
Yudha terlihat sedang duduk di atas hamparan rumput, kakinya dia tekuk dan dagunya dia sandarkan di atas lututnya.
Sesekali dia menegakkan tubuhnya, lalu mencabut rumput dan melemparkannya secara sembarangan.
Dia benar-benar galau kali ini, bukan karena seorang perempuan. Namun, karena penyakit yang dia derita.
Dia benar-benar tidak menyangka jika kehidupannya akan seperti ini, dia tidak menyangka jika dia akan terkena penyakit yang mematikan seperti HIV.
"Ya Tuhan, penyakit ini sungguh berbahaya ternyata. Harus apa aku sekarang?" tanya Yudha lirih.
Pandangan mata Yudha menerawang jauh, ingatannya terpatri pada pertemuan pertamanya dengan Larasati.
Saat itu Larasati tengah bermain di taman, menikmati waktu sore sambil jajan makanan. Sesekali pandangannya mengarah pada lukisan yang dia buat.
Selepas pulang bekerja di perusahaan sang daddy, Larasati memang selalu bermain di taman untuk melepas penatnya.
Larasati terlihat begitu mengagumi hasil karya dari Yudha, melihat akan hal itu. Yudha langsung memindai penampilan Larasati dari atas sampai bawah, dia melihat jika semua yang dipakai oleh Larasati termasuk barang mahal dan mewah.
Otak licik Yudha langsung berselancar, dia segera menghampiri Larasati dan mecoba berkenalan dengannya.
Bak gayung bersambut, Larasati mau berkenalan dengan Yudha. Bahkan Larasati dengan mudahnya termakan bujuk rayu dari mulut manis Yudha.
Awalnya Yudha hanya ingin memeloroti uang Larasati saja, namun ternyata Larasati malah jatuh hati padanya.
Yudha pikir tidak ada salahnya menikah dengan Larasati, toh dia cantik dan seksi. Hanya satu kekurangannya, dia tidak pandai bermain di atas ranjang, menurut Yudha.
"Maafkan aku, Ra. Kalau saja aku setia sama kamu, mungkin hidup aku tidak akan seperti ini. Padahal pengorbanan kamu sangat besar untuk aku," kata Yudha lesu.
Yudha terlihat menghela napasnya dengan kasar, lalu dia bangun. Dia ingin segera pulang dan beristirahat saja, karena tubuhnya terasa sangat lelah.
Padahal dia belum melakukan kegiatan apa pun dari pagi, hanya mandi, makan, sarapan dan pergi ke Puskesmas.
Yudha mulai melangkahkan kakinya, namun baru saja beberapa langkah Yudah kembali menghentikan ayunan langkah kakinya.
Telinganya seakan menangkap suara aneh di balik rerumputan yang tumbuh dengan liar, Yudha yang penasaran langsung melangkahkan kakinya menuju suara yang terdengar aneh itu.
"Akh! Enak, gede." Suara itu terdengar semakin jelas.
Yudha menyibak ilalang yang menghalangi pandangannya, alangkah kagetnya saat dia melihat pemandangan yang sangat-sangat membuat matanya sakit.
Yudha melihat seorang perempuan sedang dalam posisi merangkak beralaskan selembar kain, dari belakang wanita itu terlihat seorang pria sedang menghentaknya dengan penuh gairah.
"Ya Tuhan, bahkan ini masih siang. Mereka keterlaluan sekali!" kata Yudha seraya berlalu dari sana.
__ADS_1
Melihat pemandangan yang seperti itu, membuat Yudha ngeri sekaligus ingin merasakan kembali hal yang sudah lama tidak pernah dia rasakan.
Jika dia tidak mengingat penyakit yang dia derita, mungkin dia sudah mencari perempuan yang bisa memuaskan hasratnya.
Yudha langsung melajukan motornya dengan kencang, dia tidak mau mendengar apalagi melihat hal seperti itu.
Tiba di rumah kontrakannya, Yudha terlihat memarkirkan motornya. Kemudian, dia segera masuk ke dalam rumahnya dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
Ingatannya menerawang kala dia melihat apa yang terjadi di tanah kosong tersebut, dalam sekejap saja miliknya sudah berdiri dengan tegak.
Yudha berdecak sebal akan hal itu, selama beberapa bulan ini dia tidak pernah melihat miliknya menegang seperti itu.
