Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Malu-Malu


__ADS_3

"Aku mau," jawab Mini.


Angga tersenyum, lalu dia mengambil cincin berlian tersebut dan menyematkannya di jari manis Mini.


Riuh bahagia terdengar di ruang keluarga tersebut, saking bahagianya Angga bahkan sampai mengangkat tubuh Mini dan membawanya berputar-putar. Mini sampai memegangi kepalanya, karena dia merasa pusing.


"Mas, udah! Turunin akunya, kepala aku pusing," keluh Mini.


"Maaf, Sayang. Maaf, aku terlalu bahagia," kata Angga.


Angga terlihat menurunkan Mini dari gendongannya, kemudian dia mendudukkan Mini di atas sofa.


Lalu, Angga terlihat mengecup kening Mini dengan lembut. Melihat akan hal itu, om Hendry langsung memelototkan matanya.


"Hey, jangan asal sosor aja! Nikahin dulu putriku!" seru Om Hendry.


"Sorry, Om. Refleks," kata Angga seraya menggaruk tengkuk lehernya yang terasa tidak gatal.


Melihat raut ketidaksukaan dari wajah daddy'nya, Mini langsung memeluk daddy'nya tersebut dan menyandarkan kepalanya di pundak om Hendry.


"Terima kasih, Dad. Terima kasih karena sudah merestui hubungan kami, jangan marah! Karena Daddy juga pasti pernah merasakan muda," goda Mini.


Mendengar akan ucapan dari putrinya, om Hendry terlihat tersenyum lalu mengacak pelan rambut Mini.


Tentu saja dia pernah muda, dia juga pernah merasakan jatuh cinta. Bahkan kala dia kuliah dulu, dia termasuk pria tertampan di kampusnya.


Hal itu membuat dirinya dengan mudahnya bergonta-ganti pacar, bahkan mom Delina saja dia tidak ingat merupakan wanita keberapa yang datang dalam hidupnya.


Menurutnya Angga masih lebih baik dari dirinya, karena setelah dia mencari tahu tentang Angga. Angga sama sekali tidak pernah berpacaran.


Selama Ini Angga hannya sibuk kuliah dan bekerja, dia juga sibuk mencari cara agar bisa membahagiakan ibunya dengan caranya.


"Ya, Sayang. Semoga kalian bisa berbahagia, lalu... kapan acara pernikahan kalian akan dilaksanakan?" tanya Om Hendry.


"Bulan depan, Om," jawab Angga cepat.


"Baiklah, semoga lancar. Do'a terbaik selalu Daddy panjatkan," kata Om Hendry.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, akhirnya semua orang memutuskan untuk membubarkan diri. Karena acara lamaran pun sudah berakhir.


Mini terlihat mengantarkan calon suaminya sampai ke halaman rumahnya, dia seolah enggan untuk berpisah.


"Mas hati-hati pulangnya," kata Mini seraya memeluk Angga.


Angga tersenyum, lalu dia membalas pelukan Mini. Dia elus punggung kekasihnya dengan lembut, di kecup puncak kepala Mini dengan penuh cinta.


"Iya, kamu cepet cuci muka, cuci kaki, gosok gigi terus bobo," canda Angga.


"Ya ampun, memangnya aku bocah mesti dikata seperti itu!" keluh Mini.


"Iya, kamu sudah besar. Mas pulang dulu," kata Angga.


Mini terlihat mengurai pelukannya, kemudian dia mendongakkan kepalanya dan memonyongkan bibirnya.


Melihat kelakuan dari kekasihnya, Angga tersenyum seraya mendorong bibir Mini dengan jari telunjuknya.


Sebenarnya ia sangat ingin mengecup bibir itu, namun dia malu karena di sana banyak sekali orang yang melihat. Tidak mungkin bukan, jika dia melakukan hal tersebut di sana.


Mini terlihat kecewa, namun Angga berusaha menghiburnya dengan mengelus lembut puncak kepala Mini. Lalu, dia mencondongkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Mini.


"Bulan depan kita sudah sah, kamu minta yang lain juga aku turuti. Sabar!" kata Angga seraya mengedipkan matanya.


Di lain tempat.


Juki terlihat tidak bisa tidur, sudah beberapa kali dia mencoba memejamkan matanya. Namun, tetap saja hanya ada wajah Jesicca yang menghiasi pelupuk matanya.


Rasanya dia ingin sekali keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar kost milik Jesicca, namun dia sangat sadar karena mereka masih merupakan pasangan belum halal.


"Ish! Kenapa dia hadir terus dan membayang-bayangiku? Sepertinya aku harus segera mempersiapkan pernikahanku, aku tidak mau tersiksa seperti ini dalam setiap malamnya," keluh Juki.


