Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 41


__ADS_3

Walaupun Satria merasa sangat bersalah karena bersikap terlalu terburu-buru terhadap Rachel. Namun, dia tetap merasa senang karena pada dasarnya Rachel memang menyukai dirinya.


Bahkan Rachel sudah berkata bersedia untuk menjadi istrinya, Satria berniat besok setelah pulang kerja dia akan membeli cincin untuk Rachel.


Dia sadar jika selama ini jangankan membelikan hadiah untuk Rachel, bersikap baik saja kepada Rachel tidak pernah.


Justru setelah lima tahun tidak bertemu membuat dirinya begitu rindu dan ingin terus berdekatan dengan Rahel setiap kali melihat wajah manisnya.


Apalagi setiap kali mendengar suaranya, juga setiap kali dia menyebutkan namanya. Rasanya, dia tidak ingin berpisah dari wanita tersebut.


"Sebaiknya aku cepat tidur, karena besok aku harus bangun pagi-pagi," kata Satria.


Setelah mengatakan hal itu, Satria nampak merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur, lalu mulai berdo'a dan memejamkan matanya.


Hari ini dia benar-benar merasa mendapatkan kejutan yang membuat dirinya begitu bahagia, kejutan yang tidak akan bisa dia lupakan seumur hidupnya.


Satria sempat merasa, jika dirinya akan kesusahan untuk mendekati Rachel. Namun, ternyata justru orang tuanya begitu pengertian.


Larasati justru jangan sigap menyatukan mereka dengan rencana pernikahan, rencana luar biasa yang tidak terduga menurutnya.


Tidak lama kemudian Satria nampak terlelap dalam tidurnya, wajahnya bahkan terlihat sangat damai.


Jika satria kini sedang dalam diliputi rasa bahagia, berbeda dengan Putri yang justru merasa sangat kesal.


Dari pagi menjelang, dia terus saja diikuti oleh Reon, ini padahal sudah malam. Namun, Reon tetap menunggu dirinya di ruang keluarga.


Dia beralasan ingin berbicara dengan Putri. Namun, entah kenapa Putri merasa enggan. Reon bahkan rela menemani Ansel dan juga Alex, mereka terlihat begitu asyik main ps bersama.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa dia bersikeras sekali untuk menungguku?" kata Putri seraya mengintip Reon dari balik tembok.


Juki yang melihat Putri sedang mengintip di balik tembok, langsung mengajak putrinya tersebut untuk masuk ke dalam kamar Putri.


Dia menuntun Putri agar duduk di atas sofa bersama dengan dirinya, Juki tersenyum. Kemudian dia mengelus lembut kedua lengan putri sulungnya tersebut lalu dia berkata.


"Dengarkan Baba, Sayang. Bukannya Baba mau ikut campur, Baba rasa Reon sangat menyukai kamu," kata Juki.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, Putri terlihat menghela napas berat. Kemudian, dia menatap wajah Baba'nya dengan lekat.


"Putri tahu, Ba. Putri bisa merasakannya, hanya saja Putri ingin fokus kuliah dulu. Putri juga ingin fokus mencari uang, Baba masih ingatkan jika Putri ingin membuat rumah di samping rumah Baba? Uang Putri belum cukup," kata Putri.


Juki tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Putri sulungnya tersebut, dia sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh Putri.


"Kamu itu perempuan, Sayang. Tidak perlu merasa terbebani untuk mencari uang untuk membeli rumah," kata Juki.


"Sekarang Baba mau tanya, kamu suka tidak kepada Reon?" tanya Juki.


Mendengar pertanyaan seperti itu dari Juki, Putri nampak menunduk. Dia bingung harus menjawab apa.


Di satu sisi dia memang menyukai atasannya tersebut, karena sikapnya sangat perhatian dan pengertian.


Namun, di sisi lain dia ingin fokus terhadap kuliahnya terlebih dahulu. Dia juga ingin, jika menikah nanti suaminya tidak mengekang Putri untuk tinggal di rumah saja.


Karena Putri ingin bekerja dan ingin memberikan uang hasil keringatnya kepada orang tua dan juga adik-adiknya.


Juki tersenyum, kemudian dia menarik lembut putri sulungnya kedalam pelukannya. Dia mengelus punggung Putri dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Sekarang kamu temui Reon, bicarakan apa yang mengganjal di hatimu. Jangan menghindarinya terus, kasihan dia. Baba juga lelaki, Baba bisa merasakan bagaimana rasanya dihindari perempuan yang kita sayangi."


Dengan sabar Juki memberikan pengertian kepada putri sulungnya tersebut, Putri mengangguk di dalam pelukan Juki. Kemudian, dia melerai pelukannya.


"Baiklah, kalau begitu Putri akan menemuinya," jawab Putri.


Setelah mengatakan hal itu, Putri nampak keluar dari dalam kamarnya dan menemui Reon.


Melihat kedatangan Putri, Reon terlihat sangat bahagia. Dia bahkan langsung memberikan stik ps yang sedang dia mainkan kepada Alex, lalu segera menghampiri Putri.


"Hey, akhirnya kamu keluar juga," kata Reon.


"Hem, aku mau bicara," kata Putri.


"Bicara apa?" tanya Reon dengan hati berdebar.


Putri tersenyum, kemudian dia mengajak Reon untuk berbicara di ruang tamu. Karena di sana ada Alex dan juga Ansel yang pasti akan kepo.


Tiba di ruang tamu, Putri dan juga Reon langsung duduk saling berhadapan. Reon terlihat sangat gugup, berbeda dengan Putri yang nampak terlihat tenang.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Reon.


"Ehm, begini, Pak. Saya mau tanya, sebenarnya Bbagaimana perasaan Bapak terhadap saya? Lalu, apa niat dan tujuan Bapak mendekati saya?" tanya Putri.


***


Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2