Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Cupcake dan Muffin


__ADS_3

Sinar mentari sudah mulai menyinari bumi, hangatnya sang surya sudah terasa menyentuh kulit. Gelapnya malam sudah tak tampak lagi, indahnya alam bisa bisa kita nikmati dan kita lihat dengan jelas.


Pagi ini Jonathan dan juga Larasati sudah sampai di Cafe, wajah mereka terlihat berseri. Rona kebahagiaan terpancar dengan jelas di wajah keduanya.


Angga sampai terheran-heran melihatnya, karena setelah Larasati memimpin perusahaan Dinata, Larasati benar-benar sangat jarang untuk datang ke Cafe.


Walaupun itu hanya untuk mengecek laporan keuangan, bahkan Angga lebih sering menyempatkan waktu untuk mengirimkan laporan keuangan lewat email saja.


Angga jadi berpikir, apakah dia punya kesalahan yang fatal sehingga Larasati dan juga Jonathan harus sepagi ini datang ke Cafe?


Ataukah mungkin ada sesuatu hal yang baru yang memang Larasati dan Jonathan ingin sampaikan kepada Angga?


"Tumben, kalian sudah sampai di Cafe. Ada apa?" tanya Angga was-was.


Melihat raut wajah Angga yang terlihat cemas, Jonathan langsung tersenyum. Dia menghampiri Angga, lalu menepuk pundaknya dengan pelan.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja hari ini temanku berulang tahun. Dia ingin memesan 10 box cupcake strawberry dengan taburan kacang almond di atasnya," kata Jonathan.


Mendengar jawaban dari Jonathan, Angga terlihat menghela napas lega. Padahal dia sudah berpikir jika dia benar-benar melakukan kesalahan dan dia akan ditegur.


"Kapan acaranya, Bang?" tanya Angga.


"Selepas shalat dzuhur, aku mau kamu yang membuat kuenya. Aku tidak mau dia kecewa, kamu tahu?" tanya Jonathan seraya menepuk pundak Angga kembali.


Mendengarkan pertanyaan dari Jonathan, tentu saja Angga langsung menggelengkan kepalanya. Karena dia tidak tahu apa yang akan ditanyakan oleh Jonathan.


Melihat Angga yang menggelengkan kepalanya, Jonathan langsung tertawa. Kemudian, dia pun berkata.


"Dia sangat menyukai cupcake strawberry, dia juga suka muffin. Dia ingin kamu membuatnya juga, sepuluh box. Ingat, harus dibuat dari tepung gandum dengan isian kismis dan ditaburi kacang almon juga di atasnya," jelas Jonathan.


"Kamu sanggup?" tanya Larasati.


"Ah, iya, Mbak. Aku sanggup, kalau sudah selesai kuenya diantar kemana?" tanya Angga.


"Antar kuenya ke gedung TN, sampai di sana kamu langsung minta resepsionis untuk mengantarkan kamu ke ruangan Jimmy William. Karena dia ingin langsung bertemu dengan pembuat kuenya," kata Jonathan.


Mendengar nama gedung dan nama pemilik gedung tersebut disebutkan oleh Jonathan, mata Angga langsung membulat dengan sempurna.


Bahkan bibirnya terlihat menganga lebar, Larasati dan Jonatan langsung terkekeh melihat kelakuan dari Angga tersebut.


"Bukankah dia--"

__ADS_1


"Ya, dia pemilik WO terbesar yang ada di negara kita. Dia temanku, bahkan kami kuliah dijurusan yang sama. Tapi dia malah memilih untuk mewujudkan hobinya, daripada menyalurkan ilmunya," kata Jonathan seraya terkekeh.


Angga masih merasa tidak percaya jika dia mendapatkan pesanan kue dari orang ternama yang ada di negaranya, bahkan sebentar lagi dia akan bertemu dengan orang tersebut.


Siapa yang tak mengenal Jimmy William, seorang lelaki muda, kaya dan penuh talenta. Bahkan dia juga mempunyai butik khusus gaun pengantin, wajahnya juga sering wara-wiri di layar televisi.


"Oke, kalau begitu aku buat sekarang," kata Angga penuh semangat.


Setelah mengatakan hal itu, Angga langsung melangkahkan kakinya dengan lebar menuju dapur. Dia langsung mempersiapkan semua bahan yang diperlukan dengan teliti.