Sebenarnya Juki tidak mengerti dengan dirinya sendiri, padahal awalnya dia hanya menyukai Putri dan merasa jika putri sangatlah mirip dengan putrinya yang sudah tiada.


Namun, entah kenapa semenjak melihat dada Jesicca yang nampak terbuka dan begitu besar, membuat dirinya menginginkan hal yang lebih.


Mungkin hasrat yang selama ini tersembunyi dan tidur karena sedih ditinggal oleh orang terkasih, bangun kembali, pikirnya.


Namun, tidak dia pungkiri juga, jika di dalam hatinya kini sudah mulai tumbuh rasa suka untuk Jesicca. Bahkan dia juga merasa kagum dengan sosok Jesicca yang sekarang, dia juga menyukai pola pikir Jesicca yang sekarang.


*/*


Pukul tujuh pagi Juki terlihat keluar dari kamarnya, dia langsung melangkahkan kakinya menuju dapur.


Tanpa banyak bicara dia langsung membuat kopi dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Bu Sari yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menghampiri putranya.


Dia terlihat kebingungan kala melihat wajah Juki yang terlihat lesu, bahkan bu Sari bisa melihat ada lingkaran hitam di bawah matanya.


"Juki!"

__ADS_1


"Eh? Iya, Bu. Ada apa?" tanya Juki.


"Kamu kenapa? Tadi malam kamu, ngga tidur?" tanya Bu Sari.


"Itu, Bu. Anu, banyak nyamuk jadi susah tidur," jawab Juki.


Mendengar jawaban dari Juki, bu Sari nampak menggeleng-gelengkan Kepalanya. Mana mungkin banyak nyamuk pikirnya, karena rumahnya sudah terbebas dari nyamuk-nyamuk nakal yang akan menganggu kenyamanan tidurnya.


"Kamu aneh, banyak nyamuk atau terbayang-bayang wajah ibunya Putri?" tanya Bu Sari.


Mendapatkan pertanyaan dari ibunya, Juki hanya mengusap tengkuk lehernya yang terasa dingin. Rasanya tidak mungkin kalau dia harus jujur kepada ibunya.


"Sudah ah, Bu. Aku pamit kerja aja," kata Juki.


"Sarapqn dulu," kata Bu Sari.


"Nanti saja di kantor," kata Juki.


Juki terlihat mengecup kening Ibunya, lalu dia menanggalkan Ibunya sendirian. Dia ingin segera pergi ke kantor saja, dari pada harus mendapatkan kata ledekan dari ibunya.


Setelah mengucapkan salam, Juki terlihat keluar dari rumah Ibunya. Untuk sejenak Juki terdiam memperhatikan pintu kamar kostan Jesicca.


Karena dia merasa rindu dengan wanita tersebut Juki memutuskan untuk menghampiri Jesicca terlebih dahulu, tiba di depan kamar kostan Jesicca, Juki langsung mengetuk pintunya.


Tak lama kemudian Jesicca nampak membuka pintu kostannya.


"Ada apa, Mas?" tanya Jesicca yang ternyata sedang menggendong Putri.


Juki tersenyum, lalu dia mengambil alih Putri dari gendongan Jesicca. Dia mengangkat tinggi-tinggi tubuh baby cantik itu. Kemudian, dia mengecup pipi dan kening dari Putri.


"Baba kangen sama Putri, sama Ibunya Putri juga. Baba kerja dulu, jangan nakal. Baik-baik sama Ibu sama Nenek juga," kata Juki.


Putri langsung tertawa dengan riang saat Juki mengajaknya berbicara, entah paham atau tidak dengan apa yang diucapkan oleh Juki.


Setelah puas berbicara dengan Putri, Juki terlihat menurunkan tubuh mungil Putri dan memberikannya kepada Jesicca.


"Mas berangkat dulu, jangan nakal!" satu kecupan Juki daratkan pada bibir Jesicca.


Jesicca terlihat malu sekali mendapatkan perlakuan seperti itu dari Juki, bukan tidak suka. Hanya saja penghuni kost yang lainnya nampak memperhatikan kebersamaan mereka berdua, bahkan sampai ada yang bersiul seraya berlalu.


Lagi pula mereka belum menikah, pikirnya. Tapi Juki seakan mengecap jika Jesicca benar-benar sudah miliknya.


"Kenapa?" tanya Juki saat melihat wajah Jesicca yang nemerah.


"Malu," kata Jesicca seraya memukul lengan Juki.


*


*


Selamat pagi semuanya, selamat beraktivitas. Untuk novel Laras insya Allah targetnya akan saya tamatkan bulan ini, ya. Semoga saja bisa, untuk bulan depan akan rilis novel baru, genre horor romantis.


