
Kinara terlihat menumpahkan segala kesedihannya di dada bidang kakaknya, Satria. Satria terlihat mengelusi punggung Kinara, sesekali dia terlihat membenahi rambut Kinara yang terlihat berantakan.
"Sudah tenang?" tanya Satria kala mendengar isak tangis Kinara yang mulai melemah.
"He'em," jawab Kinara seraya menganggukkan kepalanya di dalam pelukkan Satria.
Satria tersenyum, kemudian dia melerai pelukannya. Dia menepuk-nepuk kedua pundak Kinara dengan lembut.
"Tunggullah di sini sebentar, Abang mau ke warung dulu," kata Satria.
Kinara sedang sedih, pikirnya. Dia sedang membutuhkan dukungan dan juga support dari Satria.
Namun, kenapa dia malah meminta izin untuk ke warung? Apa hubungannya warung dengan kesedihan Kinara?
"Abang mau apa?" tanya Kinara.
"Mau membeli air mineral buat kamu minum, mau beli es batu juga buat kompres mata kamu. Abang ngga mungkin bawa kamu pulang dengan mata bengkak seperti itu," jawab Satria.
Kinara tersenyum karena Abangnya itu begitu perhatian terhadap dirinya, dia benar-benar merasa beruntung karena mempunyai saudara lelaki yang selalu bersikap perhatian.
"Abang, benar. Kinar akan menunggu," jawab Kinara.
Kinara nampak terdiam duduk di bangku pinggir jalan tersebut, sesekali matanya melihat ke kanan dan ke kiri.
Dia memperhatikan jalanan sore yang semakin macet, sedangkan Satria terlihat langsung pergi ke warung untuk membeli apa yang sudah dia sebutkan.
Lima menit kemudian, Satria terlihat datang dan menghampiri Kinara. Dia langsung duduk di samping Kinara dan memberikan air mineral yang sudah dia buka.
Dengan senang hati Kinara langsung menerima air mineral yang diberikan oleh Satria.
"Terima kasih, Abang," kata Kinara.
"Ya, sama-sama," jawab Satria.
Setelah mengatakan hal tersebut, Satria terlihat mengambil sapu tangan yang selalu dia bawa di dalam saku celananya, kemudian dia mengambil es batu yang sudah dia beli dan membungkusnya dengan sapu tangan tersebut.
"Kompreslah mata kamu, biar Buna nanti tidak sedih lihat keadaan kamu," kata Satria seraya memberikan es batu tersebut.
"Iya, Abang," jawab Kinara.
Kinara terlihat menutup botol air minum bekas dia minum dan menyimpannya di atas bangku.
****
"Assalamualakum, Buna.'' Kinara dan Satria terdengar mengucapkan salam.
"Waalaikum salam," jawab Larasati dan Jonathan.
"Kenapa kalian lama?" tanya Jonathan yang terlihat sangat khawatir.
"Mampir jajan dulu, Daddy." Kinara langsung memeluk Jonathan.
Jonatan sampai kaget dibuatnya, karena Kinara datang-datang langsung memeluk dirinya.
Karena saat dia ingin memeluk putrinya tersebut, Kinara selalu menolak. Dia selalu beralasan jika dirinya sudah besar, dia sudah tidak pantas lagi diperlakukan seperti anak kecil.
__ADS_1
Namun, apa ini? Kenapa Kinara tiba-tiba saja memeluknya dengan erat?
Bahkan dia terlihat begitu nyaman saat berada di pelukan sang Daddy, Satria yang paham hanya menggelengkan kepalanya saja.
Dia sangat tahu jika adiknya itu begitu membutuhkan support dari setiap orang yang ada di sekelilingnya.
Hanya saja, Kinara tidak berani mengatakan apa pun kepada Jonathan dan juga Larasati. Jonathan malah memanfaatkan kesempatan tersebut, dia langsung mengangkat tubuh Kinara dan menggendongnya. bak karung beras
"Daddy!" teriak Kinara.
Kinara terlihat begitu kaget kala Jonathan tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya, berbeda dengan Jonathan, Satria dan juga Larasati yang melihat akan hal itu malah tertawa dengan terbahak-bahak.
"Ini hukuman buat kamu, karena kamu sudah membuat Daddy khawatir," kata Jonathan.
"Sorry, Daddy. Please, turunkan aku. Aku takut," kata Kinara.
"Tidak akan, Daddy tidak akan menurunkanmu di sini. Sebentar lagi mau maghrib Daddy akan mengantarkan kamu menuju kamar kamu, tentunya dengan cara seperti ini," kata Jonathan seraya melangkahkan kakinya menuju kamar Kinara.
"Buna! Tolong aku," pinta Kinara.
Sayangnya, Larasati seperti tidak berniat untuk menolong Kinara. Dia malah menertawakan Kinar semakin keras.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, Kinara terlihat berteriak seraya memukul punggung Jonathan.
