermain Satria.
Yudha pun langsung ikut masuk bersama Satria ke dalam ruangan tersebut.
"Bibi pergi dulu," pamit Narti.
"Tunggu dulu, Bi. Jangan pergi dulu," kata Yudha.
Bi Narti yang hendak pergi meninggalkan Yudha dan juga Satria pun, langsung menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Bi Narti.
"Bolehkah aku bertanya, Bi?" tanya Yudha.
"Boleh, tanyakan saja, Tuan. Selama saya bisa menjawabnya, pasti akan saya jawab," kata Bi Narti.
"Sebenarnya Larasati akan pergi kemana, Bi? Kenapa dia terlihat buru-buru sekali?" tanya Yudha.
Mendengar pertanyaan dari Yudha, Bi Narti pun langsung tersenyum. Dia jadi teringat akan ucapan Larasati, jika Yudha pasti akan penasaran kemana Larasati akan pergi.
"Hari ini, Den Satria ulang tahun. Jadi, Laras ingin mempersiapkan acara ulang tahun yang terbaik untuk Den Satria," kata Bi Narti.
Yudha terlihat terdiam mendengar ucapan dari Bi Narti, dia pun jadi teringat kala Larasati melahirkan putranya.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Ayah macam apa aku ini?" pekik Yudha.