Sayangnya Othor ini penakut, kan, ya....


Jadinya lebih banyak ke anu-anunya dari pada uka-ukanya. Judul dan sampulnya aja yang hororr, hehehe.


Di sini diceritakan Aldo yang rela menjadi budak napsu dari Nyai Ratu, siluman penunggu hutan terlarang demi harta ya, kesayangan.



Cuplikan Bab 1 Penolakan


“Punya apa kamu? Penjual tempe di pasar saja belagu! Jangan ngimpi kamu, pake acara ngelamar anak saya segala!” Pak Didi berkata dengan sangat ketus, pada Aldo yang nota bene hanya seorang penjual tempe di pasar tradisional.


Mendengar kata kasar yang keluar dari mulut pak Didi, membuat Aldo ingin merobek mulutnya.


Akan tetapi,Aldo sangat sadar. Jika lelaki yang ada di hadapannya itu, adalah bapak dari wanita yang sangat dia cintai.


Bapak kandung dari wanita, yang sudah dia pacari sejak masa SMA. Aldo dan Arumi, sudah enam tahun lamanya berpacaran.


Karena keterbatasan biaya, setelah lulus SMA, Aldo berjualan tempe di pasar. Melanjutkan usaha almarhum bapaknya.


Berbeda dengan Arumi yang langsung melanjutkan pendidikannya. Sampai akhirnya, dia menjadi seorang Dokter umum di kotanya.


“Tapi, Pak. Saya dan Arumi saling mencintai, tolong restui kami, Pak." Aldo berucap dengan memelas.


Aldo benar-benar tidak tahu, harus dengan cara apa lagi dia berbicara pada bapaknya Arumi.Karena semakin Aldo berbicara, pak Didi terlihat semakin emosi.


Begitu sulit pikirnya, berbicara dengan orang tua dari sang pujaan hati.


“Tidur lagi sana, mimpi saja terus! Jangan harap saya bakal izinin kamu buat meminang anak saya!” tegas Pak Didi.


Arumi yang sedari tadi diam saja, merasa geram akan sikap bapaknya. Tak bisakah, bapaknya itu berbicara dengan baik? Tanyanya dalam hati.


Arumi tahu, jika bapaknya memanglah orang terkaya di kota tempat mereka tinggal. Berbeda dengan Aldo yang hanya orang biasa.


Akan tetapi, bukan berarti pak Didi bisa menghina Aldo dengan seenak jidatnya, bukan.

__ADS_1


“Pak, jangan menghina Mas Aldo terus. Arumi, sayang sama, Mas Aldo." Arumi berkata dengan bibir bergetar menahan tangis.


Dia merasa tidak tahan, saat kekasihnya di hina-hina oleh bapaknya sendiri.


Padahal, pak Didi sangat tahu. Jika Arumi tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun, karena hanya Aldo yang dia sayang.


“Tidak usah kamu bela lelaki miskin itu! Mau makan apa kamu, kalau sampai menikah dengan nya?" geram Pak Didi.


Pak Didi semakin tersulut emosinya, saat Arumi berusaha untuk membela lelaki yang tidak dia sukai.


Menurutnya, Aldo hanya lelaki miskin yang tak perlu di bela. Bahkan tak pantas untuk menjadi suami dari putrinya.


“Pak, rezeky sudah ada yang mengatur. Lagian Mas Aldo kerjanya rajin, Bapak tahu sendiri akan hal itu."Arumi mencoba membela kekasih hatinya.


Arumi yakin, jika bapaknya pasti tahu, bagimana rajinnya Aldo dalam bekerja.


Pagi-pagi dia akan menjual tempe di pasar, siang harinya Aldo membantu pamanya berjualan di toko kue.


Terkadang, Aldo juga akan menerima panggilan saat ada orang yang membutuhkan jasanya.


Walaupun hanya lulusan SMA. Akan tetapi, Aldo bisa menservis barang elektronik yang sudah rusak dan hal itu juga bisa menambah penghasilannya.


“Persetan dengan itu semua, Bapak menyekolahkan kamu sampai jadi Dokter biar dapet jodoh orang kaya. Bukan lelaki miskin, macam dia!" Pak Didi menunjuk wajah Aldo, dengan geram.


Pak Didi sudah sangat kesal, karena Arumi terus saja membantah perkataannya.


Wajah pak Didi terlihat sangat emosi, pak Didi langsung bangun dan menyeret Aldo keluar dari rumahnya.


Sampai di depan pintu, Aldo langsung di dorong dengan kuat oleh Pak Didi, Aldo sampai jatuh tersungkur di atas tanah.