Larasati dan Jonathan saling pandang, kemudian mereka tersenyum penuh arti. Tak lama kemudian Mini datang dan langsung menghambur ke pelukan Jonathan.


"Bang, Jo!" teriaknya.


"Ya ampun!" keluh Jonathan seraya mengusap kedua kupingnya.


Setelah puas memeluk Jonathan, dia melerai pelukannya. Kemudian dia tersenyum kearah Larasati dan juga Jonathan secara bergantian.


"Maaf ya, Kak. Aku rindu sama Bang Jo, sama Kak Rara juga rindu." Mini langsung memeluk Larasati.


Larasati dengan senang hati langsung membalas pelukan Mini, tentu saja dalam hati Larasati tidak ada rasa cemburu terhadap Mini. Karena, Larasati sangat tahu jika Jonathan begitu menyayangi adik sepupunya itu.


"Kakak mau berangkat kerja, kamu bantuin Angga, gih! Dia sedang banyak pesanan," kata Larasati.


Setelah mengatakan hal itu, Mini terlihat mengecup pipi Larasati, kemudian dia juga langsung menjinjitkan kakinya dan mengecup pipi Jonathan.


Setelah itu, dia langsung berlari menuju dapur untuk membantu Angga sang pujaan hatinya. Melihat kelakuan dari Mini, Jonathan dan juga Larasati hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


Mini memang sudah lulus kuliah, umurnya sudah dua puluh satu tahun. Namun, kelakuannya tetap saja seperti anak-anak.


Larasati dan Jonathan memutuskan untuk segera pergi dari sana, karena memang masih ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh Larasati dan juga Jonathan.


Di Dapur.


Angga terlihat sibuk sekali, tangannya begitu cekatan dalam menakar semua bahan. Mini dengan sigap langsung membantu Angga.


"Kamu sudah datang?" tanya Angga.


"Sudah dong Ayang, kan mau bantuin calon suami," kata Mini malu-malu.


"Baguslah kalau begitu, aku sedang butuh bantuan yang lain. Mau membantu?" tanya Angga.

__ADS_1


Mini yang sedang membantu menuangkan tepung gandum langsung menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menatap wajah Angga dengan lekat.


"Bantuan apa?" tanya Mini.


Angga langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari Mini, kemudian dia menunduk dan langsung mengecup bibir Mini beberapa kali.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Angga, Mini langsung tersipu. Apalagi di sana ada beberapa karyawan yang lainnya juga, mereka terlihat tersenyum.


"Ish! Kenapa seperti itu? Aku malu," kata Mini seraya memukul lengan Angga.


"Buat penyemangat, Yang." Angga kembali menunduk dan memonyongkan bibirnya.


Namun sayangnya, sebelum bibir Angga menyentuh bibir Mini, Mini langsung mengambil sendok dan menempelkannya di bibir Angga.


"Yang!" kata Angga penuh protes.


"Malu ih, buruan kita bikin kuenya. Nanti engga kelar," kata Mini.


Angga terlihat mencebikkan bibirnya, kemudian dia berbisik tepat di telinga Mini.


"Tapi malem dapet kiss, kan?" tanya Angga.


"Iya, sekarang kamu kerja dulu. Nanti aku bilangin Kak Rara kalau kamu kerjanya ngga bener," ancam Mini.


"Iya, Sayang. Ini juga lagi kerja," kata Angga.


Setelah terjadi perdebatan kecil antara Mini dan juga Angga, akhirnya mereka berdua terlihat serius dalam membuat cupcake strawberry dan juga muffin pesanan dari Jimmy William.


Angga bahkan membuat cupcake dan juga muffin tersebut dengan penuh kehati-hatian, karena dia tidak mau mengecewakan pelanggan.


Pukul dua belas siang, cupcake dan juga muffin pesanan dari Jimmy William sudah selesai dibuat. Bahkan Mini sudah memasukkannya ke dalam box.


"Sudah siap," kata Mini.


"Ya kamu benar, kita shalat dulu. Baru kita antar pesanan," kata Angga.


"Kamu benar, Yang." Mini langsung memeluk lengan Angga dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam ruangan Angga.


*


*

__ADS_1


Selamat pagi, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan lancar terus dalam berpuasa.


SEE YOU NEXT EPISODE


__ADS_2