Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 48


__ADS_3

Acara ijab kabul sampai acara resepsi pernikahan berjalan dengan lancar, Satria benar-benar merasa sangat bahagia.


Begitupun dengan semua keluarga besar, baik dari keluarga Dinata, Hartawan dan juga dari pihak keluarga Ridwan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, para tamu undangan sudah mulai membubarkan diri.


Begitupun dengan para sahabat, keluarga dan juga sanak saudar. Putri juga nampak berpamitan untuk pulang, karena waktu sudah malam.


"Bang, Putri pamit." Putri memeluk Satria seraya memperhatikan raut wajah Rachel.


Sedari dulu Rachel selalu saja cemburu terhadap dirinya, dia takut saat ini juga Rachel akan cemburu.


Namun, ternyata dugaan dia salah. Justru Rachel kini terlihat biasa saja. Namun, wajahnya terlihat pucat.


Mungkin dia sangat kelelahan, karena menyambut kedatangan banyak para tamu undang yang hadir.


"Ya, hati-hati di jalan. Kamu pulang sama siapa?" tanya Satria.


"Sama aku, tadi aku udah izin sama Om Juki," kata Reon yang baru saja naik ke atas pelaminan.


"Titip adikku," pinta Satria.


"Pasti," jawab Reon.


"Bang!" panggil Putri.


"Ya, De. Kenapa?" tanya Satria.


"Sepertinya Kak Rachel sangat lelah, lebih baik dia segera istirahat saja. Kasian dia, Bang," kata Putri.


Satria terlihat menolehkan wajahnya ke arah Rachel, benar saja apa yang dikatakan oleh Putri. Wajah Rachel terlihat memucat, bahkan sesekali dia terlihat menunduk dan mengelus kakinya.


Satria yang merasa khawatir langsung berjongkok dan memperhatikan kaki istrinya, ternyata kaki Rchel mengalami luka lecet.


"Ya Ampun, Sayang. Kaki kamu sampai lecet seperti ini, loh. Kamu mendingan langsung ke kamar saja, nanti kalau semua tamu undangan sudah pulang aku menyusul," kata Satria.


Satria terlihat menggendong Rachel dan menundukkannya di atas bangku pelaminan, kemudian dia membuka sepatu high heels yang dipakai oleh Rachel.


Dia terlihat mengelus lembut kaki Rachel dengan lembut, mendapatkan perlakuan seperti itu dari Satria, membuat Rachel merasa senang.


Namun, dia juga merasa malu dan gugup dalam waktu bersamaan. Berbeda dengan orang-orang yang melihat kelakuan dari Satria, mereka merasa bahagia karena cinta Satria terlihat begitu besar untuk Rachel.


Kinara yang melihat akan hal itu langsung menghampiri Satria, lalu dia berkata.


"Biar aku yang mengantar kakak ipar," kata Kinara.


"Ya, sepertinya itu lebih baik," kata Satria.


Rachel tersenyum seraya menatap wajah Satria dengan gugup, lalu dia berkata.

__ADS_1


"Aku ke kamar duluan, Bang," pamit Rachel.


"Ya, Sayang," jawab Satria.


Pada akhirnya Rachel masuk ke dalam kamar pengantin mereka terlebih dahulu diantar oleh Kinara, sedangkan Satria masih berada di ballroom hotel tersebut.


Tentu saja karena masih ada keluarga inti yang belum pulang. Satria merasa tidak enak hati kalau dia menyusul Rachel, sedangkan keluarganya masih berada di sana.


Satu jam kemudian.


Keluarga inti nampak berpamitan untuk pulang, hanya Satria dan Rachel saja yang menginap di sana.


Satria dengan penuh semangat berjalan menuju kamar pengantinnya, saat dia masuk. Satria tidak menemukan istrinya.


"Di mana dia?" tanya Satria lirih.


Satria mengira jika Rachel masih berada di dalam kamar mandi, maka dari itu, Satria lebih memilih untuk membuka baju pengantin yang dia pakai.


Lalu, dia memasukan baju kotornya ke dalam keranjang cucian dan segera mengambil bathroob untuk menutup tubuh polosnya.


Ceklek!


Pintu kamar mandi nampak terbuka, Rachel terlihat keluar dengan hanya menggunakan handuk mandi yang menutup tubuhnya sampai sebatas dada.