Namun, Jonathan seolah tidak peduli karena dia benar-benar ingin mengerjai putrinya tersebut.
Selepas kepergian Kinara, Larasati mendekati Satria. Kemudian dia pun bertanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan adik kamu, Sayang?" tanya Larasati.
Awalnya Larasati memang merasa sangat bingung, karena tiba-tiba saja Jefry meneleponnya dan berkata jika Kinara tidak akan meneruskan lagi pelatihan balap motornya.
Larasati merasa sangat kaget karena balap motor adalah keinginan Kinara sejak lama. Namun, kenapa Kinara bisa memutuskan tidak akan melakukan latihan balap motor lagi, pikirnya.
Segudang pertanyaan pun terus berlarian di otak Larasati, tapi kini Larasati paham. Pasti ini ulah si Jeremy, pikir Larasati.
"Ya sudah, sekarang Abang mandi terus ganti baju gih! Buna tunggu di mushola," kata Larasati.
"Baik, Buna,'' jawab Satria. Setelah mengatakan hal itu, Satria terlihat masuk ke dalam kamarnya.
****
Keesokan harinya.
Sepulang sekolah, Kinara bersikukuh ingin pergi ke Panti. Dia merasa membutuhkan teman untuk bermain, agar pikirannya lebih jernih lagi.
Awalnya Satria tidak mau mengabulkan permintaan dari adiknya tersebut, karena baik Kinara atau pun Satria sama-sama masih mempunyai tugas yang harus dikerjakan di sekolahan.
Namun, Kinara bersikukuh untuk pergi. Bahkan, Kinara langsung meminta izin kepada gurunya agar mereka diizinkan untuk segera pergi.
Akhirnya Satria mengalah, dia langsung pergi menuju Panti dengan adik manjanya tersebut. Tiba di Panti, Satria dan juga Kinara langsung menghampiri Yudha yang ternyata sedang bersama dengan Mira.
"Papa!"
Satria langsung meraih tangan kanan Yudha, laku mencium punggung tangan ayahnya tersebut dengan takzim. Begitupun dengan Kinara, dia melakukan hal yang sama seperti yang abangnya lakukan.
__ADS_1
"Loh, kok tumben kalian datang bukan di hari libur?" tanya Yudha.
"Lagi pengen, Om," jawab Kinara dengan cepat.
Yudha terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara.
"Oh, salim dulu sama Tante Mira," kata Yudha.
"Iya, Pa," jawab Satria.
Satria dan juga Kinara terlihat menghampiri Tante Mira, lalu mereka pun melakukan apa yang diucapkan oleh Yudha.
"Ehm, yang ini siapa lagi, Mas? Kok bukan Putri?" tanya Mira.
"Dia anak dari mantan istriku, tapi dia sudah seperti putriku," jawab Yudha.
"Oh," jawab Mira.
"Ya sudah, kalau begitu kalian duduk saja dulu. Biar Papa buatkan minuman untuk kalian," kata Yudha.
"Ehm, tidak usah. Aku saja," tawar Mira.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mira, Yudha dan juga Satria terlihat saling pandang. Kemudian mereka menganggukkan kepalanya.
Mira tersenyum, kemudian dia langsung melangkahkan kakinya menuju dapur yang ada di Panti tersebut.
"Om, Kinar boleh main nggak sama anak-anak Panti?" tanya Kinara.
"Ya, boleh. Pergilah!" kata Yudha.
Kinara terlihat bersorak, dia bahkan langsung melompat dan memeluk Yudha. Setelah itu, dia langsung berlari keluar untuk bermain bersama anak Panti.
Selepas kepergian Kinara, Satria mengajak Yudha untuk duduk. Kemudian, dia mulai berbicara.
"Pa, sepertinya sudah waktunya Papa memiliki pasangan hidup lagi. Akan lebih baik jika ada yang menemani di masa tua Papa," kata Satria.
Yudha langsung tertawa saat mendengar apa yang dikatakan oleh putra sulungnya tersebut, dia tidak menyangka jika Satria akan mengatakan hal tersebut.
Padahal, Satria baru berumur tujuh belas tahun. Tapi dia seolah menjadi teman yang begitu pengertian untuk dirinya.
"Rasanya tidak perlu, Sayang. Papa sudah sangat bahagia mempunyai kamu, Putri dan semua anak Panti," kata Yudha.
"Pa, ingat. Papa juga harus memikirkan perasaan tante mira, aku lihat dia menyukai Papa. Makanya dia selalu datang ke Panti," kata Satria.
"Sok tahu," kata Yudha seraya memukul lengan Satri.
Satria tertawa, kemudian dia berka.
"Tidak ada salahnya untuk mencoba berumah tangga kembali, Pak. Lagian Papa juga sudah sembuh total," kata Satria.
"Ya," jawab Yudha.
****
Masih berlanjut....
__ADS_1
Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Satu bab untuk menemani malam kalian sebelum tidur.