Para tetangga langsung datang dan membantu Aldo untuk berdiri. Mereka sangat tidak


menyangka, jika Pak Didi akan setega itu terhadap Aldo.


“Jangan kasar-kasar kamu! Hargailah orang lain. Kalau mau menolak, tolaklah dengan baik. Jangan bertindak semamu!” Pak Reza, salah satu tetangga Arumi berusaha untuk mengingatkan.


Mendengar ucapan pak Reza, pak Didi langsung tersulut emosi.


Pak Didi langsung maju beberapa langkah, dia menghampiri pak Reza seperti ingin membunuhnya.


“Tidak usah ikut campur dengan urusan saya, urus saja hidup kamu sendiri. Hidup susah saja pake belagu segala. Maunya ngebela orang, mikir!” Pak Didi berucap dengan penuh emosi, dia tak mau dicela oleh siapa pun.


Pak Reza memang merasa geram dengan sikap kasar pak Didi. Akan tetapi, mungkin akan lebih baik jika dia menghindari orang seperti pak Didi, pikirnya.


Kalau mereka terus berdebat, mereka hanya akan bergulat karena tersulut emosi oleh perkataan dari pak Didi.


“Mari Nak Aldo, kita pergi dari sini. Tidak akan baik, kalau kita terlalu lama di sini," ajak Pak Reza.


Aldo hanya bisa mengangguk lemah, hatinya sakit bukan kepalang menerima hinaan demi hinaan yang terlontar dari mulut pak Didi.


Bahkan, kelakuan pak Didi sudah kelewat batas. Aldo tidak diperlakukan layaknya manusia, oleh lelaki yang menjadi bapak dari kekasihnya itu.


Arumi yang melihat kekasih hatinya mulai melangkahkan kakinya, merasa resah. Dia takut, jika hubungan yang telah mereka bangun selama enam tahun akan berakhir begitu saja.


Arumi seakan tak rela, Arumi benar-benar mencintai Aldo dengan tulus.


“Mas Aldo! Jangan tinggalin Arumi, Mas! Arumi sayang sama, Mas Aldo.” Arumi berteriak memanggil nama kekasihnya.


Aldo sempat melihat ke arah Arumi, namun hanya sebentar saja. Dia kembali memalingkan wajahnya, terlalu sakit rasanya mendengar umpatan kasar dari pak Didi.


Akan tetapi, walaupun tak ingin melihat Arumi. Bukan berarti cinta Aldo luntur karena makian dari bapaknya Arumi.


Aldo hanya ingin menenangkan diri sejenak, dia ingin menyendiri dan memikirkan cara, agar dia bisa kembali melamar Arumi.


Pak Didi terlihat geram, saat melihat putrinya yang seakan mengemis cinta pada lelaki yang dia anggap hina.


“Masuk kamu, Arumi! Jangan permalukan Bapak, dengan tingkah konyol kamu itu!” Arumi seolah tak perduli, dia terus meneriaki nama kekasihnya.


“Mas Aldo, Arumi sayang sama, Mas Aldo. Jangan ditinggalin, akunya." Arumi menangis, Arumi meraung seperti orang kesakitan. Membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba.


Pak Didi yang kesal pun, langsung menyeret Arumi menuju kamarnya. Kemudian, pak Didi mengunci pintu kamar Arumi dari luar.


Arumi langsung menangis dan meraung sambil memukul bantal, dia merasa tak tahan dengan kelakuan bapaknya yang selalu semena-mena.


Ingatan Arumi menerawang akan kejadian yang baru saja kemarin dia lalui bersama Aldo, Arumi izin tak enak badan pada atasannya. Padahal, dia ingin bertemu dengan kekasih hatinya.


Arumi langsung masuk ke dalam kamar Aldo, di mana Aldo terlihat hanya mengenakan celana panjang saja.


Wajah Aldo terlihat segar, dia seperti habis mandi dan melakukan shalat dzuhur, Arumi langsung memeluk Aldo dari belakang.


Arumi mengusap lembut dada Aldo, Arumi seolah mengatakan jika dia menginginkan hal yang lebih dari itu.


Aldo langsung terlonjak kaget, tapi, saat tahu jika Arumi' lah yang datang, Aldo pun langsung tersenyum.


Aldo langsung membalikkan badannya, dia menatap wajah cantik pujaan hatinya.


"Apa yang kamu lakukan, hem?" tanya Aldo.

__ADS_1


*/*


Untuk kelanjutannya, tunggu bulan depan. Untuk yang Janda Itu Mengalihkan Duniaku akan crazy up mulai bulan depan juga, semoga kalian mau terus membaca karya receh Othor.


__ADS_2