Satria terlihat menelan salivanya dengan susah, tubuh Rachel terlihat sangat seksi dan menggoda di matanya.


"Ehm, Sayang," panggil Satria dengan suara beratnya.


"Eh? Abang! Kapan Abang masuk?" tanya Rachel gugup.


"Belum lama, Yang," jawab Satria.


Satria terlihat melangkahkan kakinya untuk menghampiri Rachel, kemudian dia mengusap pipi Rachel dengan lembut.


Lalu, Satria juga mengusap bibir Rachel dengan ibu jarinya, Rachel terlihat gugup. Satria tersenyum, lalu berkata.


"Bolehkah, aku mencicipinya?" tanya Satria.


Rachel benar-benar gugup mendapati pertanyaan tersebut dari Satria, dia memandang netra suaminya dengan lekat. Kemudian, dia menganggukkan kepalanya.


Satria tersenyum, lalu dia mulai memiringkan wajahnya dan menautkan bibirnya ke bibir istrinya.


Tangan kanannya terlihat menarik tengkuk leher istrinya, sedangkan tangan kirinya terlihat menarik pinggang Rachel sehingga kini tubuh mereka saling menempel.


Rachel hanya diam menikmati pagutan bibir dari Satria, karena jujur saja ini yang pertama untuknya dan dia juga merasa canggung untuk membalas pagutan bibir dari suaminya.


Saat sedang asyik menikmati ciuman pertamanya, tiba-tiba saja Rachel merasakan ada yang mengeras dan terasa menempel di perutnya.


Rachel langsung mendorong dada Satria, sehingga pagutan bibir mereka langsung terlepas.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Satria keheranan.


Dia menatap istrinya dengan raut wajah kecewa, Rachel menjadi tidak enak hati. Akhirnya dia mencari jawaban yang pas untuk dikatakan kepada suaminya tersebut.


"Tidak apa-apa, Bang. Abang mending mandi dulu, nanti kita lanjut lagi. Aku tunggu di atas ranjang," kata Rachel.


Raut wajah Satria berubah menjadi binar bahagia saat mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.


Dia mengira jika Rachel akan menolak dirinya, ternyata Rachel hanya keberatan karena dirinya belum mandi saja.


"Tapi, Yang. Jangan pakai baju dulu, tetap saja seperti ini," pinta Satria.


"Iya, iya," jawab Rachel gugup.


Dia benar-benar khawatir saat mengingat ada yang mengganjal di perutnya, sudah bisa dipastikan jika itu adalah milik Satria yang sudah terbangun dari tidur panjang.


Rachel terlihat berjalan dengan cepat dan duduk di tepian ranjang, dia terlihat gelisah seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.


Berbeda dengan Satria, dia terlihat berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Karena dia ingin segera menyelesaikan ritual mandinya.


Tentu saja tujuannya agar dia bisa melanjutkan hal yang sangat ingin dia lakukan bersama dengan istrinya tersebut.


Hanya dalam waktu sepuluh menit saja Satria sudah menyelesaikan ritual mandinya, dia terlihat keluar dari dalam kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya.


Lalu, dia menghampiri istrinya dan duduk di samping Rachel. Rachel terlihat sangat terpesona saat melihat wajah suaminya yang nampak begitu tampan di matanya.


"Aku sudah wangi, jadi kamu tidak bisa menolak aku lagi," kata Satria.


"I--iya, Abang," jawab Rachel.


Satria tersenyum, kemudian Satria mulai mendekatkan wajahnya dan langsung kembali menautkan bibirnya.


Rachel terlihat memejamkan matanya dan menikmati pagutan dari bibir suaminya, Satria tersenyum karena Rachel tidak menolaknya.


Bahkan Rachel mulai mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, Satria bertambah senang.


Namun, kata-kata Ridwan tiba-tiba saja terngiang-ngiang di telinganya.


"Tunggu dulu, Yang," kata Satria setelah pagutannya terlepas.


"Kenapa?" tanya Rachel.


"Kata ayah kamu ngga boleh hamil dulu, aku akan pergi sebentar untuk membeli alat kontrasepsi," kata Satria.


Satria terlihat bangun, lalu dia memakai bajunya dengan cepat. Sedangkan Rachel hanya bisa menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya.


****


Selamat sore guyz, selamat beristirahat. Biar aman guyz, kita hambat dulu pertumbuhan kecebong unggul milik Babang Satria.

__ADS_1


__ADS_2