Karena hanya penyakitnya saja yang dia pikirkan dan juga kesalahan-kesalahan terhadap orang-orang yang pernah hadir di dalam hidupnya.
"Sialan!" umpat Yudha.
Yudha langsung bangun dan berlari menuju kamar mandi, lalu dia membanting pintu kamar mandi dengan kasar.
*/*
Di lain tempat.
Jesicca terlihat sedang memasak untuk bu Sari makan siang, sedangkan Putri terlihat asik bermain di ruang keluarga dengan boneka Hello kitty yang diberikan oleh Juki.
Tak lama kemudian, Putri terlihat tertawa dengan riang. Bu Sari tertawa melihat akan kelakuan dari Putri, menurutnya itu sangat lucu.
"Bu, makan siangnya sudah siap," kata Jesicca.
Bu Sari yang sedang asyik tertawa, langsung memalingkan wajahnya ke arah Jessica, lalu dia menganggukkan kepalanya.
"Iya, saya sudah lapar. Tolong bantu saya," pinta Bu Sari.
Dengan senang hati Jesicca membantu bu Sari untuk duduk di atas kursi rodanya, setelah itu dia menggendong Putri dan mendorong kursi roda milik bu Sari menuju ruang makan.
"Sesuai yang ibu minta, saya menggoreng ikan kembung, tumis kangkung, nyambel sama sedia lalapan, Bu," kata Jesicca.
Bu Sari langsung memindai makanan yang sudah dimasak oleh Jesicca, air liurnya seakan menetes kala melihat masakan hasil Jesicca. Karena menurutnya wanginya saja sudah sangat enak, apalagi rasanya.
"Ibu mau makan sekarang, tolong endokin nasinya!" kata Bu Sari.
Jesicca menurut, dia mengambil piring dan mengendok nasi lengkap dengan lauk, sambal dan lalapnya.
Setelah itu, Jesicca terlihat memberikan piring tersebut kepada bu Sari. Bu Sari dengan senang hati menerimanya.
__ADS_1
"Terima kasih, sekarang kamu juga makan bareng saya," ajak Bu Sari.
"Ibu saja duluan, saya nanti belakangan," jawab Jesicca seraya duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Dia tidak mungkin meninggalkan bu Sari sendirian, takut-takut wanita paruh baya itu membutuhkan bantuannya.
"Ya sudah, kalau begitu saya makan duluan," kata Bu Sari.
"Iya, silakan!" jawab Jesicca.
Setelah membaca do'a bu Sari langsung melahap makanan yang dibuatkan oleh Jesicca tersebut. Baru saja satu suapan masuk kedalam mulutnya, tiba-tiba saja dia dikagetkan oleh suara seorang pria.
"Makannya sendiri saja, aku ngga diajak makan?" tanya Juki yang ternyata sudah ada di belakang Bu sari.
Bu Sari langsung menghentikan kunyahannya, kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah Juki. Bu Sari merasakan kaget dan senang bercampur aduk menjadi satu.
Padahal Juki berpamitan akan sebulan di luar kota, namun baru saja tiga hari dia sudah kembali.
"Kamu sudah pulang?" tanya Bu Sari.
Juki langsung terkekeh mendengar pertanyaan dari Bu Sari, Juki terlihat menghampiri bu Sari dan mengecup keningnya. Setelah itu dia duduk tepat di samping bu Sari.
"Juki ditugaskan kembali di perusahan cabang, Juki lapar. Boleh minta makan?" tanya Juki.
"Boleh, Sayang. Jesicca, tolong ambilkan piring untuk Juki," pinta Bu Sari.
"Iya, Bu." Jesicca langsung bangun, dia hendak mengambil piring. Namun langkahnya terhenti kala mendengar ucapan dari Juki.
"Ehm, Mbak Jesicca. Boleh ngga kalau Putri saya yang gendong?" tanya Juki.
Jesicca terlihat menatap wajah Juki dengan lekat.
"Tidak usah, biar saya gendong aja. Takut merepotkan," kata Jesicca.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, wajah Juki langsung berubah sendu.
*
*
BERSAMBUNG....
Selamat pagi menjelang siang, semoga puasanya tetap lancar ya, untuk kalian yang menjalankan.
__ADS_1